Tiga Serangkai di Dinding Universitas Pertahanan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Foto Tiga Serangkai dipasang di dinding Universitas Pertahanan RI. (Foto Arvindo Noviar for JatimUPdate.id)
Foto Tiga Serangkai dipasang di dinding Universitas Pertahanan RI. (Foto Arvindo Noviar for JatimUPdate.id)

 

Oleh Arvindo Noviar

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Pagi ini saya berdiri di sebuah ruangan dengan tiga wajah terpajang besar di dindingnya. Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat.

Tiga pasang mata dari masa lalu itu membuat saya berhenti. Sekelebat kemudian, ingatan saya dibetot lebih dari seratus tahun ke belakang, menuju zaman saat Indonesia masih berupa cita-cita yang mahal harganya. Orang dapat kehilangan pekerjaan, kebebasan, tanah kelahiran, bahkan seluruh masa depannya hanya karena berani membayangkan negeri ini kelak berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam tujuh purnama, roh pergerakan yang dibidani Douwes Dekker (DD) melalui Indische Partij, partai politik pertama yang lahir di negeri ini, dipaksa tutup usia oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda masa itu, A.W.F. Idenburg. Umurnya pendek. Terlampau pendek untuk ukuran sebuah partai politik. Namun tujuh purnama rupanya cukup untuk membuat pemerintah kolonial merasa terancam.

Mengusung gagasan-gagasan yang berseberangan dengan kepentingan pemerintah Hindia Belanda, Indische Partij tumbuh menjadi kekuatan progresif yang menakutkan di tengah mandulnya peran Boedi Oetomo kala itu.

Lewat puluhan rapat umum selama delapan bulan, dari Batavia, Bandung, Purworejo, Yogyakarta, Solo, Kendal, Kudus, Surabaya, hingga kota-kota lainnya, DD membawa gagasan nasionalisme Hindia dari satu mimbar ke mimbar berikutnya. Ia menawarkan sesuatu yang pada zamannya terdengar nyaris terlarang untuk dibayangkan, bahwa masyarakat Hindia berhak hidup merdeka dan menentukan nasibnya sendiri.

Dalam sebuah forum pada 12 Desember 1911, DD berbicara berapi-api mengenai pentingnya persatuan nasional. “Di dalam perjuangan politik, hendaklah kita gigih memegang teguh apa yang telah kita peroleh. Sambil mengulurkan tangan untuk merebut segala hak kita, yang belum kita miliki,” katanya lantang. Di bawah pemerintahan kolonial, kalimat semacam itu mempunyai harga. Persatuan yang dibicarakan DD membawa kemungkinan lahirnya sebuah kesadaran baru, bahwa orang-orang yang diperintah dapat membayangkan kehidupan tanpa orang-orang yang memerintah mereka.

Satu tahun kemudian, pada 25 Desember 1912, dalam rapat pembentukan Indische Partij di Bandung, DD terpilih menjadi ketua dan Tjipto menjadi wakil ketua. Pada hari yang sama, Soewardi juga terpilih menjadi Ketua SI Cabang Bandung pada Kongres I SI di Bandung. Sejarah kemudian mengenang Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat sebagai Tiga Serangkai. Tiga orang dengan watak dan jalan pikiran masing-masing yang dipertemukan oleh kegelisahan serupa terhadap kolonialisme.

Setelah Indische Partij dicap sebagai organisasi terlarang dan dibekukan pemerintah Hindia Belanda, perjuangan mereka mencari jalannya sendiri.

Bersama Komite Bumiputera, Tiga Serangkai membawa perlawanan menuju medan yang sukar dipagari kekuasaan. Mereka menulis. Pers menjadi tempat gagasan bergerak melampaui gedung pertemuan, melintasi kota, memasuki rumah-rumah, lalu berdiam di kepala manusia.

Pada 26 Juli 1913, Tjipto menulis artikel berjudul “Kekuatan atau Ketakutan?” yang diterbitkan De Expres. Di sana ia menulis sebuah kalimat provokatif yang memerahkan telinga pemerintah Hindia Belanda, “Satu untuk Semua. Semua untuk Satu. Saudara-Saudara, lepaskanlah dirimu dari perbudakan.”

Harganya mahal. Tiga Serangkai akhirnya diasingkan ke Eropa sebagai eksil.

Kekuasaan kolonial dapat membubarkan organisasi, menutup surat kabar, merampas kebebasan, dan mengusir manusia dari tanah kelahirannya. Namun sebuah gagasan yang telanjur berjalan dari kepala ke kepala mempunyai perangainya sendiri. Ia dapat kehilangan rumah, kehilangan mimbar, bahkan kehilangan orang yang mula-mula mengucapkannya, lalu terus hidup dalam ingatan manusia.

Lebih dari satu abad kemudian, pagi ini saya berjumpa lagi dengan ketiganya.

Douwes Dekker berada di sebelah kiri. Tjipto di tengah. Soewardi di sebelah kanan. Mereka kini tergantung terhormat di dinding Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Saya memandang ketiga wajah itu dan menemukan ironi sejarah yang indah.

Dahulu mereka dianggap berbahaya karena membayangkan sebuah negeri merdeka. Hari ini wajah mereka berada di sebuah universitas yang mendidik manusia untuk memikirkan cara menjaga negeri yang dahulu hanya sanggup mereka bayangkan.

Barangkali itulah kemenangan paling panjang dari sebuah perjuangan. Para penguasa yang menghukum mereka telah lama menjadi masa lalu. Hindia Belanda pun tinggal nama dalam buku sejarah. Sementara gagasan yang dahulu membuat mereka diburu telah menjelma menjadi sebuah republik.

Dari Tiga Serangkai itu kita belajar bahwa menjadi pejuang politik membutuhkan mental vokasional. Ada masa saat keyakinan meminta bayaran berupa kenyamanan. Ada masa saat perjuangan membawa manusia berhadapan dengan kekuasaan, kehilangan, pengasingan, dan rasa perih. Mereka telah melewati semuanya.

Pagi ini saya berdiri di hadapan tiga wajah yang telah menempuh perjalanan lebih dari seratus tahun untuk sampai ke dinding ini. Saya memandang mereka sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan.

Bagi seorang pendekar, takluk pada rasa perih adalah aib besar.

Jalan yang akan kita lalui mungkin terjal, curam, dan penuh jebakan. Jangan menyerah