Surabaya, 18 Agustus 2026

Growth Mindset: Ketika Kemampuan Tidak Berhenti pada Bakat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 
Ketua DPD Afebsi Jawa Timur 
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Di ruang kelas, ada kalimat yang terdengar sederhana:

“Memang saya tidak pintar matematika.”

“Saya tidak berbakat menulis.”

“Saya dari dulu tidak bisa bicara di depan orang.”

“Saya bukan tipe orang yang cocok jadi pengusaha.”

Kalimat-kalimat itu sering dianggap sebagai pengenalan diri. Padahal, di baliknya terdapat cara pandang yang lebih mendasar: apakah kemampuan manusia memang sudah ditentukan, atau masih dapat dikembangkan?

Di sinilah growth mindset menjadi menarik.

Konsep yang dipopulerkan Carol Dweck memandang kemampuan sebagai sesuatu yang masih dapat dikembangkan melalui belajar, latihan, strategi, umpan balik, dan dukungan lingkungan. Lawannya adalah fixed mindset, ketika kemampuan lebih dipandang sebagai sesuatu yang relatif tetap.

Perbedaannya kadang hanya satu kata.

“Saya tidak bisa.”

atau:

“Saya belum bisa.”

Yang pertama menutup pintu.

Yang kedua masih menyisakan ruang untuk belajar.

Dalam pendidikan, perbedaan cara memandang diri ini penting. Mahasiswa yang memperoleh nilai rendah, misalnya, dapat menganggap nilai itu sebagai bukti bahwa dirinya memang tidak mampu. Tetapi ia juga dapat membacanya sebagai informasi: bagian mana yang belum dikuasai, strategi belajar apa yang perlu diperbaiki, dan bantuan apa yang diperlukan.

Namun di sinilah kita perlu berhati-hati.

Growth mindset bukan mantra yang menjamin keberhasilan.

Meta-analysis besar yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2023 menunjukkan bahwa pengaruh intervensi growth mindset terhadap prestasi akademik secara keseluruhan ternyata kecil, dan menjadi tidak signifikan setelah memperhitungkan kemungkinan bias publikasi.

Temuan ini penting.

Sebab growth mindset dalam praktiknya sering direduksi menjadi kalimat motivasional: asal mau berusaha, semua pasti bisa.

Evidence ilmiah tidak sesederhana itu.

Tetapi bukan berarti gagasan tersebut harus dibuang.

Penelitian lain menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, pendekatan growth mindset dapat memberi manfaat. Penelitian di Norwegia yang dibahas Stanford Graduate School of Education pada 2026, misalnya, menemukan bahwa siswa yang memperoleh intervensi tersebut lebih cenderung memilih kelas matematika yang lebih menantang. Pilihan itu bahkan memiliki konsekuensi terhadap jalur pendidikan mereka berikutnya.

Di sini letak pelajarannya.

Mindset mungkin bukan mesin yang otomatis menghasilkan prestasi. Tetapi mindset dapat memengaruhi pilihan seseorang terhadap tantangan.

Dan pilihan terhadap tantangan sering menjadi awal dari pertumbuhan.

Seorang mahasiswa yang berkata, “Saya tidak bisa,” mungkin berhenti.

Mahasiswa yang berkata, “Saya belum bisa,” masih mungkin mencari dosen, membuka buku, berdiskusi dengan teman, mencoba kembali, atau mengubah cara belajarnya.

Tetapi jangan pula seluruh persoalan pendidikan dibebankan kepada mindset mahasiswa.

Kalau metode pembelajaran buruk, dosen tidak memberikan umpan balik, fasilitas terbatas, atau lingkungan akademik tidak memberi ruang untuk mencoba dan gagal, menyuruh mahasiswa memiliki growth mindset tidak akan menyelesaikan masalah.

Manusia membutuhkan kemauan untuk tumbuh, tetapi pertumbuhan juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan.

Di sinilah perguruan tinggi mempunyai pekerjaan yang lebih besar.

Kampus bukan hanya tempat memberikan pengetahuan dan mengejar nilai. Kampus semestinya menjadi ruang tempat manusia belajar menghadapi ketidakpastian, mencoba sesuatu yang belum dikuasai, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan menemukan kemampuan yang sebelumnya belum terlihat.

Bagi seorang pendidik, ada satu hal yang menurut saya sangat penting: jangan terlalu cepat memberi label kepada manusia.

Mahasiswa yang hari ini lemah dalam statistik belum tentu selamanya lemah.

Mahasiswa yang gagal menjalankan bisnis pertamanya belum tentu tidak berbakat menjadi pengusaha.

Dosen yang hari ini belum mahir teknologi belum tentu tidak mampu beradaptasi.

Manusia bukan produk jadi.

Ia adalah proses.

Karena itu, saya lebih menyukai kalimat “belum bisa” daripada “tidak bisa”.

Bukan karena semua orang pasti dapat menjadi apa saja. Bakat tetap ada. Kemampuan awal berbeda. Kesempatan dan lingkungan juga tidak sama.

Tetapi selama masih ada ruang untuk belajar, manusia belum selesai.

Barangkali itulah makna growth mindset yang paling sederhana.

Bukan keyakinan bahwa kita pasti berhasil.

Melainkan kesediaan untuk percaya bahwa diri hari ini masih dapat menjadi lebih baik daripada diri kemarin—dan bersedia melakukan pekerjaan untuk mewujudkannya.

Sebab manusia yang merasa dirinya sudah selesai akan berhenti belajar.

Sedangkan manusia yang sadar bahwa dirinya belum selesai akan selalu mempunyai alasan untuk tumbuh.