Tiga Pelajar SMAN Surabaya Bersinar di International Student Summit Malaysia

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Camira Ayesha Noor dari SMA Negeri 5 Surabaya, Queensha Meiko Aurelyta dari SMAN 4 Surabaya, dan Talita Salsabila Fahruddin dari SMAN 2 Surabaya berkolaborasi dalam 3rd International Student Summit.
Camira Ayesha Noor dari SMA Negeri 5 Surabaya, Queensha Meiko Aurelyta dari SMAN 4 Surabaya, dan Talita Salsabila Fahruddin dari SMAN 2 Surabaya berkolaborasi dalam 3rd International Student Summit.

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Selain mahasiswa UNG, inovasi dari Indonesia juga hadir melalui kolaborasi tiga siswa SMA asal Surabaya dalam 3rd International Student Summit 2026 Chapter Malaysia.

Camira Ayesha Noor dari SMA Negeri 5 Surabaya, Queensha Meiko Aurelyta dari SMAN 4 Surabaya, dan Talita Salsabila Fahruddin dari SMAN 2 Surabaya membawa gagasan berjudul “TEMU: Unlocking Hidden Human Capital through AI-Powered Skill Discovery for Inclusive MSME Growth”.

TEMU menawarkan konsep pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk menemukan potensi dan keterampilan tenaga kerja yang belum terlihat dalam sistem rekrutmen konvensional, kemudian menghubungkannya dengan peluang kerja di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Gagasan tersebut berangkat dari sejumlah persoalan ketenagakerjaan, seperti ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri atau skill mismatch, kesenjangan proses rekrutmen, serta potensi tenaga kerja yang tidak terdeteksi hanya melalui ijazah, CV, maupun pengalaman kerja formal.

TEMU dirancang melalui lima konsep utama, yakni Discover, Assess, Match, Upskill, dan Update.

Pada tahap Discover, sistem berupaya mengidentifikasi keterampilan dan potensi tersembunyi. Selanjutnya, tahap Assess menghasilkan Adaptive Economic Skill Score (ESS) untuk mengukur kompetensi berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

Tahap Match kemudian mempertemukan talenta dengan peluang yang sesuai di sektor UMKM. Jika masih terdapat kesenjangan kompetensi, sistem menyediakan rekomendasi pembelajaran yang dipersonalisasi melalui tahap Upskill.

Sementara tahap Update memungkinkan profil pengguna terus diperbarui berdasarkan perkembangan keterampilan, pengalaman, sertifikasi, dan kompetensi.

Kelompok yang menjadi sasaran TEMU tidak hanya pencari kerja dengan pengalaman formal, tetapi juga lulusan baru, pekerja informal, perempuan yang kembali ke dunia kerja, hingga penyandang disabilitas.

Gagasan tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan proses pencocokan tenaga kerja yang lebih inklusif, mengurangi kesalahan dalam perekrutan, sekaligus meningkatkan produktivitas UMKM.

Keikutsertaan pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam berbagai kompetisi tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang bagi generasi muda untuk menguji gagasan dan inovasi mereka di tingkat internasional.

Prestasi itu sekaligus menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari lingkungan pendidikan di berbagai daerah Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dan mendapatkan pengakuan di panggung yang lebih luas.(ih/yh)