Surabaya, 31 Agustus 2026

Nderek Mangayubagyo: Selamat Kagem Gus Kikin

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Flayer ucapan selamat kagem Gus Kikin
Flayer ucapan selamat kagem Gus Kikin

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 
Ketua DPD AFEBSI Jatim 
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Jombang selalu punya cara rahasia untuk menyentuh kalbu. Di kota di mana aroma pesantren berkelindan dengan harum sejarah, setiap peristiwa tak pernah dibiarkan lewat begitu saja sebagai sekadar catatan kronik. Ia adalah denyut nadi Islam Nusantara yang terus berdegup.

Di sanalah, melalui Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sejarah baru mengukir namanya. KH Abdul Hakim Mahfudz—Gus Kikin yang kita kenal dengan keteduhannya dari Tebuireng—telah ditetapkan sebagai nakhoda baru. Beliau mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026–2031.

Dari kejauhan, di antara hiruk-pikuk dunia yang kian bising, rasanya tak ada kalimat yang lebih tulus untuk dilontarkan selain sebuah bisikan doa yang khidmat:

Nderek mangayubagyo. Selamat kagem Gus Kikin

Bagi telinga awam, ungkapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun dalam kosmologi manusia Jawa, ia adalah sebuah bentuk diplomasi hati yang paling dalam.

Nderek mangayubagyo bukan sekadar "ikut berbahagia." Ia adalah manifestasi dari sebuah sikap tahu diri (empan papan). Ia adalah seni menghormati kebahagiaan orang lain tanpa harus merasa memiliki "kunci rumah"-nya. Sebuah kesadaran bahwa kita bisa mencintai sebuah rumah besar tanpa harus menjadi penghuni tetap di dalamnya.

Sebab, bukankah hidup justru menjadi indah karena kita mampu menghormati apa yang tidak kita miliki?

Saya tumbuh dalam napas aktivisme HMI dan KAHMI—sebuah rahim intelektual yang menempa keberanian berpikir dan kemandirian bersikap. Namun, ada akar kebudayaan yang tak mungkin saya cabut: sebuah jalan pulang menuju nilai-nilai unggah-ungguh, tepa selira, dan penghormatan tanpa batas kepada para kiai. Di sinilah letak indahnya persilangan itu: akal boleh berkelana ke mana saja, tapi rasa harus tetap berakar pada tradisi.

Muktamar ini bukan sekadar suksesi administratif. Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang menetapkan Gus Kikin adalah pengingat bagi kita semua bahwa pemimpin tidak sedang "memenangkan kompetisi", melainkan sedang "menerima takdir amanah".

Dalam perspektif stewardship leadership, seorang pemimpin bukanlah pemilik perusahaan atau penguasa organisasi. Ia adalah seorang pelayan yang dipercayakan untuk merawat sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Kursi kepemimpinan NU bukanlah podium untuk merasa lebih tinggi. Justru sebaliknya, ia adalah beban yang menuntut punggung yang lebih kuat dan hati yang lebih lapang. Semakin tinggi posisi itu, semakin panjang bayangan tanggung jawab yang harus dipikul di hadapan sejarah dan Tuhan.

*NU adalah samudera*. Di dalamnya ada jaringan pesantren yang mengakar, ulama yang menjadi paku bumi, jutaan warga yang tulus, dan tradisi sosial yang telah melampaui usia zaman. Maka, menjadi Ketua Umum PBNU bukan sekadar menjadi seorang administrator.

Ia adalah penyambung mata rantai sejarah.

Perjalanan Gus Kikin dari Tebuireng menuju Kramat Raya adalah sebuah simpul simbolik. Pesantren telah mengajarkannya bahwa kepemimpinan bukan soal memerintah manusia, melainkan soal ngemong manusia.

Ada perbedaan mendalam di sana. Mengelola organisasi bisa menggunakan angka, sistem, dan target. Namun, merawat manusia membutuhkan rasa.

Ngemong adalah seni menjaga pertumbuhan dengan kesabaran. Ia tahu kapan harus menarik tali, kapan harus mengulur, dan kapan harus memberi ruang bagi perbedaan untuk bernapas. Pemimpin yang matang tidak akan panik dengan keberagaman jalan; ia justru akan merangkulnya sebagai kekayaan rumah besar bernama Nahdlatul Ulama.

Muktamar telah usai. Riuh perdebatan telah meluruh menjadi harmoni. Kini, ujian sesungguhnya dimulai: bagaimana merangkul kembali mereka yang sempat berseberangan agar tetap merasa berada di rumah yang sama.

Ukuran kesuksesan Gus Kikin nantinya bukanlah seberapa keras suaranya terdengar di panggung nasional, melainkan seberapa dalam suaranya mampu menembus relung hati warga di akar rumput. Bukan seberapa banyak orang yang berhasil ditundukkan, melainkan seberapa banyak hati yang berhasil dirangkul.

Dari Surabaya, sebagai seorang anak bangsa yang berdiri di luar struktur namun tetap mencintai napas perjuangan ini, saya melihat peristiwa ini dengan kacamata penuh harapan. Jombang telah memberi kita seorang pemimpin yang tumbuh dari rahim tradisi.

Maka, sekali lagi, dengan penuh takzim:

Nderek mangayubagyo.
Selamat memanggul amanah, Gus Kikin.

Semoga kepemimpinan 2026–2031 ini menjadi berkah yang melimpah—menjaga tradisi yang mulia, merawat kebersamaan yang rapuh, dan membuka pintu lebar bagi generasi baru untuk terus berbakti pada umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan tanggal, jabatan akan selesai. Namun, jejak pengabdian yang tulus akan abadi dalam ingatan zaman.

Selamat mengabdi, Gus.
Semoga amanah dan selalu dalam lindungan-Nya.