Catatan Mas AAS

Ceritakanlah

Reporter : -
Ceritakanlah
Mas AAS bersama 63 peserta workshop kepenulisan

"Jika sejarah disampaikan dalam bentuk cerita, itu tidak akan pernah terlupakan!" (Joseph Rudyard Kipling)

Suatu ketika pernah menjadi Direktur Eksekutif sebuah lembaga pelatihan di sebuah organisasi ekstra kampus level cabang kala itu. Sehingga begitu spontan bisa menilai serta merasakan apakah sebuah acara dan kegiatan itu digarap secara serius juga profesional oleh sebuah kepanitiaan!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan pagi tadi sekira dua jam penuh mulai pukul 9 sampai dengan pada pukul 11 tepat, penulis sharing berbagi tentang spirit kepenulisan di UKM pers kampus ITB Yadika Pasuruan. Utamanya menulis sebuah berita, cerita, dengan ditulis menggunakan konsep 5WIH (what, where, when, why, who, dan how) atau terkenal dengan akronim adiksimba(apa, dimana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana) dalam versi bahasa indonesia. Tidak bisa dipungkiri, jemari ini telah berlatih secara terus menerus untuk menuangkan segala peristiwa sehari-hari yang dialami penulis, lalu ditulis dengan unsur-unsur rumus di atas sejatinya. Sampai kemudian sebuah buku bertitel "Urip Iku Urup" dibuat.

Usai penulis menjalankan amanah yang sudah diberikan oleh panitia. Diri ini merasa trenyuh saja menyaksikan perhelatan sebuah workshop pelatihan digarap dengan serius disertai servis yang ciamik dari segenap panitia di dalam menyelenggarakan acara. Baiknya pelayanan itu tidak saja dirasakan oleh penulis sebagai pemateri, pun demikian juga dialami oleh peserta!

BEM mahasiswa ITB Yadika Pasuruan layak diberikan big applause untuk sesuatu yang sudah mereka kerjakan hari ini. Menghandle acara workshop kepenulisan dengan baik.
Itulah testimoni dari penulis. Tak lupa dukungan institusi kampus ITB Yadika Pasuruan yang luar biasa. Saya kira culture yang demikian harus dirawat secara masif di kampus para pengusaha ini!

63 peserta workshop kepenulisan, sangat antusias menyimak paparan materi yang disampaikan oleh penulis. Karena ini sebuah workshop, spontan saja praktik menulis penulis terapkan selama sesi paparan materi tadi. Bagaimana sebuah berita itu ditulis, dan semua unsur dalam rumus di atas, dipraktekkan dipakai buat menulis secara terus menerus. Saya kira menjadi cara efektif untuk tiap peserta tahu serta paham, bagaimana mujarabnya konsep yang dikenalkan oleh Rudyard Kipling seorang penulis, novelis, dan penyair yang lahir di India dan meninggal di negeri Ratu Elizabet tersebut itu untuk membuat sebuah tulisan berita. Dan saya kira juga berlaku buat jenis tulisan-tulisan lainya seperti: esai, feature. Meski saja memang rumus 5WIH ini lebih afdol bila diperuntukkan untuk membuat sebuah tulisan jenis berita.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Dan di dalam acara workhsop tadi, penulis melihat banyak pemahat-pemahat huruf yang andal di masa depan akan lahir dari kampus ITB Yadika Pasuruan. Penulis berkeyakinan serta berharapan besar akan perihal itu. Karena menulis ini adalah sebuah keterampilan oleh karenanya tidak bisa sekali jadi, sekali latihan langsung bisa menulis dengan apik. Menulis merupakan pekerjaan dan latihan yang bersifat maraton, jangka panjang, dan bisa jadi seumur hidup harus terus dilatih dan dilakukan, untuk sampai pada level kemampuan mahir. Sehingga sebagai penutup untuk mengakhiri sesi penulis, pesan penting itu penulis sampaikan lagi ke seluruh audiens sembari memberikan closing statement.

Ilmunya sudah Anda peroleh. Tinggal kini dan selanjutnya, waktu Anda mempraktikkan terus menerus, kawan!

Hakikat jurnalistik adalah menulis dan mengabadikan sejarah hari ini (Armazan Loebis, wartawan senior Tempo). Dan sejarah hari-hari Anda selanjutnya di bumi ini sangat ditentukan oleh kuantitas juga kualitas tulisan yang Anda buat.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Sekali lagi menulis harus menjadi sebuah kebutuhan bukan sekadar keinginan saja!

Terima kasih

AAS, 18 Desember 2022
Stasiun Bangil

Editor : Nasirudin