Bursah Zarnubi Kunjungi Graha Yakuza: Diskusi Saja Dulu Jangan Berpikir Uang
Pagelaran, Malang, JatimUpdate.id - Bursah Zarnubi, Bupati Lahat Sumatera Selatan, Ketua APKASI, menengok Pusdiklat Graha Yakusa, di Jl. Hasyim Asyari 159, Krajan, Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Kamis (24/09/2026).
Rencananya, Bursah akan meresmikan Graha Yakuza tersebut sekira 2 bulan mendatang.
Bang Bursah, begitu para kolega memanggilnya berkenan hadir sekaligus untuk perubahan nama dari Graha Yakusa menjadi Graha Kebangsaan, untuk lokasi pusdiklat kelompok Cipayung dan peresmian Sekolah Kepemimpinan Desa.
Bursah Zarnubi (lahir 29 Januari 1959) adalah seorang politikus dan aktivis Indonesia serta Ketua Umum Partai Bintang Reformasi dari 2006 hingga 2011. Bang Bursah juga merupakan perintis gerakan sipil dengan mendirikan Humanika pada 1990 an yang pada pekan lalu merayakan HUT ke-36 sekaligus reuni dan silaturahmi di Jakarta.
Ia menjabat sebagai Bupati Lahat periode 2025–2030 dan juga merupakan pendiri sekaligus sebagai Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK).
Kehadiran Bursah disambut Muhlis Ali, Ketua Umum Poros Pemuda Indonesia (PPI) sekaligus pendiri pusat pendidikan dan latihan Graha Yakusa.
Pada kesempatan itu, Bang Bursah berkesempatan melihat foto foto jejak perjuangan, yang pampang ditembok Graha Yakuza.
Dalam suasana santai, Bursah menyampaikan kenangannya tentang sepak terjang Muhlis Ali, sebagai aktivis yang dikenalnya pemberani.
"Banyak aktivis dari kelompok Madura, tetapi tidak seberani Muhlis," kata Bang Bursah.
Tidak banyak orang, kata Bursah yang meluangkan waktunya untuk pengkaderan, padahal pengkaderan penting sebagai keberlanjutan kepemimpinan.
Muhlis, menurut Bursah tergolong Creative minority (minoritas kreatif), yakni sekelompok kecil orang dalam masyarakat yang memprakarsai kemajuan, inovasi, dan perubahan peradaban.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee, dalam bukunya A Study of History.
"Menurut Toynbee, peradaban bangkit dan berkembang bukan karena seluruh masyarakat bergerak bersamaan, melainkan karena ada kelompok minoritas kecil yang memiliki visi, keberanian, dan daya cipta untuk merespons tantangan zaman," ujarnya.
Dijaman yang terus berkembang, begitu banyak perubahan, yang harus dipahami para aktivis.
"Dulu, satu dua variabel sudah bisa dijadikan patokan, sekarang sudah tidak bisa lagi, satu dua variabel akan muncul puluhan lainnya," katanya.
Terlebih, di era digitalisasi yang terus berkembang, dampak dari Artificial Intelegen (AI), membutuhkan pemikiran yang semakin kompleks.
"Karenanya, yang penting perbanyak diskusi terlebih dulu. Jangan berpikir soal uang dulu, nanti uang akan datang dengan sendirinya," ujarnya mengingatkan. (mmt/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat