Perlu Penyelidikan epidemiologi asal virus PMK

oleh : -
Perlu Penyelidikan epidemiologi asal virus PMK
Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan ST

Jakarta (Jatimupdate.id) - Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi merebak di berbagai daerah Indonesia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran jika keamanan pangan nasional terganggu. Oleh karena itu, pemerintah harus bergerak cepat. Demikian disampaikan anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, Rabu (11/5).

Fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan penyebaran virus, Ketua Umum Komite Pendayagunaan Pertanian Teguh Boediyana mengatakan, kebijakan pemerintah mencegah penyebaran PMK lebih luas sudah tepat patut diapresiasi.

"Jawa Timur itu sentra sapi nasional, mewakili 40% populasi. Persoalan nanti ini berdampak ke harga dan pasokan daging segar ke depan, itu nanti. Tapi ini penyakit, sama seperti Covid-19, virus, nggak bisa ditawar. Fokus utama saat ini adalah pencegahan penyebaran," kata Teguh, Selasa (10/5/2022).

"Jika tak dilakukan pencegahan dari sekarang, penyebarannya akan lebih meluas dan parah," kata Teguh.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Muhammad Munawaroh menyebut Indonesia sudah bebas wabah PMK sejak 1990.

”Indonesia sudah sejak 1990 diakui bebas PMK oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia,” kata Munawaroh.

“Wabah yang kembali terjadi erat terkait dengan lemahnya pengawasan lalu lintas ternak, terutama dari negara-negara yang belum bebas PMK."

Salah satu penyebab lemahnya pengawasan, lanjut Munawaroh, adalah berbagai tugas tambahan yang diberikan kepada karantina pada Kementerian Pertanian.

Seharusnya, kata dia, karantina lebih fokus pada tugas pengawasan lalu lintas ternak antardaerah.

”Saya heran mengapa ternak, terutama domba, misalnya dari Malaysia yang belum bebas PMK, bisa masuk dan terdistribusi sampai Wonosobo (Jateng) dan Malang (Jatim) sehingga meningkatkan risiko wabah dan terbukti,” lanjutnya.

Langkah strategis yang perlu dilakukan, menurut dia, ialah penyelidikan epidemiologi, vaksinasi, pemusnahan ternak yang sakit, dan peningkatan pengawasan lalu lintas ternak.

Sebab, jika wabah meluas ke kabupaten/kota lainnya di Jatim, akan mengancam ketahanan pangan, terutama protein hewani.