Oleh : Tsabita Fathin Daniya

Tuan A.Hassan :Guru Hebat dibalik Sosok Muhammad Natsir

oleh : -
Tuan A.Hassan :Guru Hebat dibalik Sosok Muhammad Natsir
Tuan A.Hassan (Kedua dari kiri)

Mohammad Natsir, atau yang lebih dikenal dengan sebutan M. Natsir adalah seorang guru sekaligus negarawan ulung asal Alahan Panjang, Sumatera Barat. Ia adalah seorang pejuang yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia. Di balik nama besar M. Natsir terdapat tokoh-tokoh hebat yang berjasa besar membimbing dan mengajarkannya. Di antara tokoh hebat itu ialah Tuan Hassan.

 

Pertemuannya dengan Tuan A. Hassan terjadi pada tahun 1927, ketika Natsir tengah bersekolah di AMS (Algemene Middelbare School). Adalah Fachruddin, sahabat karib Natsir yang pertama kali memperkenalkannya dengan Guru Utama Persatuan Islam (Persis) tersebut. Sejak pertama kali bertemu dengan Tuan Hassan, Natsir tertarik dengan kesederhanaannya. Tuan Hassan tidak sungkan untuk terjun langsung mengajari anak didiknya.

 

Ketika Natsir datang pertama kali, Tuan Hassan tengah menyusun tafsir Al Quran yang diberi judul Tafsir Al Furqan. Ia sendiri yang menulis, mengoreksi, mengajari karyawannya cara menjilid, dan menentukan akan kemana kitab ini dipasarkan. Kesederhanaannya membuat Natsir merasa nyaman bertukar pikiran dan berdiskusi dengan Tuan Hassan. Bahkan, sering kali mereka terlibat dalam perdebatan. Masalah yang mereka bahas seringkali mengenai permasalahan umat Islam, politik, dan kemasyarakatan.

 

Pertemuannya dengan Tuan Hassan semakin membuka pandangan Natsir untuk mendalami Islam kembali. Apalagi setelah peristiwa khutbah di gereja yang dibawakan oleh Dr. Christoffel. Ada dua pidato yang dibawakan oleh domine (Pendeta Kristen Protestan) tersebut, pertama berjudul “Quran en Evangelie (Perbandingan antara Quran dengan Ajaran Nabi Isa)”, dan pidato kedua berjudul “Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Rasul)”. Kedua pidato tersebut sampai pada kesimpulan bahwa yang benar-benar rasul hanyalah Nabi Isa Al-Masih.

 

Isi pidato Dr.Christoffel tentunya sangat menyayat hati Natsir muda. Akan tetapi, apa boleh buat, pidato tersebut bersifat monolog dan tidak bisa diprotes. Untungnya, keesokan harinya ceramah Dr.Christoffel dimuat di surat kabar Algemene Indish Dagblad (AID). Natsir tidak mau menyia-nyiakan peluang tersebut. Ia menyusun tulisan untuk menjawab khutbah Dr.Christoffel . Didatanginya Tuan Hassan untuk menerima bimbingan darinya.

 

Mulailah Natsir mencari  bahan untuk tulisannya. Dibacanya buku-buku sejarah Islam dan riwayat Nabi Muhammad, baik itu dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Hampir setiap sore ia datang ke rumah Tuan Hassan. Namun, ada yang menarik dari Tuan Hassan. Ia tidak ingin Natsir menerima begitu saja ilmu darinya atau bahkan mendiktekan bantahan terhadap pidato Christoffel. Maka dari itu, untuk mengasah kemampuan berpikir kritis Natsir, Tuan Hassan memberinya buku-buku atau kitab yang dapat membantah pidato Dr.Christoffel.

 

Dari buku-buku yang diberikan Tuan Hassan, Natsir membaca dan menyusunnya dengan kata-katanya sendiri. Ketika ada hal yang tidak dimengerti ia menanyakannya kepada A. Hassan. Namun, bukannya memberikan jawaban langsung, A. Hassan justru memberinya buku yang lain sebagai jawabannya. Bantahan tersebut akhirnya Natsir selesaikan dan dimuat di surat kabar AID. Karangannya merupakan buah pemikirannya sendiri dan mampu ia pertanggungjawabkan. Oleh A.Hassan tulisan Natsir itu diterbitkan menjadi buku dengan judul Quran en Evangelie, Muhammad als Profeet.

 

Hubungannya dengan Tuan Hassan semakin dekat. Setiap ada permasalahan, Pak Natsir mendiskusikannya dengan Tuan Hassan. Ketika ada masalah yang belum bisa dipecahkan oleh Pak Natsir, Tuan Hassan memberinya buku untuk dibaca dan dipelajari. Esok harinya, ia harus menguraikan permasalahan tersebut dan solusinya. Begitulah cara Tuan Hassan mendidik anak muda seperti Pak Natsir. Ia tidak ingin anak didiknya hanya menjadi burung beo yang “manut-manut” saja dengan pendapat gurunya tanpa menggunakan akalnya.

 

Tuan Hassan memperlakukan Natsir sebagai pribadi yang merdeka. Ia tidak pernah mendiktekan kehendaknya. Tuan Hassan beranggapan bahwa yang muda itu bisa tumbuh, dan ia berperan sebagai pembimbing bukan pendikte. Darinya, Natsir mendapatkan kedalaman ilmu agama. Ia terpesona dengan cara Tuan Hassan menyampaikan Islam. Islam dihubungkan dengan realitas yang ada, sehingga masyarakat dapat menerimanya dengan mudah. Pembelajaran inilah yang membuat Natsir tumbuh menjadi pribadi yang mampu berdakwah dengan hikmah.

 

Kelak di kemudian hari Natsir muda menjelma menjadi tokoh hebat yang memiliki peran besar bagi bangsa dan agama. Lahir dari pemikirannya Mosi Integral untuk menyatukan NKRI. Peran sentral Pak Natsir pula yang mempelopori lahirnya partai MASYUMI untuk menyatukan berbagai elemen kaum muslimin. Bahkan setelah MASYUMI dibubarkan, beliau tetap berkiprah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia sebagai wadah pemersatu gerakan dakwah di Indonesia.

 

Seluruh peran perjuangan dan pencapaian M.Natsir tentu tak bisa kita pisahkan dari sosok guru hebat di belakangnya. Tuan A.Hassan. Beliau telah berhasil membina dan mendidik Natsir Muda agar tumbuh menjadi da'i pejuang yang bukan hanya dikenal sebagai ulama namun juga sebagai negarawan.

 

Oleh : Tsabita Fathin Daniya, 19 tahun-

Mahasiswi Attaqwa College Depok