Catatan Mas AAS

Cokro Manggilingan

Reporter : -
Cokro Manggilingan
Mas AAS

Pagi ini sedang duduk di sebuah gedung di Kampus B Unair Surabaya, janjian bertemu kolega dan mengurus sesuatu. Sehabis tadi mengantar istri ke kantornya.

Lama tidak ke Unair, di kampus B. Tempat cangkruk yang dahulu di dalam kampus biasa-biasa saja namun membuat hati ini nyaman. Perubahan besar-besaran sepertinya sedang terjadi. Kini tempat bersejarah itu telah menjadi gedung dengan dindingnya yang menjulang begitu tinggi.

Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Catat 182.819 Penumpang Bakal Mudik pada H -2 Hari Raya Idul Fitri

Boleh jadi sang pembuat gedung berharapan besar, para penghuni kampus alias para mahasiswanya. Memiliki mimpi yang tinggi juga sepadan dengan gedung-gedungnya yang bertransformasi!

Suasananya kini jadi berubah. Kampus nya laksana Mall saja.

Sembari menunggu datangnya sahabat. Di tempat yang sudah di janjikan. Maka demi mengusir rasa bosan yaitu menunggu. Penulis habiskan waktu dengan melipatnya menjadi ringkas dan cepat dengan kegiatan menganyam huruf, olahraga jari jemari menata huruf-huruf!

Terlintas kemudian di pikiran.
Ada pelajaran dari pergantian siang dan malam. Yang bisa penulis petik hikmahnya pada waktu pagi sekarang. Sembari duduk di kursi sofa yang empuk di dalam sebuah gedung yang tinggi!

Setiap hari selalu baru. Berharap pada hati dan jiwa ini juga bisa terbarukan terus menerus. Semakin murni, semakin tidak melekat kepada sesuatu. Agar semakin awas dan terampil untuk memahami makna yang diajarkan oleh semesta!

Waktu mengajarkan demikian. Menikmati momen sekarang dengan sepenuh hati adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Tanpa sedikitpun berpikir akan masa lalu pun juga masa depan. Sepenuhnya hadir di sini.

Kehidupan itu sendiri, seperti halnya transisi yang mulus dari siang ke malam dan kembali lagi, adalah bukti dari sifat siklusnya.

Seperti halnya matahari terbit dan terbenam, hidup kita ditandai dengan perubahan dan pergerakan yang konstan.

Baca Juga: Kampung Halaman

Menyelami ritme siklus ini mengajarkan kita kebijaksanaan yang mendalam: segala sesuatu berada dalam kondisi perubahan yang terus-menerus.

Dalam tarian siang dan malam, kita menemukan refleksi pasang surutnya kehidupan.

Ada saat-saat yang cerah, penuh sukacita, dan pertumbuhan, seperti halnya matahari yang menyinari hari. Namun, ada juga saat-saat kegelapan, refleksi, dan istirahat, seperti keheningan malam yang tenang.

Memahami bahwa hidup adalah sebuah siklus mengingatkan kita bahwa tantangan dan kemenangan hanya bersifat sementara, dan setiap fase merupakan bagian integral dari narasi yang lebih besar dan terus berkembang.

Kebijaksanaan ini mendorong kita untuk menerima perubahan, karena kita tahu bahwa perubahan adalah aspek yang melekat dan penting dalam perjalanan kita.

Baca Juga: Patroli Udara Rutin Helikopter AS 365 N3+ Memastikan Kelancaran Arus Mudik Banyuwangi-Bali

Seperti halnya malam yang berubah menjadi siang, dan siang menjadi malam, kita juga memiliki kapasitas untuk menavigasi siklus kehidupan dengan ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman bahwa, dalam setiap perubahan, ada peluang untuk pertumbuhan dan pembaruan.

Sepertinya aksara ini sudah terlalu panjang ditulis. Dan yang ditunggu pun sudah tampak dari kejauhan menuju ke tempat penulis.
Saatnya tulisan ini diakhiri.

Dan perubahan itu akan terus abadi berputar bak siklus cokro manggilingan. Kadang diri ini saja yang acap kali ketakutan menyambut perubahan yang akan terjadi. Disaat sudah dinina bobokan oleh keadaan yang begitu nyaman!

Apakah pembaca juga mengalami hal yang sama? 


AAS, 02 April 2024
Kampus B Unair Surabaya

Editor : Nasirudin