Surabaya, 6 Agustus 2026
Melampaui Tembok Kampus: Orkestra Kolaborasi dan Alkimia Apresiasi
Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua umum DPD Afebsi Jawa Timur, Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Kenangan itu mendadak hadir kembali, senyata aroma tanah basah setelah hujan. Di koridor Universitas Brawijaya belasan tahun silam, sebagai seorang aktivis mahasiswa, saya menempa diri dalam satu keyakinan: organisasi bukan sekadar wadah, melainkan sebuah kehormatan.
Bagi saya, bangga terhadap organisasi bukanlah tentang rasa memiliki yang posesif, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar, jatuh-bangun, dan memberikan sumbangsih terbaik.
Di sana saya belajar satu kebenaran fundamental; bahwa institusi yang hebat tidak pernah lahir dari tangan satu orang jenius, melainkan dari simfoni banyak orang yang saling menguatkan.
Refleksi inilah yang memenuhi batin saya sore ini.
Beberapa hari lalu, seorang kolega hebat di Fakultas Hukum dan Bisnis (FHB) ITB Yadika Pasuruan, Bapak Fahmi Abdullah, S.E., M.M., membawa kabar menggembirakan. Rekan-rekan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sidoarjo (UNUSIDA) menyatakan keinginan untuk berkunjung.
Agendanya konkret dan krusial: berbagi pengalaman mengenai kurikulum dan _Assurance of Learning (AoL)_—dua pilar utama bagi setiap fakultas yang tengah berjuang menjemput akreditasi Unggul dari LAMEMBA.
Sore tadi, rencana itu mewujud dalam pertemuan penuh kehangatan. Ibu Dr. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., " Dekan FEB UNUSIDA—rekan seperjuangan saya di Program Doktor Ilmu Manajemen Brawijaya angkatan 2019 sekaligus rekan di pengurus nasional AFEBSI—mengabarkan bahwa tim intinya baru saja usai berdiskusi mendalam dengan Pak Fahmi.
Di sana hadir tokoh-tokoh penggerak: Dr. Atik Widayati, Ayu Lucy Larassaty, M.M., Mustaqim, M.M., Ahmad Zaki, M.M., Dian Fahriani, M.S.A., dan Achmad Wicaksono, M.Ak.
Namun, di mata saya, kehadiran mereka bukan sekadar daftar nama dan gelar. Saya melihat sebuah pemandangan yang menggetarkan: para pimpinan tinggi yang tak sungkan melangkah jauh untuk belajar. Inilah wajah pendidikan tinggi yang sesungguhnya—wajah yang menanggalkan ego, yang mengakui bahwa di atas langit masih ada langit, dan bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah milik mereka yang tetap rendah hati untuk merasa tidak tahu.
Sebagai Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan, dada saya dipenuhi rasa bangga. Namun, kebanggaan ini bukan karena merasa lebih hebat, melainkan karena menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan mampu menjadi jembatan yang meruntuhkan sekat ego antar-kampus.
Seketika itu juga, saya langsung menghubungi Pak Fahmi Abdullah untuk menyampaikan apresiasi. Jawaban beliau singkat dan bersahaja, namun maknanya bergetar lama: _"Sama-sama, Pak Dekan."_
Peristiwa ini adalah pengingat keras bagi setiap pemimpin: tugas terbesar kita bukanlah sekadar memerintah, melainkan memberikan Apresiasi kepada mereka yang bekerja dengan tulus. Apresiasi adalah pengakuan bahwa setiap keringat dan gagasan anggota tim memiliki arti bagi sejarah organisasi. Ketika pemimpin ringan dalam memberi apresiasi, ia sebenarnya sedang menyemai benih loyalitas dan menyalakan api pengabdian.
Dalam kacamata akademik, apa yang terjadi hari ini adalah manifestasi hidup dari _Social Capital Theory_ yang digagas Robert D. Putnam. Sebuah organisasi akan melesat jika ia memiliki modal sosial berupa kepercayaan (trust), jejaring (network), dan semangat saling membantu (reciprocity). Kita melihat teori itu bernapas hari ini melalui peran AFEBSI sebagai perekat. Kampus yang menutup diri akan berjalan sunyi, namun kampus yang membuka pintu kolaborasi akan menemukan kecepatan baru.
Atas nama keluarga besar FHB ITB Yadika Pasuruan, saya haturkan hormat kepada Ibu Dr. Muhafidhah Novie beserta seluruh jajaran FEB UNUSIDA. Terima kasih atas kepercayaannya. Apresiasi setinggi-tingginya juga untuk Pak Fahmi Abdullah atas ketulusannya berbagi. Saya berharap silaturahmi ini segera mengkristal dalam bentuk yang lebih nyata—melalui Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA).
Pada akhirnya, membangun fakultas bukan sekadar menyusun tumpukan dokumen akreditasi. Hal terpenting adalah membangun ekosistem manusia yang saling menghargai. Reputasi sebuah institusi tidak dipahat di atas nisan dokumen mati, melainkan di dalam hati manusia-manusia yang dengan rendah hati mau belajar, tulus berbagi, dan ikhlas menguatkan. Sebab di dunia pendidikan, kita tidak sedang berlomba menjadi yang terhebat, kita sedang bekerja sama untuk mencerdaskan bangsa.
Editor : Redaksi