Mengapa Pemuda Harus Mengambil Alih Arah Politik Bersama Partai Gelora
Oleh: Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo
Probolinggo, JatimUPdate.id - Keresahan anak muda terhadap panggung politik nasional dewasa ini bukanlah tanpa alasan. Di tengah lalu lintas informasi yang begitu cepat, generasi muda menyaksikan bagaimana panggung politik kerap direduksi menjadi sebatas arena perebutan kekuasaan pragmatis.
Hasrat untuk menghadirkan perubahan substansial sering kali kandas oleh tembok kepentingan jangka pendek yang mengabaikan nilai-nilai idealisme.
Secara historis, pemuda selalu menjadi tulang punggung perubahan di setiap perempatan sejarah bangsa.
Dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928 hingga Reformasi 1998, denyut nadi kemajuan senantiasa digerakkan oleh keberanian pemuda. Namun, situasi hari ini menyuguhkan ironi ketika banyak potensi muda justru terjebak dalam apatisme akibat kejenuhan melihat komodifikasi suara rakyat.
Pragmatisme politik yang menjangkiti sebagian besar partai yang ada telah menciptakan jarak psikologis antara pemuda dan cita-cita kebangsaan.
Politik tidak lagi dipersepsikan sebagai ruang pengabdian moral, melainkan sebagai instrumen transaksi ekonomi dan patronase.
Dampaknya, gagasan besar tentang masa depan bangsa sering kali tenggelam dalam riuk-pikuk kepentingan elektoral sesaat.
Kondisi inilah yang melahirkan krisis kepercayaan diri kolektif di kalangan generasi muda. Ketika politik dibiarkan berjalan tanpa arah nilai, kebijakan publik yang dihasilkan pun kehilangan ruh peradaban.
Pemuda yang sejatinya memiliki energi besar untuk berpikir kritis dan bertindak transformatif akhirnya memilih berdiri di luar gelanggang sebagai penonton yang skeptis.
Di tengah situasi stagnasi ideologis tersebut, Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Partai Gelora) hadir membawa penawaran yang mendasar.
Partai Gelora tidak didirikan sekadar untuk menambah deretan angka pada kertas suara atau meramaikan bursa kontestasi politik rutin lima tahunan. Kehadiran Gelora adalah sebuah ikhtiar intelektual dan politik untuk membongkar kebekuan narasi politik nasional.
Partai Gelora menyadari betul bahwa mengobati krisis kepercayaan kaum muda tidak bisa dilakukan dengan janji-janji manis elektoral.
Pendekatan yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma (paradigm shift) dari politik pragmatis menuju politik peradaban. Politik peradaban menempatkan ide, gagasan, dan visi jangka panjang sebagai panglima dalam setiap keputusan politik.
Visi besar ini menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai penonton dalam percaturan global, melainkan sebagai salah satu kekuatan utama peradaban dunia. Narasi ini melampaui sekat-sekat pembelahan politik lokal yang selama ini menyedot energi bangsa dalam konflik sektarian yang tidak produktif. Bagi kaum muda, narasi peradaban memberikan cakrawala berpikir yang luas dan relevan dengan tantangan zaman.
Pemuda dalam pandangan Partai Gelora bukanlah objek penderita atau sekadar "pendulang suara" (vote gatherer) jelang pemilu. Pemuda adalah subjek utama pembawa perubahan yang harus diberi ruang artikulasi gagasan secara utuh.
Partai Gelora membuka pintu seluas-luasnya bagi ide-ide segar anak muda untuk diuji dan diintegrasikan ke dalam kebijakan strategis partai.
Di daerah, seperti Kabupaten Probolinggo, potensi anak muda sangat luar biasa, baik di sektor ekonomi kreatif, literasi, hingga gerakan sosial kemasyarakatan.
Namun, tanpa adanya saluran politik yang sehat, energi besar ini berisiko terbuang sia-sia atau terkooptasi oleh kepentingan pragmatis. Gelora hadir di tingkat tapak untuk menjembatani potensi lokal tersebut menuju skala pengaruh yang lebih luas.
Melalui pendekatan literasi politik yang konstruktif, Partai Gelora berupaya mentransformasi keresahan pemuda menjadi energi produktif.
Pendidikan politik di tubuh Gelora tidak mengajarkan cara meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, melainkan mendidik kader untuk memahami tanggung jawab sejarah, kedalaman ilmu pengetahuan, dan keluhuran etika kepemimpinan.
Sinergi antara imajinasi kreatif anak muda dan pengalaman para senior di Partai Gelora menciptakan ekosistem politik yang dinamis.
Di ruang ini, perdebatan gagasan dirayakan, kearifan lokal dihormati, dan inovasi teknologi dimaksimalkan untuk memecahkan persoalan riil masyarakat. Inilah bentuk konkret dari politik peradaban yang ditawarkan kepada publik.
Kita tidak boleh membiarkan politik tanah air terus-menerus disetir oleh politik uang dan polarisasi identitas yang merusak sendi-sendi kebangsaan.
Pilihan untuk tetap diam atau sekadar menjadi kritikus di media sosial tidak akan mengubah keadaan secara struktural. Anak muda harus berani masuk dan mewarnai gelanggang dengan idealisme yang terjaga.
Partai Gelora menyediakan wadah bagi siapa saja yang merindukan politik yang bermartabat, berilmu, dan berorientasi masa depan.
Kami meyakini bahwa ketika anak muda yang cerdas dan berintegritas diberi kepercayaan memegang kendali, arah perjalanan bangsa ini akan berubah menjadi jauh lebih optimis dan berwibawa.
Perjalanan membangun peradaban memang bukanlah jalan tol yang lurus dan mudah. Ia membutuhkan ketahanan mental, konsistensi gagasan, dan keberanian untuk melawan arus pragmatisme yang sudah mengakar.
Namun, dengan semangat kolaborasi dan keyakinan akan masa depan Indonesia yang lebih baik, ikhtiar ini adalah sesuatu yang mutlak untuk diperjuangkan.
Partai Gelora adalah jawaban atas keresahan itu—sebuah rumah bersama bagi pemuda untuk merajut kembali cita-cita Indonesia menjadi kekuatan utama dunia. Saatnya kaum muda mengambil peran sejarahnya hari ini, melangkah bersama Gelora, dan mengukir tinta emas perjalanan peradaban baru bagi Republik Indonesia.
Editor : Redaksi