Banyumas Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi, Pengelolaan Capai 77 Persen
Banyumas, JatimUPdate.id, — Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memilih tidak berhenti pada pencapaian penghargaan dalam pengelolaan sampah. Pemerintah daerah kini mendorong sampah menjadi bagian dari sumber ekonomi melalui konsep zero waste to money.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, berbagai penghargaan yang diraih daerah tersebut justru menjadi pemacu untuk terus menyempurnakan sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi kami untuk terus memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan manfaat ekonominya,” kata Sadewo seusai Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-alun Purwokerto, Senin (17/8/2026).
Menurut Sadewo, Pemkab Banyumas saat ini lebih memilih mematangkan konsep zero waste to money dibandingkan memaksakan skema zero waste to energy, yakni mengubah sampah menjadi energi.
Pilihan tersebut diambil setelah pemerintah daerah menghitung kebutuhan dan biaya operasional secara menyeluruh.
Tak Cukup untuk Zero Waste to Energy
Sadewo menjelaskan, pengembangan konsep zero waste to energy membutuhkan pasokan sampah sedikitnya 1.000 ton per hari.
Sementara itu, produksi sampah di Banyumas saat ini sekitar 750 ton per hari. Kondisi tersebut membuat pasokan bahan baku belum mencukupi untuk menjalankan sistem tersebut secara optimal.
Selain persoalan pasokan, biaya tipping fee yang tinggi juga menjadi pertimbangan pemerintah daerah.
Daripada membebani APBD dengan biaya operasional yang besar, Pemkab Banyumas memilih mengembangkan sistem pengolahan sampah yang menghasilkan produk bernilai ekonomi.
“Jadi kami menghitung mana yang lebih rasional dan memberikan manfaat bagi daerah,” ujar Sadewo.
Melalui pendekatan tersebut, biaya operasional pengolahan sampah yang berada di bawah Rp10 miliar ditargetkan dapat menghasilkan pendapatan hingga sekitar Rp2 miliar.
Ke depan, pemerintah daerah berharap pendapatan dari penjualan bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF) dan biomassa dapat semakin besar.
Bahkan, hasil penjualan tersebut diproyeksikan mampu menutup seluruh biaya operasional pengelolaan sampah secara mandiri.
Pengolahan Sampah Capai 77 Persen
Pendekatan pengelolaan sampah yang dikembangkan Banyumas menunjukkan hasil. Tingkat pengolahan sampah di daerah tersebut telah mencapai sekitar 77 persen.
Capaian itu turut mengantarkan Banyumas meraih penghargaan nasional Indonesia Sustainable Responsibility Award (ISRA) 2026.
Banyumas juga tercatat sebagai peringkat pertama nasional dalam penilaian Kementerian Lingkungan Hidup pada 6 Agustus 2026.
Bagi Pemkab Banyumas, penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Capaian itu justru menjadi dorongan untuk memperkuat sistem yang telah dibangun agar manfaat pengelolaan sampah dapat dirasakan lebih luas.
Konsep zero waste to money menjadi bagian dari upaya tersebut.
Sampah yang sebelumnya identik dengan persoalan lingkungan dan beban pengelolaan daerah kini diperlakukan sebagai bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan pendekatan itu, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui produk seperti RDF dan biomassa.
Banyumas pun mencoba menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil ditangani, tetapi juga dari sejauh mana sampah tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat