oleh : Ken Bimo Sultoni

Menyalakan Kembali Api Islam Melalui Semangat Keilmuan

oleh : -
Menyalakan Kembali Api Islam Melalui Semangat Keilmuan

Perkembangan pemahaman akan nilai dan tata kelola sistem kehidupan umat islam teruslah berkembang, hal ini pun berjalan seiringan dengan kemajuan yang dicapai umat manusia dalam merumuskan tata kelola hidup yang lebih baik. Dahulu di awal kelahiran agama Islam Nabi besar kita Muhammad SAW menyematkan fondasi awal akan pentingnya nilai Tauhid dan Iman kepada umat manusia yang kala itu terpuruk pada era kebodohan (Jahilliyah). Fondasi awal inilah yang menjadi titik balik perkembangan umat yang kala itu diselimuti oleh selubung kebodohan menuju zaman pembaharuan pemikiran yang berdasarkan keilmuan. Ilmu dalam kehidupan umat islam berperan layaknya lentera (Api) yang menerangi dunia dan menciptakan suatu zaman pembaharuan dari zaman Kebodohan. Zaman pembaharuan ini juga juga didukung dari keberhasilan para pemikir islam atau Ilmuwan Muslim untuk merumuskan pentingnya semangat keislaman yang luhur. Nilai islam yang universal (Rahmatan Lil Alamin) menjadi alat bantu layaknya kompas bagi para Ilmuwan Muslim ini agar dapat membuat nilai-nilai keislaman semakin dapat dirasakan tak hanya oleh umat islam sendiri akan tetapi juga seluruh alam dan seisinya.

Dalam tiap lintasan waktu dan zaman, kehidupan umat manusia di dunia selalu mengalami perkembangan baik dari sendi-sendi kebutuhan yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Diantara dua hal tersebut pulalah nilai-nilai keislaman menjadi pengikat dan media bagi umat islam dalam memahami arti penting kehidupan dan kematian. "Yang patah tumbuh, yang hilang berganti" kutipan lagu salah satu Band Indonesia bernama “Banda Neira” mengartikan banyak makna terkait dinamika kehidupan manusia saat ini. Manusia berkembang dari lahir, remaja dewasa,tua dan akhirnya mati begitulah siklus kehidupan itu terjadi dan terus berulang, dalam dunia yg fana ini kita sebagai umat manusia kadang menganggap telah mengetahui luasnya alam semesta dan seisinya padahal yang kita ketahui tak lebih besar ukurannya dari biji kembang kol di pasar.

Di alam dunia dengan waktu yang singkat dan cepat ini manusia kadang lupa bahwa betapa kecilnya dirinya hingga ia merasa tinggi hati dan sombong atas apa yg telah mereka punya, tak terkecuali dengan ilmu. Orang pandai berpikir bahwa seringkali ia menganggap bahwa ia satu-satunya individu yg paling pintar di lingkungannya bahkan mungkin juga diluar lingkungannya.  Tetapi sebelum kita menilai lebih jauh, kita harus mengerti terlebih dahulu sebenarnya apa yang dimaksud dengan ilmu itu sendiri. Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab , masdar dari – yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Pengertian ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.

Dari pengertian di atas nampaklah bahwa ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh. Hatta (1954 : 5), “pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu”. Dari generasi awal hingga ke generasi selanjutnya tak ada sesuatu hal lain yg memberikan bekas selain peninggalan berupa ilmu, baik yang cakupannya praktis ataupun teoritis. Ilmu dianggap sebagai suatu prasasti yg meliputi indikator tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa atau negara dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakatnya.

Tapi yg perlu dicermati disini adalah disaat seseorang yang berilmu tak mau bicara dan orang yang tak berilmu mempengaruhi sesamanya maka hanya kehancuran yang akan timbul dan itulah realita yang terjadi saat ini. Menurut Umar Bin Khattab orang yang berIlmu ada tiga tahapannya. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan rendah hati (tawadhu). Jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”. Disaat ia memasuki tahapan pertama ia akan merasa bahwa dirinya lah yang paling mengetahui diantara sesamanya sehingga membuat ego dalam dirinya memuncak setelah itu masuklah ia pada tahapan kedua dimana ia mulai mempertanyakan keabsahan dan kebeneran tentang ilmu yg ia miliki sehingga dalam hal ini ia merasa rendah hati, tahapan paling akhir adalah tahapan dimana ia diposisi sebagai seseorang yang pada dasarnya tidak mengetahui apa apa tentang apa yang sebenarnya terjadi di alam dunia ini karena begitu banyaknya ilmu yang ia dapatkan dan mengantarkannya pada satu kesimpulan bahwa Tuhan lah yang Maha Mengetahui.

  1. Al-Baqarah [2] : 137

 

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Hal ini sama seperti apa yang disampaikan oleh filsuf yunani yang mendapat julukan sebagai gurunya para ahli filsafat besar yaitu socrates. Ia mengaku sebagai orang yang tak tahu apa-apa, suatu sikap terkenal dengan istilah Ironi Socrates. Ironi Socrates sendiri adalah suatu teknik diskusi yang dilakukan oleh  Socrates yaitu dengan cara berpura-pura bodoh. Dengan berpura-pura bodoh dan tidak tahu mengenai apa yang dibicarakan lawan bicaranya Socrates bisa menghilangkan sifat waspada dari lawan bicara dan kemudian menggiringnya. Jika lawan bicara sudah digiring dia dengan mudah disudutkan dan dipaksa untuk mengakui bahwa pengetahuannya mengenai hal itu masih kurang. Dalam hal ini socrates mencoba memberikan pemahaman kepada lawan bicaranya bahwa seseorang yang menggap dirinya mengetahui segalanya pada dasarnya belum mengetahui apa apa. Disini tercermin sikap tawadhu (rendah hati) seorang filsuf besar dalam memandang suatu ilmu.

Generasi saat ini adalah perkembangan dari generasi sebelumnya banyak perbedaan yang terjadi diantara keduanya. Generasi tua adalah generasi yang sudah habis masa baktinya terhadap dunia dan hanya menjadi pengamat bagi sesamanya. Lain halnya dengan generasi muda yang menjadi tulang punggung perkembangan suatu bangsa dan majunya peradaban manusia. Mereka masih memiliki waktu untuk dapat membaktikan hidupnya terhadap sesamanya, bangsa dan juga tuhannya. Mereka lah para penerus yang harus ditumbuhkembangkan dengan siraman ilmu, agar tidak menjadi generasi maha tahu yang sebenarnya tak tahu.

Layaknya kutipan lagu Banda Neira diatas  "yang patah tumbuh, yang hilang berganti". Biarlah yang tua berlalu saatnya generasi muda yang tumbuh dan menggantikannya hingga ia dapat memberikan corak baru bagi sesamanya dengan semangat yang sama dengan terdahulu. Sebagai penerus generasi terdahulu, pemuda saat ini harus bisa menggagas dan mencipta yang baru menjadikan ilmu dan pengalaman sebagai landasan jelas untuk dapat mengabdi kepada masyarakat secara langsung dan bukan hanya menjadi pengikut atas apa yang telah ada ataupun menjadi individu yang tahu sedikit tapi banyak melakukan kerusakan. Para founding father bangsa ini menggagas konsep  bangsa ini untuk dapat mandiri dan merdeka, dan kita sebagai generasi muda harus dapat merealisasikannya dengan semangat juang yang tinggi untuk dapat menumbuh kembangkan semangat kemandirian tersebut. Pendidikan merupakan pilar utama berdirinya suatu bangsa, Ki Hadjar Dewantoro yang terkenal sebagai bapak pendidikan indonesia membuat suatu semboyan :

IngNgarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Penjabaran dari semboyan tersebut adalah, (1) Ing Ngarso Sung Tulodo : Dilihat dari asal katanya, maka ing ngarso sung tuladho itu berasal dari kata ing ngarso yang diartikan di depan, sung (lngsun) yang artinya saya, dan kata tulodo yang artinya tauladan. Dengan demikian arti dari semboyan ki Hajar Dewantara yang pertama ini adalah ketika menjadi pemimpin atau seorang guru harus dapat memberikan suri tauladan untuk semua orang yang ada disekitarnya. (2) Ing Madyo Mbangun Karso : Dari asal katanya, maka Ing Madyo Mbangun Karso berasal dari kata Ing Madyo yang diartikan di tengah-tengah, Mbangun yang memiliki arti membangkitkan dan karso yang memiliki arti bentuk kemauan atau niat.

Dengan demikian makna dari semboyan Ki Hajar Dewantara yang kedua ini adalah seorang guru di tengah-tengah kesibukannya diharapkan dapat membangkitkan semangat terhadap peserta didiknya. (3) Tut Wuri Handayani : Dari asal katanya, Tut Wuri Handayani, dirangkai dari kata tut wuri yang memiliki arti mengikuti dari belakang da kata handayani yang memilki arti memberikan motivasi atau dorongan semangat. Dengan demikian semboyan ki Hajar Dewantara yang ketiga ini memiliki makna bahwa seorang guru diharapkan dapat memberikan suatu dorongan moral dan semangat kepada peserta didik ketika guru tersebut berada di belakang.Pengabdian dalam bidang pendidikan dan kemajuan bidang perekonomian merupakan ujung tombak semangat keislaman dalam mewujudkan cita cita umat Islam yang berdaulat, adil dan makmur.

 

Mahasiswa S2 UI

Pengurus PB HMI