Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah
Oleh: Machsus
Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
JatimUPdate.id - Shalawat menggema, silaturahmi menghangat, dan kerinduan pada Tanah Rencong seakan menemukan rumahnya di tanah rantau. Lebih dari 250 warga Aceh berkumpul dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Kekeluargaan Tanah Rencong (KTR) Surabaya Raya, 4 Oktober 2026. Di perantauan, Maulid bukan sekadar momentum mengenang dan mencintai Rasulullah, tetapi juga ruang untuk merawat persaudaraan, keislaman, keindonesiaan dan keacehan.
Saya mendapat kehormatan menyampaikan tausiyah bertema “Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah.” Lantaran saya orang Madura di tengah keluarga besar Aceh, suasana sempat mencair dengan dialog ringan.
“Pak Machsus dari Madura, kami dari Aceh. Berarti sebenarnya kita ini sama-sama GAM.”
Saya sempat tersenyum, “Waduh, GAM yang mana ini?”
“Tenang, Pak. GAM itu Gabungan Aceh-Madura!”
Saya pun menjawab, “Kalau GAM yang ini, insyaallah saya siap bergabung.” Hehehe.
Gurauan itu sederhana, tetapi ada pesan menarik di baliknya bahwa perbedaan asal tidak menghalangi persaudaraan. Apalagi Maulid memang mempertemukan kita pada satu kecintaan yang sama, yakni kepada Rasulullah SAW.
Kecintaan itu tentu tidak cukup berhenti pada shalawat dan pujian. Cinta kepada Rasulullah harus menemukan bentuknya dalam keteladanan. Pesan tersebut terasa semakin nyata ketika rangkaian Maulid disertai santunan kepada anak-anak yatim. Kita mengingat Rasulullah dengan Maulid, mencintainya dengan shalawat, dan membuktikan cinta itu dengan kepedulian.
Di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yakni seberapa jauh akhlak Rasulullah benar-benar hidup dalam keseharian kita? Bagi masyarakat Aceh di perantauan, pertanyaan itu memiliki makna tersendiri. Meninggalkan kampung halaman bukan berarti meninggalkan akar. Justru di tanah rantau, nilai-nilai yang dibawa dari tanah kelahiran menemukan ruang untuk diuji, dijaga, sekaligus dibuktikan.
Dari Tanah Rencong ke Tanah Rantau
Dari Tanah Rencong ke tanah rantau, yang dibawa tentu bukan hanya bekal perjalanan, tetapi juga nilai dan jati diri. Bagi masyarakat Aceh, merantau berarti membawa keberanian, tradisi keilmuan, religiusitas, dan semangat persaudaraan untuk tumbuh dan memberi manfaat di tempat baru.
Semangat ini mengingatkan pada nasihat yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Syafi’i tentang merantau, yakni beranilah keluar dari zona nyaman, mencari ilmu, memperluas pengalaman, dan menempa kehidupan. Sebab, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga proses belajar untuk bertumbuh dan menjadi lebih matang.
Rasulullah SAW memberi teladan melalui hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi perjalanan membawa nilai. Di Madinah, Rasulullah membangun kehidupan bersama di atas persaudaraan, keadilan, amanah, dan kemaslahatan.
Semangat itulah yang relevan bagi ureung Aceh di perantauan. Tanah Rencong boleh jauh secara geografis, tetapi nilai-nilainya harus tetap dekat dalam perilaku, yakni jujur dalam bekerja, mencintai ilmu, menjaga persaudaraan, memegang amanah, dan memberi manfaat bagi lingkungan. Sebab, merantau bukan soal seberapa jauh kita meninggalkan kampung halaman, tetapi seberapa kuat nilai kampung halaman tetap kita bawa dalam kehidupan.
Mengapa Kita Membutuhkan Rasulullah?
Untuk memahaminya, kita bisa meminjam ilustrasi sederhana dari kehidupan sehari-hari. Sebuah perangkat elektronik, seperti ponsel, laptop, televisi, lampu, dan sebagainya, tentu memiliki kapasitas dan keterbatasan tertentu. Kalau sebuah perangkat menerima daya yang tidak sesuai dengan kemampuannya, ia bukan bekerja lebih baik, tetapi bisa rusak.
Lantaran itu, perangkat tersebut memerlukan sistem penghubung yang sesuai agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, seperti adaptor, transformator, converter, dan sebagainya. Tentu ini bukan analogi tentang Allah, wahyu, ataupun Rasulullah, melainkan sekadar gambaran tentang keterbatasan manusia. Allah Mahabesar dan Mahasempurna, sedangkan manusia adalah makhluk yang terbatas.
Manusia memang dibekali akal yang luar biasa. Kita mampu membangun peradaban, menciptakan teknologi, bahkan mengembangkan kecerdasan buatan. Namun, akal tetap memiliki batas. Ia dapat menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi tidak selalu mampu menjawab untuk apa dan ke mana kehidupan diarahkan.
Di sinilah manusia membutuhkan petunjuk Allah. Lantaran kasih sayang-Nya, Allah menurunkan wahyu dan mengutus para nabi dan rasul. Rasulullah SAW bukan sekadar menyampaikan wahyu, tetapi juga menjadi teladan bagaimana petunjuk Allah dijalankan dalam kehidupan.
Mengapa tidak setiap orang menerima wahyu? Jika setiap orang dapat mengklaim pesan dari Allah, kebenaran bisa bercampur dengan ego dan kepentingan. Karena itulah risalah dipercayakan kepada manusia pilihan. Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum menerima wahyu telah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.
Al-Qur’an yang beliau bawa bukan buku petunjuk teknis setiap zaman, tetapi memberikan kompas kehidupan, yakni kejujuran, keadilan, amanah, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi manusia tetap membutuhkan wahyu sebagai petunjuk dan Rasulullah sebagai teladan.
Meneladani Rasulullah di Era Digital
Di sinilah Maulid menemukan makna terdalamnya, yakni mengingat, mencintai, lalu meneladani. Kita mengenang Rasulullah agar semakin mengenalnya. Dari pengenalan tumbuh kecintaan, dan dari kecintaan semestinya lahir keteladanan. Jangan sampai kita fasih bershalawat, tetapi kehidupan sehari-hari justru jauh dari akhlak beliau.
Pada era digital, empat sifat Rasulullah semakin relevan. Shiddiq berarti benar dan jujur. Di tengah banjir informasi, jangan mudah meneruskan pesan sebelum memastikan kebenarannya. Saring sebelum sharing, periksa sebelum percaya. Jari kita pun memiliki tanggung jawab moral.
Amanah berarti dapat dipercaya. Amanah berlaku dalam jabatan, pekerjaan, pengelolaan keuangan, maupun pelayanan kepada masyarakat. Dalam keseharian, mulailah dari hal sederhana seperti tepati janji, selesaikan tanggung jawab, jangan menyalahgunakan jabatan, serta jaga data dan privasi orang lain.
Tabligh berarti menyampaikan dengan benar. Media sosial membuat hampir semua orang memiliki “mimbar”. Karena itu, sebelum mengunggah, berkomentar, atau meneruskan pesan, tanyakan tiga hal, yakni apakah benar, apakah baik, dan apakah bermanfaat? Jangan sampai media sosial yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi justru berubah menjadi ruang saling menyakiti.
Fathanah berarti cerdas dan bijaksana. Ini semakin penting ketika algoritma terus mempelajari apa yang kita lihat, sukai, dan bagikan. Sekali tertarik pada suatu konten, konten serupa terus berdatangan melalui feed dan notifikasi. Lama-lama, bukan hanya kita yang memilih informasi, tetapi algoritma ikut memilihkan apa yang kita lihat dan pikirkan. Karena itu, sesekali matikan notifikasi, batasi waktu layar, pilih konten yang bermanfaat, dan jangan biarkan algoritma menentukan seluruh perhatian kita.
Umat Islam tidak boleh takut terhadap teknologi. Kita harus menguasainya, memahami cara kerjanya, sekaligus bijaksana menggunakannya. Kecerdasan buatan semakin canggih dan mesin semakin menyerupai kemampuan manusia. Jangan sampai mesin semakin menyerupai manusia, sementara manusianya justru semakin kehilangan kemanusiaan.
Mulailah dari yang sederhana, yakni jujur ketika berbicara, amanah ketika bekerja, santun ketika bermedia sosial, dan cerdas ketika menggunakan teknologi. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi akhlak harus tetap menjadi kompas kehidupan kita.
Cinta Rasul, Cinta Anak Yatim
Pada akhirnya, keteladanan tidak hanya diukur dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita lakukan kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian. Rasulullah memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Dalam HR Bukhari No. 6005, beliau bersabda, “Ana wa kafilul yatimi fil-jannati hakadza, aku dan orang yang memuliakan anak yatim di surga seperti ini, seraya merapatkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai isyarat betapa dekatnya kedudukan orang yang memuliakan anak yatim dengan Rasulullah SAW di surga”.
Santunan kepada anak yatim dalam momentum Maulid hendaknya bukan sekadar pelengkap acara, melainkan salah satu wujud konkret pesan Maulid. Anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan materi. Mereka membutuhkan perhatian, pendidikan, kesempatan, rasa aman, dan keyakinan bahwa mereka mempunyai masa depan. Di sinilah masyarakat memiliki tanggung jawab bersama.
Maulid seharusnya tidak selesai ketika acara ditutup dan jamaah pulang. Justru setelah itulah Maulid yang sesungguhnya dimulai. Maulid hidup ketika kita semakin jujur dalam bekerja, semakin amanah dalam memimpin, bijak bermedia sosial, menggunakan ilmu untuk kemaslahatan, serta mengulurkan tangan kepada anak yatim dan mereka yang membutuhkan.
Itulah makna Rasulullah sebagai rahmatan lil‘alamin. Kita mengingat Rasulullah dengan Maulid, mencintainya dengan shalawat, dan membuktikan cinta itu dengan keteladanan. Semoga dari Tanah Rencong hingga tanah rantau, dari ruang keluarga hingga ruang kerja, dari kehidupan nyata hingga dunia digital, akhlak Rasulullah SAW senantiasa menjadi kompas kehidupan kita.
Editor : Redaksi