Membangun Kapasitas Masyarakat Desa untuk Keberlanjutan Akses Air Bersih di Sumba Barat Daya  

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy

Sumba Barat Daya, JatimUPdate.id,  7 Agustus 2026 — Menghadirkan akses air bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat di Daerah Tertinggal masih menjadi tantangan besar yang menuntut kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Penanganan krisis air dinilai tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik, tetapi juga harus memastikan sistem tersebut tetap berfungsi untuk generasi mendatang melalui penguatan kapasitas masyarakat.

Berdasarkan keyakinan itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) bersama Solar Chapter dan Wahana Visi Indonesia menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas pengelolaan air berkelanjutan bertajuk "Solar Champions: Water Committee". Kegiatan ini berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 di Desa Kalena Wano, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal Kemendesa PDT, Teguh Hadi Sulistiono, menyampaikan pentingnya komitmen masyarakat setempat dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun.
"Air itu berkat Tuhan, tetapi air harus kita jaga. Dan ini bergantung pada kuatnya komite air, keberfungsian sistem yang ada, serta bagaimana kita bisa meningkatkan pemanfaatan air," tegas Teguh.

Lembaga Pengelola yang Tidak Aktif Jadi Salah Satu Alasan Krisis Air Desa
Kesiapan lembaga pengelola di tingkat desa memegang peranan penting agar sarana air dapat berjalan secara berkelanjutan. Masalah kelembagaan ini menjadi isu krusial karena banyak sarana air bersih di desa tidak lagi beroperasi akibat ketiadaan pengelola yang aktif.

Head of Program Solar Chapter, Sonya Teresa Debora, mengungkapkan bahwa berhentinya fungsi fasilitas air perdesaan sebagian besar dipicu oleh faktor kelembagaan.

"Dari data yang dimiliki Solar Chapter di Mengalir.co, ada sekitar 170-an desa yang tidak beroperasi airnya. Dari desa-desa itu, kita telisik lebih jauh dan ketahui bahwa 73 persen lembaganya berhenti beroperasi. Maka dari itu, kita bisa belajar bahwa komite air dan perannya menjadi sentral dalam keberlanjutan sistem air," jelas Sonya.

Koordinator Program Wahana Visi Indonesia, Yohannes Tanaboleng, menambahkan bahwa ketersediaan infrastruktur fisik tidak otomatis menjamin fungsi jangka panjang. Keberlanjutannya sangat bergantung pada peran seluruh pihak dalam sistem, termasuk komitmen dan kesiapan para peserta pelatihan dalam mengoperasikannya.
  
Solar Champions Siapkan Pemuda Desa sebagai Penggerak Sistem Air Bersih
Merespons tantangan kelembagaan tersebut, program inisiasi Solar Chapter “Solar Champions” hadir sebagai ruang peningkatan kapasitas masyarakat. Program ini berfokus pada pemberdayaan pemuda desa dan profesional muda NTT di bidang akses air bersih serta penerapan teknologi energi terbarukan.

Telah berjalan sejak tahun 2025, pelaksanaan Solar Champions tahun ini digelar secara kolaboratif dengan melibatkan tiga pihak sekaligus (Kemendesa PDT, Solar Chapter, dan Wahana Visi Indonesia) untuk memperluas jangkauan serta dampak pemberdayaan.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pemahaman menyeluruh tentang sistem air bersih desa, mulai dari perlindungan sumber mata air, pengoperasian pompa air tenaga surya, hingga pemeliharaan dan tata kelola yang berkelanjutan. Selain kemampuan teknis, peserta dibekali keterampilan kepemimpinan komunitas, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor agar mampu menjadi bagian dari solusi jangka panjang bagi desanya.

Rangkaian Pelatihan dan Evaluasi Pemahanan
Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari perempuan dan laki-laki berusia 20–60 tahun dari 14 desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Pelatihan berlangsung secara intensif dengan memadukan sesi teori di kelas dan praktik langsung di lapangan agar pemahaman peserta lebih mendalam. 
Materi pelatihan berfokus pada pengelolaan sumber mata air, sistem pompa air tenaga surya, peluang bisnis setelah air tersedia, dan tata kelola sistem air. Materi disampaikan oleh tiga mentor: Emmanuel Danga (Dinas Pekerjaan Umum Sumba Barat Daya), Ferdi Jermias (PERUMDA Kota Kupang), dan Ayang Penlaana (WASH Engineer Specialist). 
 
Selama pelatihan, peserta dilibatkan secara aktif dalam sesi tanya jawab serta diskusi kelompok berbasis desa asal untuk merumuskan solusi atas studi kasus dan mengidentifikasi potensi sistem air bersih di wilayah masing-masing. Pada hari terakhir, peserta mengikuti ujian evaluasi pemahaman serta menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) dan Komitmen Bersama agar implementasi hasil pelatihan dapat terus dipantau penerapannya di desa masing-masing.

Dukungan Pemda dan Penandatanganan Komitmen Bersama
    Pada sesi penutupan kegiatan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumba Barat Daya, Benyamin Kabba, S.E., menyampaikan apresiasi sekaligus imbauan mendalam kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat untuk merawat sarana yang ada.

“Air bersih adalah kebutuhan kita semua, sehingga kita harus jaga! Kita harus jaga hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Sarana air bersih yang sudah terbangun, baik oleh pemerintah maupun oleh teman-teman WVI dan Solar Chapter, baiknya kita jaga dengan sungguh-sungguh agar panjang manfaatnya untuk anak cucu kita,” ujar Benyamin.

Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan prosesi penandatanganan Dokumen Komitmen Bersama antara Kemendesa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Pemkab Sumba Barat Daya, Solar Chapter, Wahana Visi Indonesia, perwakilan Kepala Desa serta perwakilan komite air dari 14 desa. Penandatanganan ini menjadi simbol kesepakatan dan penguat sinergi lintas pihak untuk mengawal keberlanjutan fungsi serta tata kelola sarana air bersih di wilayah Sumba Barat Daya.

Investasi Sumber Daya Manusia Untuk Swasembada Air Desa
Keberhasilan program air bersih pada akhirnya tidak diukur hanya dari terpasangnya jaringan pipa atau berfungsinya mesin pompa, melainkan juga dari kemampuan masyarakat mengelola, merawat, dan mengembangkan sistem tersebut secara mandiri. Oleh karena itu, investasi pada pengembangan kapasitas masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mewujudkan akses air bersih berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.

Melalui sinergi antara Kemendesa dan Pembangunan Daerah Teringgal, Solar Chapter dan Wahana Visi Indonesia, upaya ini diharapkan terus mendorong lahirnya lembaga pengelola sistem air di desa yang terampil, andal dan siap menjadi penggerak perubahan bagi desanya. Kehadiran penggarak ini menjadi fondasi utama dalam mendukung masa depan swasembada air desa di Indonesia. (*)