Kebijakan Prabowo Disebut Dongkrak Nilai PT Timah hingga 280 Persen, Laba Semester I 2026 Melonjak 900 Persen

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Pergerakan grafik saham PT Timah. Tbk
Pergerakan grafik saham PT Timah. Tbk

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menertibkan aktivitas pertambangan ilegal dan menutup jalur penyelundupan timah disebut berdampak signifikan terhadap kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Dalam narasi yang beredar, valuasi PT Timah disebut meningkat dari sekitar Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi Rp28,75 triliun pada Agustus 2026.

Angka tersebut diklaim mencerminkan kenaikan sekitar 280 persen dalam kurun waktu satu tahun.

Kinerja keuangan perseroan juga disebut mengalami peningkatan tajam. Pada Semester I 2025, PT Timah mencatat pendapatan sekitar Rp4,22 triliun dengan laba bersih Rp300 miliar.

Sementara pada Semester I 2026, pendapatan disebut melonjak menjadi Rp10,42 triliun atau meningkat sekitar 147 persen. Adapun laba bersih diklaim mencapai Rp2,71 triliun, atau naik sekitar 900 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan valuasi perusahaan pada dasarnya tercermin dari pergerakan harga saham. Secara sederhana, kapitalisasi pasar dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.

Ketika pasar menilai prospek perusahaan membaik, harga saham dapat meningkat sehingga nilai kapitalisasi pasar ikut terdongkrak.
 
Penertiban Tambang Ilegal

Salah satu faktor yang dikaitkan dengan perubahan kinerja PT Timah adalah upaya pemerintah menertibkan aktivitas pertambangan ilegal serta memberantas praktik penyelundupan komoditas timah.

Selama bertahun-tahun, aktivitas pertambangan ilegal dan perdagangan timah melalui jalur tidak resmi menjadi persoalan yang berdampak terhadap tata kelola serta penerimaan negara dari sektor pertambangan.

Kebijakan penertiban tersebut dinilai dapat mendorong komoditas timah kembali masuk ke jalur perdagangan resmi. Dengan demikian, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan produksi dan penjualan sesuai mekanisme yang berlaku.

Penunjukan Direktur Utama

Di tengah upaya pembenahan tersebut, penunjukan purnawirawan TNI Restu Widiyantoro sebagai Direktur Utama PT Timah sebelumnya sempat menuai sorotan.

Latar belakang militer Restu menjadi salah satu alasan munculnya pertanyaan mengenai kompetensinya dalam memimpin perusahaan pertambangan dan BUMN.

Namun, klaim mengenai peningkatan kinerja PT Timah kemudian digunakan sebagai argumen bahwa pembenahan tata kelola, pengawasan terhadap sumber daya, serta penutupan kebocoran dapat memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan.

Meski demikian, peningkatan laba dan valuasi perusahaan tidak serta-merta hanya dapat dikaitkan dengan satu faktor. Kinerja PT Timah juga dipengaruhi harga timah dunia, volume produksi, penjualan, biaya operasional, kebijakan pertambangan, serta kondisi pasar modal.

Jika tren peningkatan kinerja dapat dipertahankan, penguatan nilai PT Timah dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam melalui perusahaan negara.

Hal tersebut sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan penguasaan sumber daya alam oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.(ih/yh)