Mengapa Petahana Selalu Kalah Dalam Pilkada Ponorogo ? Begini Penjelasannya !

Reporter : -
Mengapa Petahana Selalu Kalah Dalam Pilkada Ponorogo ? Begini Penjelasannya !
Lingkungan Gedung Pemerintah Kabupaten Ponorogo

Ponorogo, Jatimupdate.id - Sejak Pilkada secara langsung pada tahun 2005 hingga 2020, petahana selalu mengalami kekalahan di Pilkada Ponorogo, menyebabkan bergantinya bupati setiap lima tahun.

Pada Pilkada 2005, terdapat lima pasangan calon bupati yang ikut serta. Pasangan Supriyanto dan Handoko Sudrisman, diusung oleh partai PDI-P dengan nomor urut 01, bersaing dengan Muhadi Suyono dan Amin dari PKB (nomor urut 02), Yuli Nursanto dan Achmad Soenarno dari Partai Demokrat dan PPP (nomor urut 03), serta Asmuni dan Soesilo Hadi Soeprapto dari Partai Golkar (nomor urut 04).

Baca Juga: Prediksi Peningkatan Jumlah Pemilih Dalam Pilkada 2024, KPU Jatim Mutakhirkan Data Pemilih

Pasangan nomor urut 05 adalah Moch Supadjar dan Muryanto, diusung oleh sejumlah partai. Pada Pilkada ini, pasangan Muhadi Suyono dan Amin memenangkan pemilihan dengan 222.647 suara atau sekitar 45,2 persen.

Menurut Arwan Hamidi dari KPU Ponorogo, "Saat itu yang menang pasangan 02, Muhadi Suyono dan Amin."

Pada Pilkada 2010, pasangan Muhadi Suyono dan Yusuf Pribadi (Hayu) dari PKB, PDI-P, dan PKS mendapat 166.870 suara atau 32,15 persen, namun pasangan Amin-Yuni Widyaningsih (Ada) dari Partai Golkar berhasil memenangkan Pilkada dengan 248.651 suara atau 46,3 persen.

"Pemenangnya saat itu paslon 02, Amin-Yuni," kata Arwan.

Pilkada 2015 melihat empat pasangan calon. Pasangan Ipong Muchlissoni-Soedjarno dari Gerindra, PAN, dan NasDem memenangkan pemilihan dengan 219.958 suara atau 39,37 persen, sedangkan pasangan Sugiri Sancoko-Sukirno dari Partai Golkar, Demokrat, dan PKS hanya mendapat 205.587 suara atau 36,8 persen.

Arwan menjelaskan, "Waktu itu, pemenangnya pasangan Ipong-Soedjarno hanya selisih 2,57 persen dari pasangan Sugiri-Sukirno."

Baca Juga: KPU Bondowoso Gelar Pelantikan dan Pengucapan Sumpah Anggota PPS untuk Pilkada 2024

Dalam Pilkada 2020, pasangan Sugiri Sancoko-Lisdyarita dari koalisi PDIP, PAN, PPP, dan Hanura berhasil memenangkan Pilkada dengan perolehan 352.047 suara atau 61,7 persen, sementara pasangan Ipong Muchlissoni-Bambang Tri Wahono dari NasDem, PKB, Gerindra, Demokrat, Golkar, dan PKS hanya mendapat 218.073 suara atau 38,3 persen.

Arwan menyatakan, "Peraih suara terbanyak paslon 01, pasangan Sugiri-Lisdyarita."

Menurut Arwan, dalam empat Pilkada langsung di Ponorogo, petahana selalu mengalami kekalahan. Namun, Arwan menegaskan bahwa KPU tidak memiliki kewenangan untuk menafsirkan kekalahan tersebut.

"Ya, biasa saja. Dalam demokrasi ada yang terpilih dan ada yang tidak. Mungkin kebetulan di Ponorogo demikian," tandas Arwan.

Baca Juga: Pelantikan Anggota PPS Sidoarjo, Plt Bupati Subandi Tekankan Pentingnya Netralitas

Sementara itu, Praktisi Kebudayaan Ponorogo Ki Purbo Sasongko, mengomentari karakter masyarakat Ponorogo yang unik, menyatakan bahwa warga Ponorogo cenderung bersikap terbuka dan agresif, dengan reaksi yang cepat terhadap hal-hal yang mereka anggap tidak sesuai.

Menurutnya, "Danyang adalah kristalisasi pendapat dan keinginan wong Ponorogo karena kesamaan frekuensi pemikiran."

"Sakcukupe wae (seperlunya saja). Danyang menurut pemahaman orang kan yang mbaurekso. Namun dalam pandangan saya Danyang adalah kristalisasi pendapat dan keinginan wong Ponorogo karena kesamaan frekuensi pemikiran. Nah sedikit kekecewaan akan langsung direaksi oleh Masyarakat dengan pemikiran agresif," pungkas Purbo. (DT)

Lantas, bagaimana dengan Pilkada 2024. Menarik untuk kita tunggu.

Editor : Redaksi