Oleh: Ken Bimo Sultoni*

Kartono, Kakak Kartini Sang Begawan Catur Murti

oleh : -
Kartono, Kakak Kartini Sang Begawan Catur Murti

Hari ini tepat pada tanggal 21 April Indonesia merayakan hari emansipasi bagi seluruh perempuan Indonesia atau yang biasa dikenal dengan Hari Kartini. Sosok Kartini merupakan simbol kebangkitan peran dan kedudukan perempuan dimata masyarakat yang kala itu masih menerapkan sistem feodal serta patriarki dalam lingkup hubungan sosial kemasyarkatannya.

Meski begitu masih sedikit yang mengetahui dibalik pemikiran serta tindakan revolusioner Kartini terdapat sosok sang kakak RMP Sosrokartono atau biasa dipanggil Kartono sebagai pemantik pemikiran RA Kartini.

Kartono merupakan salah satu sumber inspirasi serta tokoh yang paling berpengaruh terhadap semangat emansipasi serta pemikiran Kartini kala itu. Sebagai seorang kakak Kartini masih sedikit yang mengetahui tentang sosok Kartono ini, hal ini juga dikarenakan prinsip nilai yang ia pegang dan ia ajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak haus pada nama besar. Prinsip nilai ini dikemudian hari dikenal dengan filosofis nilai Catur Murti atau empat prinsip nilai tingkah laku manusia.

Sebagai seorang begawan Catur Murti, sosok Kartono dipandang sebagai sosok yang sangat sederhana serta bijak. Layaknya sosok sufi atau orang bijak dalam dunia Islam, Kartono merupakan sosok sufi yang menggabungkan nilai-nilai Jawa dan Islam dalam kehidupannya. Kartono kecil dilahirkan dari pasangan suami istri RM Adipati Ario Sosroningrat dengan Ngasirah. Kartono, demikian nama kecilnya, merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara, sementara Kartini merupakan anak keempat.

Semasa muda Kartono dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan juga pintar, selain itu ia dikenal juga dikalangan orang Belanda sebagai sosok yang rupawan. Berkat kecerdasan serta latar belakang keluarganya mengantarkannya sebagai orang pribumi pertama dari Hindia Belanda yang dapat berkuliah di Universitas Leiden Belanda sejajar dengan orang-orang kelonial Belanda kala itu.

Di Leiden ia mengambil jurusan bahasa dan kesusastraan timur yang membentuk dirinya menjadi filsuf Jawa yang bukan saja ahli dalam Sastra Timur khususnya Jawa, akan tetapi juga sebagai seorang poliglot dengan penguasaan 9 bahasa timur dan 17 bahasa barat. Saking cerdasnya, teman-teman Eropanya menjulukinya sebagai Si Jenius dari Timur.

Semasa kuliah di Belanda sama halnya seperti pemuda pada umumnya Kartono muda menikmati gaya hidup layaknya pemuda Eropa kala itu yang sering pergi ke pesta serta bergaul dengan lingkungan para pejabat, bangsawan serta aristokrat Belanda. Hal ini pula yang menurut sumber dari  Belanda membuatnya kesulitan untuk dapat menyelesaikan tesis serta terlilit utang cukup besar.

Pada tahun 1980 setelah kelulusannya dari Leiden pun Kartono tak langsung kembali ke tanah air, akan tetapi melakukan pengembaraan ke penjuru Eropa sebagai seorang wartawan. Keahliannya dalam bidang bahasa dan kesusasteraan mendukung profesinya kala itu sebagai wartawan pribumi di benua biru tersebut.

Dikutip dari Historia.id pada tahun 1917 dikala perang dunia pertama berkecamuk, Kartono mengikuti lowongan sebagai seorang wartawan perang pada  koran Amerika N.Y Herald Tribunne di kota Wina, Austria. Salah satu pencapaiannya sebagai seorang wartawan adalah dikala ia meliput sebuah pemberitaan rahasia terkait perundingan yang dilakukan oleh pihak sekutu dengan Jerman atas berakhirnya perang dunia 1 yang dikemudian hari dikukuhkan dalam suatu perjanjian yang kita kenal sebagai perjanjian Versailles tahun 1919.

Selepas karirnya sebagai seorang wartawan, keahliannya dalam bidang bahasa mengantarkannya menjadi seorang penterjemah liga bangsa-bangsa yang tak lain merupakan cikal bakal perserikatan bangsa-bangsa yang ada saat ini. Pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan yang sangat mentereng, dikarenakan saat itu sangat jarang ditemukan orang yang ahli dalam banyak bahasa, terlebih ia berasal dari negara dari timur jauh sebutan bagi Hindia Belanda kala itu. Ia menjalani pekerjaan tersebut selama kurang lebih 3 tahun lamanya.

Selama ia bekerja sebagai penerjemah di lembaga Internasional tersebut Kartono harus menghadapi kekecawaan bahwa lembaga yang menurutnya dapat mengakomodir seluruh kepentingan negara-negara yang bernaung didalamnya dan menciptakan perdamaian di dunia menjadi lembaga yang tidak netral dan hanya menjadi alat kepentingan golongan kelompok negara-negara tertentu.

Sehingga hal ini lah yang membuatnya untuk mundur dari posisinya sebagai penerjemah dan kembali pulang ke tanah air. Selepas kepulangannya ini banyak jabatan mentereng yang sebenarnya ditawarkan kepadanya, akan tetapi ia tolak. Tak ada alasan yang pasti mengapa ia menolaknya, akan tetapi Kartono semenjak muda telah dikenal sebagai sosok yang memegang teguh nilai-nilai luhur, prinsip serta budaya bangsanya, sehingga tidak mengherankan bahwa selama pengembaraanya di benua biru membuatnya menjadi sosok yang arif, bijak serta membumi dan tidak membentuknya menjadi bangsawan pribumi pada umumnya yang kala itu cenderung bersifat feodal dan semena mena kepada rakyat kecil.

Hal ini terbukti bagaimana ia menelurkan buah pikiran Catur Murti yang berisi petuah prinsip dan nilai tentang pikiran, perasaan, perbuatan, dan perkataan, yang menurut hemat penulis merupakan hasil dari pengalaman, pengembaraan serta kontemplasinya disaat ia merantau di negeri Ratu Wilhelmina tersebut.

Catur Murti merupakan prinsip nilai yang dihasilkan oleh Kartono sebagai antitesa dari pengalaman hidup yang ia alami selama di Eropa dengan budaya yang ia miliki sebagai seorang Jawa dengan latar priyayi. Catur Murti tokoh yang dijuluki De Javanese Prins ini sangat relate dengan keadaan bangsa ini yang cenderung mengamini masuknya budaya asing dan secara tidak langsung meninggalkan nilai-nilai tradisi dan budaya agung yang dimiliki oleh bangsa ini.

“Sugih tanpa bandha digdaya tanpa aji nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake” inilah sepenggal kutipan terakhir dari begawan Catur Murti. Prinsip Catur Murti merupakan gagasan Kartono yang harus ditumbuhkembangkan oleh generasi muda Indonesia saat ini, prinsip ini perlu diaktualisasikan guna mencetak masa depan penerus bangsa yang autentik dan original dengan budaya bangsa dalam menghadapi globalisasi yang terjadi saat ini.

*)penulis adalah mahasiswa S2 Universitas Indonesia.

Pengurus PB HMI