Warkop Ekspektasi Bagian 9: Ruang yang Kian Sunyi
JatimUPdate.id - Ucapan Ayu Chen pada malam itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Bahar Khan.
"Mungkin... kita sama-sama sudah terlalu lelah."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, bahkan ketika ia kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Ia tetap bekerja, menghadiri beberapa pertemuan, dan sesekali menyempatkan diri mengunjungi Shoe Lee Khan.
Namun, pikirannya tidak pernah benar-benar lepas dari rumah yang kini terasa semakin sunyi.
Di sisi lain, Ayu Chen juga menjalani hari-harinya dengan cara yang sama. Ia tidak lagi memperdebatkan ke mana Bahar Khan pergi atau dengan siapa ia bertemu. Ia tidak lagi memeriksa telepon genggam ataupun mempertanyakan setiap kepulangannya yang sedikit terlambat.
Semua prasangka yang dahulu memenuhi pikirannya perlahan menghilang, ironisnya, bersamaan dengan itu, semangat untuk mempertahankan hubungan mereka juga ikut memudar.
Bahar Khan menyadari perubahan tersebut, dahulu ia berharap Ayu Chen berhenti mencurigainya.
Sayangnya ketika harapan itu terwujud, justru muncul kekhawatiran yang jauh lebih besar, Bahar Khan merasa perempuan yang dicintainya sedang menyerah, bukan kepada dirinya, melainkan kepada keadaan.
Beberapa hari kemudian, Bahar Khan mengajak Ayu Chen keluar bukan untuk membahas persoalan rumah tangga.
Pun untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang keliru, ia hanya ingin mengingat kembali hari-hari ketika mereka masih mampu tertawa tanpa dibebani berbagai persoalan.
Mereka berjalan menyusuri jalan yang dahulu sering mereka lewati sepulang bekerja, sesekali berhenti melihat pedagang kaki lima yang mulai memenuhi trotoar menjelang malam.
Setelah itu mereka menuju sebuah warung kopi sederhana, bukan Warkop Ekspektasi, tempat itu sengaja dipilih Bahar Khan agar tidak membangkitkan kenangan tentang peristiwa yang pernah melukai hati Ayu Chen.
Mereka duduk saling berhadapan, dua cangkir kopi tersaji di atas meja, aromanya masih sama seperti bertahun-tahun silam. Kendati begitu waktu telah mengubah banyak hal pada dua orang yang menikmatinya.
Bahar Khan memandang wajah Ayu Chen yang tampak lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.
"Kamu ingat waktu kita menikah?" tanyanya perlahan.
Ayu Chen mengangguk.
"Tentu," jawabannya singkat.
"Aku masih ingat, setelah semua tamu pulang, kita duduk berdua sambil minum teh. Waktu itu kita merasa hidup akan baik-baik saja, itu hari yang paling sederhana, tapi mungkin juga hari yang paling membahagiakan," Ayu Chen tersenyum tipis meskipun kemudian memudar, ia menundukkan pandangan.
"Bahar... ada sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan," kata Ayu Chen, sementara Bahar Khan tidak memotongnya.
"Aku sudah mencoba bertahan, tidak sekali atau dua kali, berkali-kali aku meyakinkan diriku semua akan kembali seperti dulu. Tapi setiap kali aku mencobanya, aku justru merasa semakin jauh dari diriku sendiri," tambah Ayu Chen, suaranya tenang.
Bahar Khan menatap cangkir kopinya, uap yang semula mengepul mulai menghilang.
"Aku tidak pernah berhenti berharap, aku juga tidak pernah berhenti mencintaimu, justru karena aku tahu itu, mengatakan semua ini menjadi jauh lebih sulit," beber Ayu Chen.
Ayu Chen memejamkan mata beberapa saat, sambil menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Kalau hubungan ini terus kita pertahankan hanya karena takut kehilangan, bukankah yang kita rawat bukan lagi kebahagiaan, melainkan penderitaan?" ucap Ayu Chen, wajahnya tampak begitu sedih, Bahar Khan merasakan ada sesuatu yang sedang bergejolak di hatinya.
Kendati begitu, Ayu Chen begitu berat untuk blak-blakan mengungkapkan semuanya di tempat ini
Bahar Khan cuma diam, tidak menjawab, bukan karena tidak memiliki jawaban. Namun karena ia memahami, ada pertanyaan yang memang tidak dapat dijawab dengan kata-kata.
Malam semakin larut, warung kopi mulai lengang, keduanya pulang bersama seperti biasa.
Sepanjang perjalanan tidak banyak percakapan, setibanya di rumah, Ayu Chen berhenti di depan pintu. Dengan suara yang hampir berbisik ia berkata,
"Aku tidak meminta jawaban malam ini. Beri aku waktu sedikit lagi. Aku ingin memastikan keputusan yang akan kuambil benar-benar lahir dari pikiranku yang paling jernih," urai Ayu Chen.
Bahar Khan menganggukkan kepala, ia tidak mencoba membujuk, juga tidak memohon agar Ayu Chen mengubah keputusannya. Sebab dari sudut pandangnya cinta tidak pernah tumbuh dari paksaan.
Namun malam itu, jauh di dalam hatinya, Bahar Khan mulai memahami waktu yang diminta Ayu Chen mungkin bukan untuk mencari jalan kembali, melainkan mengumpulkan keberanian mengucapkan perpisahan.
Editor : Redaksi