Lebaran adalah Menjahit Ukhuwah
Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id
Baca Juga: Jalin Kemitraan, WAGS Gelar Halal Bihalal Bersama Kapolsek dan Camat Menganti
Probolinggo, JatimUPdate.id : Lebaran bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat ukhuwah.
Selama satu bulan penuh, kita telah ditempa oleh Ramadan agar menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih peka terhadap sesama.
Maka, ketika hari kemenangan tiba, tugas kita bukan hanya merayakan, tetapi juga menjahit kembali hubungan-hubungan yang mungkin sempat terkoyak oleh kesalahpahaman, ego, atau perbedaan.
Dalam Islam, ada tiga jenis ukhuwah yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).
Lebaran adalah momentum untuk menyatukan ketiganya dalam harmoni. Kita tidak hanya bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga, tetapi juga dengan sesama anak bangsa dan bahkan dengan mereka yang berbeda keyakinan.
Salah satu tradisi yang melekat dalam perayaan Lebaran adalah mudik. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk bersimpuh di hadapan orang tua, bertemu saudara, dan mengenang masa lalu.
Mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang membawa kita kembali ke akar-akar nilai yang mungkin sempat terlupakan.
Di sana, ukhuwah kembali dijalin dengan kehangatan dan doa restu dari orang-orang tercinta.
Lebaran juga mengajarkan kita tentang memaafkan. Tradisi saling bermaafan yang dilakukan setelah salat Idulfitri bukan sekadar simbol, tetapi sebuah pengakuan bahwa setiap manusia memiliki khilaf dan kekurangan.
Dengan memaafkan, kita melepaskan beban dendam dan membuka lembaran baru yang lebih bersih. Inilah esensi dari ukhuwah: saling menerima, memahami, dan menghargai.
Namun, di era digital ini, ukhuwah sering kali diuji oleh perbedaan pandangan, terutama dalam politik dan sosial.
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi justru sering menjadi medan perpecahan.
Oleh karena itu, momen Lebaran seharusnya menjadi ajang rekonsiliasi, di mana kita kembali kepada nilai-nilai kebersamaan dan mengedepankan persatuan daripada perbedaan.
Lebaran juga mengingatkan kita tentang kepedulian sosial.
Zakat fitrah yang diwajibkan sebelum Idulfitri bukan sekadar bentuk ketaatan, tetapi juga sarana untuk memperkuat ukhuwah dengan kaum dhuafa.
Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan harus dirasakan oleh semua, bukan hanya oleh segelintir orang.
Maka, di hari kemenangan ini, kita diajak untuk berbagi dan memastikan bahwa kebahagiaan dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat.
Di tengah globalisasi yang semakin mengikis nilai-nilai tradisional, Lebaran menjadi pengingat bahwa akar budaya dan agama harus tetap dijaga.
Tradisi halal bihalal, kumpul keluarga, dan berbagi rezeki adalah warisan yang memperkuat identitas kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi ukhuwah.
Baca Juga: Angka Kecelakaan Mudik Lebaran 2025 Turun Signifikan, Korban Jiwa Menurun 32%
Lebaran juga menuntut kita untuk merenungkan makna perbedaan. Indonesia adalah negeri yang kaya akan keberagaman.
Jika dalam satu keluarga saja kita bisa memiliki pandangan yang berbeda, maka dalam skala yang lebih besar, perbedaan pasti akan lebih kompleks.
Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berpecah belah, melainkan untuk saling melengkapi dan menguatkan.
Dalam konteks keumatan, Lebaran menjadi momentum bagi para pemimpin agama dan tokoh masyarakat untuk memperkuat ukhuwah.
Konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia sering kali berakar dari hilangnya rasa persaudaraan dan kepedulian.
Oleh karena itu, para pemimpin harus menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang harmonis dan menjembatani perbedaan.
Lebaran juga menjadi refleksi bagi kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kebersamaan yang terjalin selama Ramadan dan Idulfitri seharusnya tidak berhenti di momen perayaan saja, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Persaudaraan sejati adalah ketika kita tetap menjaga silaturahmi, membantu mereka yang kesulitan, dan membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Di sisi lain, tantangan dalam menjahit ukhuwah tidak selalu mudah. Ada ego, gengsi, dan luka lama yang sering kali menghalangi proses rekonsiliasi.
Baca Juga: Bupati Lamongan Berangkatkan 409 Warga Balik Gratis ke Jakarta, Sediakan 10 Bus
Tetapi, bukankah Ramadan telah melatih kita untuk menundukkan ego? Bukankah puasa telah mengajarkan kita tentang kesabaran?
Maka, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk melangkah lebih jauh: merangkul mereka yang pernah berseberangan dan menata kembali hubungan yang sempat retak.
Momen Lebaran juga harus menjadi ajang evaluasi diri. Setelah sebulan penuh berpuasa, apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik?
Apakah ukhuwah yang kita jalin hanya sebatas formalitas, atau benar-benar terpatri dalam hati?
Lebaran bukan sekadar seremoni, tetapi awal dari perjalanan baru menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, Lebaran adalah tentang merayakan kemenangan hati. Kemenangan sejati bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi juga keberhasilan dalam menundukkan ego, menebar kasih sayang, dan menjahit ukhuwah dengan ketulusan.
Jika setelah Lebaran kita masih menyimpan dendam, masih enggan bertegur sapa, atau masih memperuncing perbedaan, maka kita belum benar-benar meraih kemenangan.
Maka, mari kita jadikan Lebaran sebagai momentum untuk membangun kembali persaudaraan yang lebih kuat, lebih tulus, dan lebih bermakna.
Karena pada akhirnya, ukhuwah yang terjalin dengan baik adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang damai dan penuh keberkahan.
Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin! (mk/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat