Kebeningan Rasa dan Makrifat Statecraft: Membaca Laku Mistik Jawa Joko Widodo di Forum Thariqah
Oleh: Ki Bismo Pratonggopati, SH (Budayawan - Pembina Yayasan Satria Merah Jambu)
JatimUPdate.id - Perjumpaan Dua Aliran Esoteris di Karangtumaritis
Di tengah himpitan peradaban digital yang riuh, serba dangkal, dan digerakkan oleh algoritma percepatan, panggung politik Indonesia kerap menyajikan peristiwa esoteris yang menghentakkan kesadaran kolektif. Ketika diskursus publik dipenuhi oleh kalkulasi matematis kekuasaan, perebutan pengaruh, serta rasionalitas teknokratis yang kering, sebuah ujaran dari ruang spiritual mampu mengubah seluruh cara pandang kita terhadap instrumen kepemimpinan nasional. Peristiwa itu mewujud dalam ungkapan filosofis yang dilontarkan oleh mantan Presiden Joko Widodo di hadapan ribuan jamaah Jam'iyyah Thariqah Shadziliyah di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, pada 29 Agustus 2026: "Lamun siro sekti ojo mateni, lamun siro pinter ojo minteri."
Secara harfiah, pitutur luhur Jawa tersebut mengandung amanat yang tampak sederhana: meskipun kamu sakti atau kuat, jangan suka menjatuhkan atau merugikan orang lain; dan meskipun kamu pintar, jangan sok pintar atau menipu orang lain. Ditempatkan bersama kalimat penegas bahwa "kekuasaan itu sementara, jangan dipakai untuk menjatuhkan orang," pesan ini tidak boleh dibaca sekadar sebagai retorika manis panggung politik atau basa-basi kepurna-tugasan. Membacanya secara dangkal sebagai ajakan etis biasa adalah kekeliruan epistemologis yang besar.
Ujaran tersebut merupakan sebuah manifes spiritual; sebuah manifestasi konvergensi antara kosmologi mistik Jawa Kuna dan tasawuf esoteris Islam. Pilihan ruang untuk menyampaikan ajaran ini—yakni di forum Thariqah Shadziliyah—menciptakan titik perjumpaan yang sangat sakral. Thariqah Shadziliyah adalah sebuah tatanan sufistik yang sangat menekankan penyucian jiwa, peluruhan ego (fana'), serta pencapaian kebijaksanaan batin di tengah keterlibatan penuh pada urusan duniawi. Ketika pitutur Jawa Kuna masuk ke dalam ruang zikir para salik, terjadi penyatuan dua sungai esoterisme yang mengalir di bumi Nusantara: Kejawen Murni yang berakar pada ontologi keselarasan kosmik dan Tasawuf Esoteris yang berpusat pada penyerahan diri secara mutlak kepada Sang Maha Tunggal.
Melalui artikel ini, kita diajak untuk menyelami lapisan mendalam dari laku spiritual Joko Widodo. Kita tidak sedang mengulas angka-angka survei elektoral atau strategi taktis pemenangan pemilu, melainkan membedah makrifat statecraft—sebuah seni mengelola negara yang tidak didasarkan pada kekerasan fisik atau pemaksaan kehendak, melainkan pada penguasaan batin, pengelolaan rasa, serta penundukan ego di hadapan takdir kosmik. Sebagaimana diingatkan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din, kekuasaan adalah ujian terbesar karena ia dapat membutakan hati—dan hanya mereka yang mampu mengendalikan egolah yang akan selamat dari tipu dayanya.
*Ontologi Kekuasaan Jawa Kuno : Dari Energi Murni menuju Penundukan Diri*
Untuk memahami kedalaman pesan "Lamun siro sekti ojo mateni", kita harus terlebih dahulu mengurai bagaimana masyarakat Jawa Kuna memandang hakikat kekuasaan. Berbeda dengan tradisi pemikiran politik Barat—yang sejak Thomas Hobbes hingga Max Weber memandang kekuasaan sebagai instrumen kewenangan, kesepakatan sosial, atau hak monopoli atas kekerasan sah—kebudayaan Jawa Kuna memandang kekuasaan sebagai sebuah entitas yang konkret, homogen, dan bernuansa sakral.
Dalam teks-teks klasik seperti Nagarakretagama, Tantu Panggelaran, hingga kitab-kitab Suluk pasca-Mataram Islam, kekuasaan difahami sebagai pemancaran energi kosmik (kasekten). Jumlah energi ini di alam semesta bersifat konstan. Seseorang mendapatkan kekuasaan bukan semata-mata karena kecerdasan politisnya, melainkan karena ia berhasil mengumpulkan, menampung, dan mempertahankan pancaran wahyu yang diturunkan oleh Jagat Ageng (makrokosmos) ke dalam Jagat Alit (mikrokosmos) dirinya. Dalam kosmologi ini, kekuasaan adalah titipan yang sarat dengan tanggung jawab kosmologis—sebuah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan alam semesta dan Tuhan.
*Bahaya Kebocoran Energi Kosmik*
Dalam ontologi ini, wahyu atau kasekten bersifat sangat sensitif terhadap gejolak emosi batin. Seorang penguasa yang memiliki akumulasi kesaktian atau kekuatan politik yang sangat besar rentan mengalami kejatuhan apabila ia kehilangan kontrol atas hawa nafsunya. Kemarahan yang meledak-ledak, keinginan untuk membalas dendam, serta kehendak untuk menghancurkan musuh secara eksplisit (mateni) adalah manifestasi dari dominasi nafsu amarah dan luwwamah.
Ketika seorang pemimpin menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan, menindas, atau membinasakan pihak lain, secara spiritual ia sesungguhnya sedang melubangi wadah kerohaniannya sendiri. Dalam ajaran mistik Jawa, tindakan mateni adalah bentuk kekerasan yang merusak keseimbangan alam. Setiap retakan pada harmoni kosmik akan memantulkan kembali energi negatif kepada sang pelakunya. Oleh karena itu, pitutur "Lamun siro sekti ojo mateni" sejatinya adalah doktrin perlindungan diri paling murni: semakin tinggi puncak kekuasaan yang diduduki seseorang, semakin mutlak ia harus menjalankan laku anjorog—menahan diri dari godaan menggunakan kekuatan destruktif.
*Dialektika Sakti Tanpa Aji*
Cita-cita tertinggi dari laku spiritual Jawa adalah pencapaian maqam Kesaktian Tanpa Mantra (Sekti Tanpa Aji) dan Menang Tanpa Merendahkan (Menang Tanpa Ngasorake). Seorang raja atau pemimpin yang benar-benar sakti tidak perlu memamerkan kekuatannya lewat tindakan represif. Kekuatannya bekerja secara halus, melingkupi, dan menundukkan musuh tanpa harus menumpahkan darah atau menghancurkan martabat kemanusiaan.
Ketika Joko Widodo menyerukan agar kekuasaan tidak digunakan untuk menjatuhkan orang lain, ia sedang menghidupkan kembali etika pangeran-pangeran Jawa yang arif. Menjatuhkan lawan politik dengan menggunakan instrumen kekuasaan lahiriah adalah tanda bahwa seseorang belum memiliki kasekten yang sejati. Penguasa yang sejati menaklukkan lawan bukan dengan membuatnya hancur berkeping-keping, melainkan dengan merangkulnya ke dalam pusaran harmoni baru, atau membiarkan kekuatan destruktif musuh habis terbakar oleh hawa nafsunya sendiri di hadapan keheningan sang penguasa. Sebagaimana diajarkan dalam Serat Centhini, kesaktian tanpa kesadaran adalah bencana—dan hanya mereka yang memiliki pangerten (pemahaman batiniah) yang akan selamat dari godaan kekuasaan.
*Perspektif Sufistik Esoteris: Thariqah Shadziliyah dan Zuhud Kosmologis*
Menyampaikan amanat kebatinan Jawa di dalam majelis Thariqah Shadziliyah melahirkan sebuah simfoni spiritual yang sangat indah. Thariqah Shadziliyah, yang diwariskan oleh pencerah sufi agung Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili, memiliki karakteristik esoteris yang unik. Berbeda dengan sebagian aliran sufi yang mewajibkan para pengikutnya meninggalkan urusan duniawi secara total (uzlah fisik), Shadziliyah mengajarkan Zuhud Batiniah: berada di tengah gelombang dunia, memegang kekuasaan, mengelola kekayaan, namun tidak membiarkan dunia dan kekuasaan itu masuk dan mengotori bilik hati.
*Peluruhan Ego dan Penyerahan Diri (Fana')*
Di dalam ajaran sufi, ego atau an-nafs adalah benteng tertinggi yang memisahkan manusia dari Kebenaran Mutlak. Nafs al-Ammarah bi as-Su' selalu mendorong manusia untuk merasa paling unggul, paling berkuasa, dan paling berhak menghakimi serta menghancurkan sesamanya. Pernyataan "Lamun siro pinter ojo minteri" (meskipun kamu pintar, jangan sok pintar atau menipu) sangat sejalan dengan ajaran penundukan akal di hadapan Hikmah Ilahiah.
Dalam epistemologi tasawuf, akal manusia yang tidak diterangi oleh cahaya qalb (hati nurani) hanya akan menjadi instrumen tipu daya (khad'ah). Orang yang minteri adalah orang yang tertipu oleh ilusi kecerdasannya sendiri. Ia merasa mampu memanipulasi takdir dan membodohi rakyat, padahal di mata Sang Maha Mengetahui, seluruh tipu daya itu hanyalah kepalsuan yang akan kembali menghantam dirinya. Seorang salik yang telah mencicipi makrifat akan memandang bahwa kelebihan intelektual atau posisi politik yang dimilikinya bukanlah bukti kehebatannya, melainkan istidraj atau ujian berat dari Tuhan. Oleh sebab itu, kewajiban kerohanian seorang pemimpin yang berilmu adalah bersikap Tawadhu' (rendah hati) dan Shidq (jujur secara esensial), bukannya menggunakan kepintarannya untuk memperdaya mereka yang lemah.
*Kekuasaan Sebagai Badai Sementara*
Pernyataan bahwa "kekuasaan itu sementara" adalah penjelmaan langsung dari doktrin sufi mengenai Fana' al-Mulk—kesadaran mendalam bahwa seluruh tahta, jabatan, dan kedudukan di dunia ini bersifat impermanen dan terus berganti. Di dalam Al-Qur'an, hakikat perputaran ini diabadikan dalam ayat yang menyatakan bahwa Allah menggilirkan hari-hari kekuasaan di antara manusia. Jokowi sendiri, dalam wawancaranya dengan Bocor Alus, menegaskan: "Kekuasaan itu hanya sak detik. Jabatan itu hanya sampiran."
Ketika seorang pemimpin menancapkan kesadaran Fana' al-Mulk dalam sanubarinya, ia tidak akan lagi dihinggapi rasa takut yang berlebihan akan kehilangan jabatan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan (post-power syndrome) adalah akar dari segala tindakan politik yang tidak etis. Penguasa yang cemas akan kejatuhannya cenderung menggunakan kekuasaan secara brutal untuk menyingkirkan siapa pun yang dianggap ancaman. Sebaliknya, pemimpin yang melakoni Zuhud Kosmologis memandang kekuasaan seperti pakaian pinjaman. Ia memakainya saat diberi amanah untuk bekerja, dan menanggalkannya dengan tersenyum ketika waktunya telah usai. Karena ia tidak merasa memiliki kekuasaan itu secara mutlak, ia tidak memiliki dorongan batin untuk menggunakan kekuasaan tersebut demi menghancurkan orang lain. Di sinilah letak kemerdekaan spiritual tertinggi seorang pejabat negara.
*Antropologi Kebudayaan Jawa: Arketipe Semar dan Epistemologi Ngelmu Rasa*
Secara antropologis, tatanan batin masyarakat Nusantara—khususnya yang diwarnai oleh kebudayaan Jawa—memiliki ketertarikan emosional dan spiritual yang sangat kuat terhadap arketipe Semar Badranaya (Sang Hyang Ismaya). Dalam lanskap pewayangan Jawa, Semar menduduki posisi yang amat unik dan paradoksal. Ia adalah dewa tertinggi dari kayangan yang memilih turun ke bumi, bertubuh tambun, berwajah lucu sekaligus menyimpan kesedihan kosmik, dan hidup sebagai rakyat biasa di Desa Karangtumaritis.
*Pembongkaran Arketipe Ksatria oleh Semarism*
Dunia pewayangan senantiasa menampilkan dua kutub kepemimpinan. Di satu sisi terdapat kelompok Ksatria—para pangeran, raja, dan panglima perang yang tampan, bertubuh tegap, memiliki retorika hebat, namun sering kali terjebak dalam kesombongan kasta, keangkuhan intelektual, dan nafsu kekuasaan. Di sisi lain terdapat Semar, pengasuh (pamomong) sederhana yang tidak memiliki atribut kemewahan lahiriah, namun memiliki kesaktian kosmik yang mampu meruntuhkan kesombongan para dewa dan pangeran.
Dalam analisis antropologi budaya, gaya kepemimpinan Joko Widodo sejak awal kemunculannya di panggung nasional sangat kuat memancarkan energi arketipe Semarism. Penampilan yang biasa saja, pilihan busana yang jauh dari kesan glamor, gaya bicara yang kerakyatan, serta kebiasaan blusukan ke pasar-pasar dan desa-desa adalah reproduksi simbolis dari kehadiran Semar di Karangtumaritis. Ini bukan sekadar strategi pencitraan, melainkan manifestasi dari habitus yang terbentuk melalui proses enkulturasi panjang dalam kultur Jawa.
Ketika Joko Widodo menyampaikan amanat "Ojo mateni, ojo minteri", ia sedang berbicara dari posisi arketipal Semar. Ia mengingatkan para Ksatria politik modern—mereka yang berpendidikan tinggi, memegang kekuasaan besar, atau berasal dari elite aristokrasi—agar tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk menindas rakyat kecil atau menjatuhkan lawan. Semar adalah simbol dari daya tahan rakyat. Setiap kali penguasa yang sekti mencoba mateni, atau penguasa yang pinter mencoba minteri, Semar akan hadir menggunakan kesaktian batiniyahnya untuk mengembalikan keseimbangan hukum alam.
*Epistemologi Ngelmu Rasa*
Masyarakat Jawa membagi hirarki pengetahuan ke dalam tiga tingkatan utama. Tingkat terkecil adalah Ngelmu Katrangsangan (pengetahuan indrawi yang reaktif), diikuti oleh Ngelmu Pikir (pengetahuan rasional-intelektual), dan ditutup oleh puncak tertinggi yakni Ngelmu Rasa (pengetahuan intuitif-transendental). Ngelmu Pikir beroperasi menggunakan logika formal dan kalkulasi untung-rugi. Dalam perspektif Ngelmu Pikir, jika seseorang memiliki kekuasaan politik, tindakan paling efisien untuk mempertahankan kekuasaan tersebut adalah menumpas habis seluruh potensi ancaman. Ngelmu Pikir melahirkan Machiavellianisme: tujuan menghalalkan cara.
Namun, Ngelmu Rasa melampaui logika instrumental tersebut. Ngelmu Rasa beroperasi melalui Tepo Seliro—sebuah empati kosmik di mana seseorang mampu merasakan rasa sakit yang dialami oleh orang lain seolah-olah itu adalah rasa sakitnya sendiri. Seseorang yang menguasai Ngelmu Rasa tidak akan sanggup menjatuhkan orang lain (mateni) atau menipu orang lain (minteri), karena secara batiniah ia tahu bahwa tindakan destruktif tersebut akan mencederai jiwa manusianya sendiri. Pitutur yang disampaikan Joko Widodo adalah buah dari penjelajahan Ngelmu Rasa yang diekspresikan dalam bahasa politik yang dapat dipahami oleh publik luas. Dalam tradisi Jawa, rasa bukan sekadar emosi—ia adalah bentuk pengetahuan yang hanya dapat dicapai melalui pengalaman dan perenungan mendalam.
*Hermeneutika Teks Klasik Jawa: Melacak Akar Filosofis*
Amanat luhur yang disampaikan di forum sufi tersebut tidak lahir dalam ruang hampa. Ia memiliki silsilah hermeneutis yang sangat panjang dalam naskah-naskah kesusastraan Jawa klasik. Dua teks utama yang menjadi pilar dari pemikiran ini adalah Serat Wedhatama karya Sri Mangkunegara IV dan Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ranggawarsita.
*Kritik Serat Wedhatama terhadap Keangkuhan Intelektual*
Dalam Serat Wedhatama, pupuh Pangkur memberikan peringatan yang sangat tajam bagi orang-orang yang merasa pintar namun kehilangan kebeningan batin. Mangkunegara IV menulis tentang bahaya sikap kuminter (sok pintar) yang tersesat dalam samudra nafsu. Orang yang hanya mengandalkan kepintaran lahiriah tanpa diimbangi oleh latihan kerohanian (tirakat) cenderung menjadi sombong dan menganggap rendah orang lain. Ia akan menggunakan ilmu pengetahuannya untuk membuat tipu daya yang halus (minteri), mengelabui aturan, dan memanipulasi kebenaran demi keuntungan pribadi.
Serat Wedhatama menegaskan bahwa ilmu sejati (Ngelmu iku kelakone kanthi laku) harus membuahkan kerendahan hati, penguasaan emosi, dan kasih sayang kepada sesama, bukan kesombongan narsistik yang merusak lingkungan sosial. Ini sejalan dengan ajaran tasawuf bahwa ilmu tanpa adab adalah kegelapan—sebuah peringatan yang sangat relevan di era ketika kepintaran sering kali dipertontonkan tanpa disertai kebijaksanaan.
*Pesan Serat Kalatidha di Tengah Zaman Edan*
Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga agung Mataram Islam, menggambarkan situasi zamannya yang penuh kegelapan dalam Serat Kalatidha—sebuah era yang dikenal sebagai Jaman Edan. Di era tersebut, tatanan moral mengalami penyimpangan hebat: orang-orang pintar menggunakan kepintarannya untuk saling menjatuhkan dan membohongi rakyat. Ranggawarsita menulis: "Zamane zaman edan, yen ora edan ora keduman"—zaman adalah zaman gila, jika tidak ikut gila tidak akan kebagian.
Di tengah kondisi Jaman Edan, Ranggawarsita memberikan resep keselamatan spiritual yang sangat terkenal: Eling lan Waspada. Seseorang harus senantiasa eling (ingat akan hakikat dirinya sebagai hamba dan keterbatasan dunia) serta waspada (waspada terhadap godaan hawa nafsu yang mengajak pada kejahatan). "Sak beja-bejane wong sing lali, isih beja wong sing eling lan waspada"—seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.
Ujaran Joko Widodo di hadapan Jam'iyyah Thariqah Shadziliyah dapat dibaca sebagai reaktualisasi atas ajaran Ranggawarsita tersebut. Di tengah arus politik modern yang kerap berpusat pada persaingan ketat dan manipulasi informasi, pesan "Ojo mateni, ojo minteri" bertindak sebagai kompas etis. Ia memanggil para aktor politik dan seluruh elemen masyarakat untuk keluar dari "kegilaan" persaingan destruktif dan kembali pada kesadaran Eling lan Waspada.
*Analisis Laku Spiritual Joko Widodo: Keheningan sebagai Instrumen Statecraft*
Bagaimana seluruh kerangka mistik Jawa dan tasawuf ini memantul dalam praktik kepemimpinan nyata yang dilakoni oleh Joko Widodo selama bertahun-tahun memegang kendali pemerintahan hingga memasuki masa purna-tugas?
Melalui pembacaan antropologis yang mendalam, kita melihat bahwa Joko Widodo melakoni sebuah gaya kepemimpinan yang dapat disebut sebagai Keheningan Strategis (Strategic Silence). Dalam tradisi laku Jawa, keheningan bukanlah bentuk kelemahan atau ketidakmampuan untuk bertindak. Keheningan adalah bentuk tertinggi dari penguasaan diri (Tahan Uji/Ngebleng). Sebagaimana diajarkan dalam konsep Sakti Tanpa Aji, kekuatan sejati tidak membutuhkan pertunjukan—ia bekerja secara halus, melingkupi, dan menundukkan tanpa harus menampakkan diri.
*Menahan Diri dari Agresi Verbal*
Sepanjang karier politiknya, ketika berhadapan dengan gelombang kritik yang keras, tuduhan personal, hingga serangan politik dari para pesaingnya, Joko Widodo sangat jarang membalas dengan kemarahan eksplisit atau narasi yang menyerang martabat lawannya. Respons yang ditampilkan hampir selalu berupa senyuman, jawaban singkat, atau pengalihan fokus pada kerja-kerja nyata. Bahkan ketika menghadapi kritik tajam dari media yang selama ini vokal mengkritiknya seperti Tempo, ia memilih untuk membuka pintu rumahnya dan duduk bersama mereka dalam wawancara Bocor Alus—sebuah bentuk keheningan yang transformatif.
Secara mistik Jawa, ini adalah penerapan langsung dari "Ojo mateni". Sang Pemimpin menolak untuk masuk ke dalam arena pertarungan emosional yang berpotensi menghancurkan lawan secara verbal. Dengan menahan diri untuk tidak membalas serangan secara agresif, sang penguasa tidak hanya menjaga keheningan batinnya, tetapi juga membiarkan energi negatif dari penyerang membentur dinding ketenangan yang kokoh. Dalam ajaran sufi, menahan diri dari menyakiti perasaan orang lain saat kita memiliki kemampuan untuk membalas adalah puncak dari Mujahadah an-Nafs—perjuangan melawan ego diri.
*Watak Bumi dan Angin dalam Asthabrata*
Ajaran kepemimpinan Jawa klasik yang bersumber dari epik Ramayana, yakni Asthabrata, mengamanatkan bahwa seorang pemimpin harus meneladani delapan karakter elemen alam. Dua di antaranya yang paling menonjol dalam laku spiritual Joko Widodo adalah Watak Bumi dan Watak Angin.
Watak Bumi mengajarkan ketabahan mutlak. Bumi memberi kehidupan kepada siapa saja, menampung segala jenis sampah dan penderitaan, namun tetap teguh dan memberikan buah kebaikan. Pemimpin berwatak Bumi menerima segala celaan, caci maki, dan tuduhan tanpa membalasnya dengan kehancuran. Ia menampung segalanya dalam ketenangan jiwa. Ini tercermin dalam sikap Jokowi yang jarang merespons serangan pribadi dengan serangan balik, melainkan dengan tetap fokus pada pekerjaan dan pengabdian.
Sementara Watak Angin mengajarkan kehalusan bergerak. Angin berada di mana-mana, memasuki setiap celah, memberikan kesegaran, namun tidak dapat ditangkap atau diraba bentuk fisiknya. Dalam mengelola dinamika politik yang rumit, Joko Widodo kerap bergerak menggunakan watak Angin—mengarahkan proses politik secara halus, tanpa perlu pamer kekuatan atau meninggalkan jejak konfrontasi yang tajam. Hasil-hasil politik dicapai bukan melalui dekrit penindasan yang dramatis, melainkan melalui penataan ruang secara perlahan dan berkesinambungan.
*Laku Spiritual sebagai Jalan Pencerahan*
Di balik semua itu, ada laku—praktik spiritual yang telah lama dijalani Jokowi. Ia istiqamah menjalankan salat tahajud, salat dhuha, puasa sunnah, dan berbagai amalan spiritual lainnya. Ini bukan sekadar ritual, melainkan riyadhah—latihan spiritual untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Seorang guru ngaji dari Pasuruan bahkan menyebutnya sebagai wali mastur—wali yang tersembunyi—karena kewaliannya tidak tampak, tetapi terasa.
Dalam tradisi sufi, laku memiliki peran sentral dalam membentuk karakter seseorang. Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa ibadah bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tazkiyat al-nafs—penyucian jiwa. Seseorang yang hatinya telah suci akan memiliki firasat—kemampuan untuk melihat kebenaran di balik realitas. Dan dari firasat itulah lahir kebijaksanaan. Petuah "Lamun siro pinter, ojo minteri" adalah manifestasi dari tawadhu'—kerendahan hati—yang menjadi inti dari ajaran sufi. Seorang sufi sejati tidak pernah merasa paling pintar karena ia sadar bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah setetes air di lautan.
*Rekonsiliasi Kekuasaan dan Spiritualitas Nusantara*
Pernyataan filosofis Joko Widodo di hadapan Jam'iyyah Thariqah Shadziliyah—"Lamun siro sekti ojo mateni, lamun siro pinter ojo minteri"—akhirnya berdiri sebagai sebuah monumen pemikiran yang melampaui sekat-sekat zaman. Ia menghubungkan kembali benang emas yang sempat terputus antara dunia politik sekuler dan kedalaman spiritualitas Nusantara.
Melalui artikel ini, kita telah melihat bagaimana sebuah kalimat singkat mampu menguraikan kembali jalinan ontologi kekuasaan Jawa Kuna, epistemologi tasawuf esoteris, arketipe antropologis Semar, serta etika kesusastraan klasik. Kekuasaan politik, pada tingkatannya yang paling murni, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi alat pemuas ego, sarana balas dendam, atau instrumen pembodohan publik. Kekuasaan adalah sebuah amanah kosmik yang sangat berat, sebuah panggung ujian di mana manusia diuji apakah ia akan menjadi budak dari hawa nafsunya ataukah menjadi saluran bagi rahmat dan keadilan Ilahi.
Dengan mengingatkan kita semua bahwa "kekuasaan itu sementara," Joko Widodo tidak hanya sedang berbicara kepada jamaah tarekat yang hadir di ruangan itu, melainkan sedang menitipkan amanat transendental kepada seluruh elite kepemimpinan nasional dan generasi penerus bangsa. Di tengah gelombang perubahan global yang menuntut ketangkasan teknologis dan persaingan ketat, bangsa Indonesia diajak untuk tidak kehilangan jiwanya. Bangsa ini harus tetap berakar pada kebeningan rasa, kerendahan hati, dan kasih sayang universal.
Ketika mereka yang sekti memilih untuk tidak mateni, dan mereka yang pinter memilih untuk tidak minteri, maka kekuasaan tidak lagi menjadi sumber penderitaan dan perpecahan. Kekuasaan bertransformasi menjadi sebuah Tapa Brata—sebuah jalan pengabdian spiritual untuk menghadirkan kedamaian, mengayomi yang lemah, serta menegakkan harmoni di atas bumi Nusantara. Di sanalah hakikat makrifat statecraft menemukan wujudnya yang sejati.
Sebagaimana diajarkan dalam ungkapan Jawa: sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti—kekuatan dan keangkaramurkaan sebesar apa pun pada akhirnya dapat diluruhkan oleh kebajikan. Kekuatan tertinggi bukan kemampuan menghancurkan, melainkan kemampuan tidak menghancurkan ketika kita sebenarnya mampu. Kepintaran tertinggi bukan kemampuan mengalahkan argumentasi orang lain, melainkan kemampuan membuat ilmu melahirkan kebijaksanaan. Dan kesaktian tertinggi bukan ketika orang lain takut kepada kita, melainkan ketika ego kita sendiri akhirnya tidak lagi mampu memerintah kita.
Karena pada akhirnya, dalam jalan sufi maupun dalam kebijaksanaan Jawa, lawan yang paling sulit tidak pernah benar-benar berada di luar. Ia bersemayam sangat dekat. Di dalam diri sendiri.
Editor : Redaksi