Revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark Berakhir, Bondowoso Tekankan Konservasi dan Kesejahteraan Masyarakat

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i bersama evaluator UNESCO pada penutupan revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark 2026 di Bondowoso, Kamis (6/8/2026)
Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i bersama evaluator UNESCO pada penutupan revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark 2026 di Bondowoso, Kamis (6/8/2026)

Bondowoso, JatimUpdate.id, – Proses revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark (UGGp) resmi berakhir setelah berlangsung selama lima hari, 2–6 Agustus 2026, di wilayah Banyuwangi dan Bondowoso.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso menilai proses revalidasi tersebut tidak semata-mata menjadi agenda untuk mempertahankan status UNESCO Global Geopark. Lebih dari itu, revalidasi dinilai sebagai momentum untuk memperkuat pengelolaan kawasan dengan menyeimbangkan kepentingan konservasi, pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i dalam Closing Meeting dan Farewell Party Revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark 2026 yang dihadiri dua evaluator UNESCO, Andreas Josef Schueller dan Li Yue, di Bondowoso, Kamis (6/8/2026) malam.

As'ad mengatakan, proses evaluasi yang dilakukan UNESCO harus dimaknai sebagai kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melihat kembali penerapan prinsip-prinsip geopark di lapangan.

"Revalidasi ini bukan hanya proses penilaian. Ini adalah kesempatan untuk belajar, berbenah, dan memastikan kawasan Geopark benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap lestari," ujar As'ad.

Menurutnya, Pemkab Bondowoso berkomitmen menjalankan tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Ketiga pilar tersebut, kata dia, tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pengelolaan kawasan Ijen harus mampu menjaga kekayaan geologi dan alam sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Potensi Ijen Tak Sekadar untuk Pariwisata

As'ad menyebut Bondowoso memiliki modal besar dalam pengembangan konsep geopark. Wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan Gunung Ijen Purba yang memiliki 22 anak gunung dengan kekayaan geologi dan bentang alam yang bernilai tinggi.

Namun, potensi tersebut menurutnya tidak boleh hanya dipandang sebagai objek wisata.

"Kawasan geopark harus menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan konservasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat," katanya.

Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam di kawasan Ijen tetap dapat dilakukan untuk mendukung kehidupan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis geopark yang terus didorong adalah sektor kopi.

Bondowoso memiliki dua komoditas kopi berstatus Indikasi Geografis, yakni Kopi Arabika Java Ijen Raung dan Kopi Arabika Hyang Argopuro.

Kedua komoditas tersebut tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat di kawasan pegunungan.

"Potensi ekonomi lokal harus terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan manfaat geopark bagi masyarakat," jelas As'ad.

Nilai Geopark Mulai Diperkuat melalui Pendidikan

Selain sektor ekonomi dan pariwisata, Pemkab Bondowoso juga mendorong penguatan aspek edukasi.

Nilai-nilai mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, hingga budaya kawasan Ijen mulai dikenalkan melalui pembelajaran dan muatan lokal di sekolah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan alam dan budaya yang dimiliki daerah.

Dengan demikian, keberadaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak hanya dipahami sebagai label kawasan wisata, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan pembentukan kesadaran lingkungan sejak dini.

Keberhasilan Geopark Tak Hanya Diukur dari Wisatawan

As'ad mengakui keberadaan Ijen UNESCO Global Geopark telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan daerah. Meningkatnya aktivitas pariwisata turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Namun, menurutnya, keberhasilan geopark tidak boleh hanya diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan.

Indikator yang tidak kalah penting adalah sejauh mana kelestarian lingkungan tetap terjaga dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

"Keberhasilan geopark bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga bagaimana lingkungan tetap terjaga dan masyarakat memperoleh manfaat dari keberadaan geopark," ujarnya.

Hasil Revalidasi Tinggal Menunggu Keputusan UNESCO

Pada akhir rangkaian revalidasi, As'ad menyampaikan apresiasi kepada tim evaluator UNESCO, Andreas Josef Schueller dan Li Yue, yang telah melakukan penilaian selama 2–6 Agustus 2026.

Ia berharap seluruh catatan, masukan, dan rekomendasi dari proses evaluasi tersebut dapat menjadi bahan pembenahan bagi pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan.

"Kami berharap Ijen kembali mempertahankan status UNESCO Global Geopark. Namun yang lebih penting, semangat kolaborasi ini harus terus hidup agar kawasan ini mampu menjaga warisan alam dunia sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," tegasnya.

Kini, hasil akhir revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark tinggal menunggu keputusan UNESCO.

Apapun hasilnya nanti, Pemkab Bondowoso memastikan pengelolaan kawasan Ijen akan terus diperkuat dengan menempatkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.

Revalidasi pun diharapkan tidak berhenti sebagai proses administratif untuk mempertahankan status, tetapi menjadi titik penguatan komitmen bersama dalam menjaga warisan geologi, alam, budaya, sekaligus mengembangkan ekonomi masyarakat di kawasan Ijen. (ries/yh)