Kontraktor Banting Setir Jadi Penjual Mie Ayam, Ngaku Trauma Garap Proyek Karena Modal Tak Terbayar

oleh : -
Kontraktor Banting Setir Jadi Penjual Mie Ayam, Ngaku Trauma Garap Proyek Karena Modal Tak Terbayar
Pemilik CV. Besuki, Triyatno Dwisanto kini berjualan mie ayam setelah proyek menggarap proyek wastafel keluar modal Rp 526jt sampai sekarang belum di bayar

Jember (JatimUpdate.id) - Seorang penjual mie ayam bernama Triyatno Whisnu Wisanto mengaku dulunya adalah seorang kontraktor. Kini dia berjualan mie ayam di dekat rumahnya, Jalan Kalimantan nomor 74, Kecamatan Sumbersari, Jember.

Berjualan mie ayam itu, sudah dilakoninya sejak awal puasa tahun 2021 lalu. Pria berumur sekitar 40 tahun itu berjualan mie ayam dari pukul 17.00 WIB, dan tutup sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat dikonfirmasi di sela berjualan mie ayam, Triyatno banting setir menjadi penjual mie ayam. Karena modalnya habis dan tak terbayar, saat menggarap proyek pengadaan wastafel ketika pandemi Covid-19 lalu.

Dirinya mengaku menggarap proyek wastafel sekitar bulan Oktober tahun 2020. Kala itu dirinya mendapat proyek di 22 titik lokasi wilayah barat Jember.

“Dulu saya adalah kontraktor yang menggarap proyek wastafel saat pandemi Covid-19 di eranya Bupati Faida. Saya pemilik CV. Besuki Triyatno Dwisanto dan menggarap proyek wastafel itu, keluar modal Rp 526 juta. Itu semua modal saya saat menjadi kontraktor,” ujar Triyatno saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (13/10/2022) malam.

“Sudah ada SPJnya, garapan saya di sekitar Kecamatan Tanggul. Kewajiban sudah diserahkan ke penerima manfaat Desember kemarin (tahun 2020),” ujarnya.

Namun entah karena alasan apa, lanjut Triyatno, proyek yang digarap tidak memberikan hasil dan hingga saat ini belum terbayar.

“Sehingga karena uang habis, tidak punya modal lagi. Apalagi untuk menggarap proyek itu saya pinjam modal ke bank dulu. Yang ada sekarang, saya punya tunggakan pinjaman uang ke bank Rp 10,4 juta selama dua tahun. Karena saya tidak punya uang lagi, bahkan menunggak 8 bulan. Sekarang saya banting setir jualan mie ayam ini,” ujarnya.

“Soal alasan sih, kalau informasi dari teman-teman rekanan yang senasib dengan saya. Karena ada pergantian bupati, dari Bu Faida sekarang Pak Hendy. Terus harus melewati proses pengadilan. Karena ada kesalahan soal pengadaan proyek. Tapi tentunya kan harusnya dibayar, wong sudah diperiksa BPK juga kok. Buktinya saya ada SPJ nya, dan sudah diperiksa,” sambungnya menjelaskan.

Dengan pengalaman pahit sebagai kontraktor yang menggarap proyek pemerintah. Tapi malah tidak terbayar, Triyatno pun mengaku trauma.

“Sebelumnya sebagai seorang kontraktor, saya tidak pernah menghadapi persoalan seperti ini. Tapi dari pengalaman ini, saya trauma tidak akan menggarap proyek pemerintah lagi, kalau kondisinya seperti ini. Wan prestasi, sidang inkrah sudah menang juga tak terbayar,” ungkapnya.

Sekilas perjuangan untuk menuntut haknya, katanya, sudah banyak dilakoni.

“Saya pernah bareng FKKWJ (Forum Korban-Korban Wastafel Jember). Bareng rekanan lain, demo sudah. Mengawal saat sidak sudah. Gerakan ikut terus,” ujarnya.

Namun diakui olehnya, untuk melangkah ke Jalur hukum dirinya mengaku kesulitan.

“Karena saya benar-benar tidak punya modal lagi. Saya tidak mampu untuk membayar pengacara ataupun ikut proses pengadilan. Saya dari CV. Besuki Triyatno Dwisanto. Kami tidak menuntut banyak, hak kami saja lah kembalikan. Tidak minta keuntungan, setidaknya bisa bekerja,” ujarnya.

“Untuk menyambung hidup, ya berjualan mie ayam ini. Sambil menunggu, semoga ada keajaiban nantinya modal saya Rp 526 juta bisa terbayar,” tandasnya. (MR)