catatan tangan kanan wiedmust-170826
Panjat Pinang, Merdeka, dan Mendadak Jadi Soal Fikih
Oleh widodo, p.hd.,
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id - Hari ini, 17 Agustus 2026, Indonesia genap memperingati 81 tahun kemerdekaan. Seperti biasa, selain upacara, ada satu tradisi yang hampir selalu muncul di kampung-kampung: lomba.
Ada panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, lari kelereng, memasukkan pensil ke botol, sampai lomba mencari uang dengan mata tertutup. Pokoknya, kreativitas warga kalau sudah urusan Agustusan kadang lebih cepat daripada kreativitas pemerintah membuat spanduk.
Yang paling fenomenal tentu panjat pinang.
Batang pinang berdiri tegak, hadiah digantung di atas, kemudian batangnya dilumuri pelicin. Dulu konon tepung kanji, sekarang bisa macam-macam, yang penting licin. Peserta naik, terpeleset, turun lagi. Naik lagi, jatuh lagi. Yang menonton tertawa. Yang di atas mulai bertanya dalam hati: “Ini sebenarnya lomba atau ujian kehidupan?”
Menariknya, tidak ada catatan sejarah yang benar-benar memastikan siapa penemu panjat pinang dan kapan tepatnya lomba ini pertama kali dilakukan. Yang jelas, permainan memanjat tiang sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka dan kemudian berkembang di Hindia Belanda.
Namun setelah Indonesia merdeka, maknanya berubah.
Kalau dahulu bisa menjadi hiburan pada masa kolonial, sekarang panjat pinang menjadi permainan rakyat. Bahkan filosofi sederhananya cukup dalam: yang kuat menopang, yang lincah memanjat, yang di atas mengambil hadiah, lalu hasilnya dibagi bersama.
Itulah gotong royong dalam bentuk yang agak licin.
Tetapi belakangan muncul fenomena menarik. Tradisi lomba 17 Agustus mulai dikaji dari perspektif agama. Ada yang mempertanyakan unsur mempermalukan peserta, risiko cedera, bahkan kemungkinan mengandung perjudian apabila peserta membayar sejumlah uang untuk mendapatkan hadiah.
Kajian seperti ini tentu boleh. Bahkan bagus. Tradisi masyarakat memang tidak kebal dari kritik.
Tetapi jangan pula setiap tradisi langsung divonis haram hanya karena “Rasulullah tidak pernah melakukannya.”
Memang benar, Rasulullah Muhammad ﷺ tidak pernah mengadakan lomba panjat pinang.
Ya jelas.
Beliau hidup sekitar 14 abad lalu di Jazirah Arab. Indonesia saja belum ada. Batang pinangnya mungkin belum pernah beliau lihat. Begitu pula beliau tidak pernah naik motor, menonton televisi, menggunakan telepon genggam atau mengikuti lomba balap karung.
Kalau semua yang tidak pernah dilakukan Rasulullah otomatis haram, kita mungkin perlu membuat daftar panjang sekali. Sampai lomba makan kerupuk pun harus menunggu fatwa.
Dalam urusan kebiasaan dan permainan masyarakat, yang lebih penting adalah substansinya.
Kalau lomba memakai taruhan uang peserta dan hadiah berasal dari uang yang dipertaruhkan, itu memang persoalan lain dan patut dihindari.
Kalau peserta sengaja dipermalukan, dicelakakan atau dipaksa, tentu juga tidak baik.
Kalau panjat pinang dibuat tanpa memperhatikan keselamatan sampai orang jatuh dan cedera, ya itu bukan lagi hiburan. Itu namanya panitia sedang mencari masalah.
Tetapi kalau warga mengumpulkan dana secara sukarela untuk membeli hadiah, tidak ada taruhan, peserta ikut dengan senang hati, keselamatan diperhatikan dan tidak ada penghinaan, lalu diadakan sebagai permainan untuk memeriahkan kemerdekaan, apakah otomatis menjadi judi?
Tentu persoalannya tidak sesederhana itu.
Kita juga perlu membedakan agama dengan budaya.
Islam tidak mengharuskan umatnya menghapus seluruh tradisi lokal. Selama tidak bertentangan dengan prinsip agama, banyak tradisi masyarakat bisa berjalan berdampingan dengan kehidupan keagamaan.
Indonesia memang bukan Arab.
Kita punya kenduri, gotong royong, tumpengan, ronda, kerja bakti, sampai lomba memasukkan pensil ke botol. Semuanya lahir dari perjalanan sosial masyarakat kita.
Yang penting jangan ada perjudian, penghinaan, kesengajaan mencelakakan orang, atau perilaku yang memang bertentangan dengan ajaran agama.
Jadi, kalau hari ini anak-anak kampung berlari membawa kelereng di atas sendok, bapak-bapak masuk karung sambil salto tidak sengaja, ibu-ibu berebut hadiah, dan sekelompok pemuda berusaha mencapai puncak pinang, tidak perlu buru-buru melihat semuanya sebagai persoalan akidah.
Lihat juga sebagai tradisi sosial yang mempertemukan tetangga.
Di zaman ketika orang lebih sering bertetangga lewat grup WhatsApp daripada duduk di teras, lomba 17 Agustus justru membuat orang keluar rumah, tertawa bersama dan saling mengenal.
Mungkin itulah kemerdekaan dalam bentuk paling sederhana.
Bukan siapa yang paling tinggi memanjat, tetapi siapa yang mau saling menopang.
Dan kalau akhirnya hadiah berhasil diambil?
Syukurlah.
Kalau gagal?
Tidak apa-apa.
Minimal sudah membuktikan satu hal: hidup memang licin, tetapi kalau bersama-sama, kita masih bisa sampai puncak.
Selamat HUT ke-81 Republik Indonesia.
Merdeka!
Editor : Redaksi