Kembali Kerja Sebagai Pendidik

Reporter : -
Kembali Kerja Sebagai Pendidik
Mas AAS Kembali Kerja

Memulai melakukan pekerjaan utama kembali. Yaitu sebagai pendidik, lebih tepat sebagai kawan berdiskusi. Mengajar bertemu mahasiswa di dalam kelas-kelas kuliah dimulai lagi untuk semester genap periode 2022/2023. Di kampus ITB Yadika Pasuruan.

Tiga hingga empat jam lagi, momen bertemu mahasiswa itu terjadi. Bahagia tentu saja. Sembari mempersiapkan peralatan mengajar yang diperlukan untuk mengajar mata kuliah “kewirausahaan” dan “kepemimpinan” nanti sore. RPS, dan juga PPT tentunya. Dan utamanya adalah cuaca dan suasana bahagia harus ditancapkan sejak di dalam pikiran dan juga benak ini.

Baca Juga: Jam Sekolah Selama Ramadan 1447 H/2026: Begini Aturannya dan Kegiatan yang Dianjurkan

Tidak asyik. Lagi lelah dan penat pikiran urus urusan domestik, kemudian mengajar.
Vibesnya jadi kurang menarik. Masuk kelas kudu senang dan bahagia dahulu pengajarnya.

Karena mengajar bukanlah sekadar pertunjukkan parade kejumawaan dan kepongahan kita sebagai seorang pengajar. Namun parade kebebasan dan kebahagiaan dalam berdiskusi untuk saling belajar bersama memamah bersama informasi terkini tentang yang sedang kita kaji, pelajari, juga diskusikan bersama. Apabila itu terjadi, lengkap sudah aku merasa berarti sebagai seoarang manusia!

Dan lebih sempurna lagi, tulisan ini bisa aku pahat dan ketik melalui laptop, bukan dengan gawai. Tentu saja dengan menggunakan ke sepuluh jemari tangan baik tangan kanan dan kiri dengan begitu padunya. Lupakan melihat papan keyboard lagi. Tinggal fokus menatap layar laptop sambil membayangkan wajah seorang gadis di Plaza Surabaya yang semalam aku lihat, dan sayup-sayup lagu yang bergenre soft rock dari Eric Clapton, Lionel Richie, Air Suply, Michael Bolton, Rod Steward, aku dengar suara mereka melalui Youtube. Sempurna sekali hari ini!

Tidak aku pungkiri, begitu antusias dan bersemangat sekali. Apabila diri ini bisa bertemu anak-anak muda. Alias para mahasiswaku di dalam kelas, dan acap kali di luar kelas. Karena tidak jarang aku berdiskusi dan mengajar mereka bisa di luar kelas, di mana saja. Yang penting aku senang dan mahasiswa riang dan utamanya materi kuliah secara subtansi, dan detail nya mampu tersampaikan kepada mereka. Para kaum terdidik, yang aku berharap ada dari sebagian mereka nanti, menjadi pemuda-pemuda tangguh yang mampu berkontribusi besar kepada bangsa ini, di masa depan.

Apa tidak bangga, apabila itu nanti terjadi. Dan mereka pada suatu ketika saat ditanya seorang wartawan, orang, atau temannya, “Anda bisa begitu hebat sekarang. Dahulu saat mahasiswa, diajar, dididik oleh siapa?”

Dan mereka dengan tegas dan begitu bangga. Bahwa mereka menyebut sebuah nama dengan terbata, dan terdengar pelan, karena tak kuasa menahan rasa haru. “Saya bisa begini dan sampai pada posisi di level yang sekarang. Tidak lain adalah jasa para guru-guru saya sejak dari pendidikan dasar, menengah pertama, menengah atas. Dan jasa para dosen saat kuliah di pendidikan tinggi, kuliah di ITB Yadika Pasuruan, salah satunya. Dan dosen itu salah satunya adalah dosen AAS!”

Baca Juga: Jam Masuk Sekolah Saat Ramadan di Bondowoso Dipastikan Berubah, Disdik Tunggu Edaran Pusat

Tentu saja, meski tidak mengharap yang seperti itu. Nama kita sebagai teman mereka di dalam kelas, masih diingat oleh para mahasiswa kita. Saya kira itu pencapaian tertinggi yang tak cukup bahasa ini mengungkapkan rasa senang yang akan hadir pada setiap pendidik. Siapa pun itu.

Sehingga saat mau bertemu para mahasiswa di dalam kelas. Saya selalu melakukan ritus personal dahulu. Setidaknya, saya harus bersihkan sampah-sampah pikiran, dan penyakit hati kalau itu ada, yang mungkin masih melekat di dalam pikiran dan benak ini. Masuk kelas benar-benar kudu bersih dahulu: bersih pikiran dan bersih hati dari anasir-anasir tak berguna.

Mahasiswaku sore nanti aku pasti hadir di kelas, kuliah kita yang pertama. Seperti biasa aku akan datang tepat waktu di dalam kelas, bahkan 10 menit aku usahakan datang dahulu di dalam kelas, sambil menunggu kehadiranmu.

Mari kita belajar dan kuliah dengan perasaan senang dan bahagia. Agar ilmu itu meresap dan melekat kuat dalam benak dan ingatan kepala kita masing-masing.

Baca Juga: Seni Berjanji

Dan yang pernah kita pelajari, ada bekasnya, itu saja.

Demikian dan terima kasih.

AAS, 13 Februari 2023
Ruang Belajar Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi