Catatan Mas AAS

Menjadi Seorang kader Itu Pilihan Bung!

Reporter : -
Menjadi Seorang kader Itu Pilihan Bung!
Mas AAS

Tauhid seorang kader akan terus diperbarui. Seiring peristiwa hidup yang menghampiri dan mampu diselesaikannya. Senang susah, laksana sebuah siklus bergantinya pagi dan malam datang silih berganti.

Sebuah pembukaan untuk menggambarkan sebuah pesona yang dialami penulis pada hari ini tadi. Sesaat silaturahmi di kampus perjuangan UB Malang dalam momen hari raya Idul Fitri yang masih berlangsung bulannya. Bertemu kawan, kolega, dan rekan seperjuangan yang sama-sama pernah memamah sebuah kurikulum pengkaderan di organisasi yang sama.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Jadi kader pantangan menjadi lembek apalagi nelongso saat goncangan hidup menghadapi. Didikan organisasi tidak diperuntukkan untuk menghasilkan sosok yang cengeng, melempem, dan tidak berdaya atas keadaan yang dialami.

Dunia itu kejam Bung. Anda lembek, masa depan hidup Anda akan ditentukan oleh orang lain. Nilai dasar perjuangan di organisasi tidak menghendaki itu terjadi. Kita didesain menjadi manusia merdeka seturut DNA murni yang kita miliki masing-masing. Jadi tidak ada cara lain: Jatuh terjerembab ditinggalkan orang, kawan. Anda sendiri yang harus bangkit dan lawan pongahnya kehidupan itu. "Hidup ini keras Bung, sekeras makanan kesukaan saya saat kecil yang sekarang tak bisa saya kunyah lagi!" Cari makanan kesukaan yang lainnya, jangan mengiba agar makanan lawas berubah bentuknya. Sepertinya itu tidak mungkin, kita yang harus berubah cari makanan kelangenan lainnya, kalau mau masih dihargai sebagai seorang kader. "Begitu bung, menurut hemat penulis yang biasa menggoreng nasi di pinggir jalan saat malam tiba!"

Seorang leader itu sudah menjadi pola sejak di jaman purba. Ia jalan sunyi sendirian harus ditempuh hingga amanah itu kelar. Tidak ada belas kasih kepada seorang pemimpin. Pemimpin laksana sebagai wadah pembuangan sampah akhir. Seluruh kenikmatan hidup ia akan peroleh belakangan sepertinya menurut pandangan manusia pada umumnya. Namun pada pandangan penduduk langit ia menjadi seorang kekasih, sadari serta yakini itu. Jadi seorang kader sudah bawaan orok harus berani bertarung. Hingga dunia itu tunduk mengiba kepada kita, bukan sebaliknya!

Penulis kira, perjalanan seharian di kampus perjuangan UB tadi. Membuka kunci pandora sebuah rahasia. Bahwa ketakutan yang acap kali menghampiri kita, cara exit paling efisien bukan menghindar namun harus dihadapi, dilawan, begitu.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Kadang buku saku perjuangan milik organisasi harus dibuka sesekali. Untuk mengingatkan kita semua. "Bahwa kita adalah seorang kader yang telah berproses begitu panjang. Dan kurikulum organisasi yang sudah kita pelajari bersama bukan sebagai angin surga yang akan kita terima nanti di alam penantian. Buktikan itu sekarang sesaat hidup masih dikandung badan bung! Bagaimana apakah Anda sepakat? Kalau sepakat mari kita bekerja bergandengan secara mesra kepada pemilik dari alam raya ini!" Itu sepertinya sebuah hidup yang layak kita perjuangkan!

Serta menjadi layak: setiap bangun dari tidur pagi kita akan selalu bersemangat menjalani hari, kerana ada misi agung yang akan kita kerjakan bersama-sama sesama sebagai seorang kader.

Sepertinya guyon maton parikeno petang ini dalam bentuk larikan sebuah aksara telah cukup panjang. Penulis harus bijaksana untuk segera diakhiri tulisan ini. Agar tidak terlalu panjang dibaca!

Baca Juga: 17 Badan Usaha Milik Perguruan Tinggi Negeri Hadiri Silatnas III Forum Bisnis Di UB

Demikian saja, karena penulis juga harus bersiap masuk kelas di kampus ITB Yadika Pasuruan. Bertemu para tunas muda harapan bangsa ini di masa depan! Menemani dan mendidik mereka adalah jalan ninja yang dipilih oleh penulis untuk sarana meminta berkatNya, aamiin yra...

AAS, 22 April 2024
Warkop Langganan Sukorejo

Editor : Nasirudin