Oleh : MS.As-Syadzili*

Bayang-Bayang Mar'ie Muhammad di NDP HMI dan Kekesalannya Pada M.Natsir

Reporter : -
Bayang-Bayang Mar'ie Muhammad di NDP HMI dan Kekesalannya Pada M.Natsir
Ket.Gambar : Mar'ie Muhammad

Siapa nyana, ternyata selain terinspirasi dari St.Sjahrir dan Willy Eicher, Cak Nur juga didorong oleh sosok lain kala menyusun Nilai-Nilai Dasar Perjuangan. Bila dari St.Sjahrir, Cak Nur mencomot kata Perjuangan pada buku Sjahrir yang berjudul ‘Perjuangan Kita’. Sedangkan kata Nilai-Nilai Dasar diambil dari buku karya tokoh sosialis demokrat Jerman, Willy Eicher, yang berjudul The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialism.

Sosok lain yang juga menstimulir Cak Nur adalah Mar’ie Muhammad. Dalam training perkaderan di HMI, terkadang peran Mar’ie ini jarang disebut-sebut. Padahal, dialah yang menstimulir Cak Nur untuk menyusun NDP. Cobalah tengok pengakuan Cak Nur sendiri dalam otobiografinya yang berjudul Demi Islam Demi Indonesia. Dalam buku tersebut Cak Nur mengatakan :

Baca Juga: Saat Mar’ie Muhammad ditolak Masuk Istana Negara

“Waktu saya di Ciputat sebagai ketua cabang dan dengan sendirinya saya mengikuti training-training. Salah satu training itu diselenggarakan di Asrama Sunan Giri, sekitar tahun 1963-1964. Salah satu pemberi ceramahnya waktu itu adalah Mar’ie Muhammad sebagai Sekjen PB HMI. Ia menceramahkan Sosialisme Islam berdasarkan bukunya Tjokroaminoto. Saya sebagai peserta. Peserta lainnya Firdaus Wazdi. Kalau tidak salah juga ada Ekky Syachruddin. Saya terkesan dengan ceramah Mar’ie itu. Kemudian saya pelajari Sosialisme Tjokro. Penilaian saya buku itu hanya menjurus ke masalah sosialisme saja. Tidak mencakup weltanschaaung yang lebih luas. Lagi pula saya pikir harus ada format untuk mahasiswa. Maka, sebagai ketua cabang, saya membuat Dasar-dasar Islamisme”. (hal.56).

Seakan ingin menegaskan tentang peran Mar’ie Muhammad dalam mendorong Cak Nur saat menyusun NDP, sosok kelahiran Jombang itu mengulang kembali dan lebih memperjelas peran Mar’ie yang menggandeng tangan Cak Nur untuk menyusuri dunia pemikiran Islam, terutama pemikiran Sosialisme Islam. Di halaman lain dari buku tersebut Cak Nur mengatakan :

“ Salah satu tema dalam training-training HMI, karena memang ada apologia terhadap PKI, adalah tema sosialisme. Oleh karena itu, referensinya kepada Cokro, yang menulis buku Islam dan Sosialisme. Mar’ie paling gemar menceramahkan buku itu. Terus terang saja setelah  mendengar ceramah Mar’ie itulah kemudian saya tertarik untuk melihat lebih jauh. Lalu saya buat Fundamentals of Islamism (Dasar-dasar Islamisme) untuk di HMI Ciputat, yang kemudian  berkembang menjadi NDP, sesudah saya tambah dengan hasil refleksi saya setelah berkeliling keliling Timur Tengah.  Mar’ie lah yang waktu itu menstimulir. Dengan dibumbu-bumbui bahwa kita ini lebih konsisten dengan nilai-nilai Indonesia. Waktu itu memang disebutnya Nasakom, tapi maksudnya adalah suatu sosialisme yang religius”(hal.149)

Klop. Jadi jelas peran Mar’ie di sini, sebagai sosok yang menstimulir Cak Nur untuk mendalami lagi gagasan sosialisme religius (Sosialisme Islam) yang itu tampak jelas nuansanya berada dalam gagasan Cak Nur yang tertuang di NDP HMI. Bila dilihat dari penuturan Dawam Rahardjo lewat tulisannya yang berjudul  Djohan Effendi Dalam Peta Pemikiran Gerakan Islam, yang dimuat dalam buku Merayakan Kebebasan Beragama : Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi, Dawam memetakan adanya beberapa kutub pemikiran dari sudut Intelektual dalam tubuh HMI di dasawarsa 1960-an.

Dawam menyebutkan peran yang dimainkan oleh kutub HMI Jakarta yang dikendalikan oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia dengan aktor intelektual yang sesungguhnya adalah Mar’ie Muhammad, Ekky Syahruddin dan Fahmi Idris. Selain ketiga nama itu, Dawam juga menyebut Sulastomo, Firdaus Wajdi, Abdul Gafur, dan Ismed Abdullah. Jika ditambah dengan IAIN Ciputat, Cak Nur bisa masuk dalam kutub Jakarta ini. Namun, menurut Dawam, Cak Nur lebih menonjol sebagai simbol keislaman dan bukanlah tokoh politik. Sehingga di tahun 1960-an itu, peran-peran politik HMI dilakukan oleh tokoh-tokoh semacam Mar’ie Muhammad.

Mar’ie-lah yang memegang peranan penting di masa-masa HMI hendak dirisak oleh CGMI, organisasi mahasiswa unberbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak heran bila ada suatu artikel dalam majalah Tempo edisi 7 Agustus 1993 menyatakan, Mar’ie dikenal sebagai ahli siasat yang tahu medan sejak ia menjadi Sekjen PB HMI.

Tak banyak memang dokumen atau buku yang mewartakan peran yang dimainkan oleh Mar’ie di masa-masa kritis HMI di tahun 1960-an itu. Selain karena kepribadian Mar’ie yang tak suka tampil ke depan publik dan lebih suka berada di belakang layar, juga dikarenakan sosok satu ini tak suka bila apa yang dia lakukan ditulis dan diberitakan. Bahkan saat ada beberapa pihak yang berupaya untuk membuatkannya autobiografi, Mar’ie menolak.

“ Memangnya apa saya dibikin biografi. Pokoknya kalau mau bikin biografi, nanti saja, kalau saya sudah tiada”,tegas Mar’ie.

Baca Juga: Mar’ie Muhammad, Mr.Clean dari Rahim HMI

Mar’ie dan Upaya Penyelamatan HMI

Ahmad Gaus AF dalam Api Islam Nurcholish Madjid : Jalan Hidup Seorang Visioner, menuturkan, waktu itu September 1966, Kongres HMI digelar di Kota Solo, kota yang menjadi basis dari PKI. Suasana kongres saat itu berlangsung panas karena statement Mar’ie Muhammad yang mengatasnamakan PB HMI, meminta kepada pemerintah Orde Lama agar menghukum mati Kasman Singodimedjo. Karuan saja forum Kongres menjadi ajang untuk menghakimi dan ruang untuk menyampaikan kritik keras terhadap Mar’ie atas statementnya itu. Olehnya, tutur Cak Nur, Mar’ie dituding sebagai penganut Machiavellis.

Kasman Singodimedjo sendiri adalah tokoh dari partai Masyumi. Waktu itu, Kasman kerap mengeluarkan statement di koran-koran yang membuat gerah penguasa. Akibatnya, Kasman dinilai sebagai golongan atau kelompok yang kontra revolusioner. Imbasnya, HMI menjadi bulan-bulanan oleh beberapa ormas yang berafiliasi ke PKI. HMI memang dicap sebagai anak Masyumi, hingga membuat HMI menjadi terpojok dan tersandera.

Statement Mar’ie sendiri merupakan upaya untuk melepaskan diri dari jeratan dan prejudice sebagian pihak yang menuduh HMI sebagai anak ideologis dari Masyumi. Selain itu, statement Mar’ie adalah bagian dari strategi untuk menyelamatkan HMI. Tapi, waktu itu siapa yang bisa mengerti bahwa tujuan Mar’ie adalah untuk melindungi HMI. Dari itu, forum kongres menjadi ruang bagi cabang-cabang untuk melemparkan kritik keras terhadap PB HMI. Ada yang menilai PB HMI sudah tidak lagi memegang prinsip dan tak lagi memiliki idealisme perjuangn.

Saking kerasnya kritik yang dilemparkan oleh cabang-cabang, sampai membuat Ketua Umum PB HMI waktu itu, Sulastomo, tidak tahan dan menangis. Dalam situasi seperti itulah Cak Nur diminta dengan sangat oleh Sulastomo untuk memberikan penjelasan kepada beberapa utusan cabang di forum kongres  terkait sikap PB HMI saat itu. Momentum itu kemudian yang mengerek nama Cak Nur hingga berhasil mengantarkannya menjadi Ketua Umum PB HMI.

Baca Juga: Lika-liku dan Kisah Cinta Mahbub Djunaidi (Habis)

Dalam otobiografinya Cak Nur menuturkan, setelah terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI, sepulangnya dari Solo, ia mengajak Mar’ie untuk bersilaturahmi ke kediaman M. Natsir. Tetapi Mar’ie tidak mau. Setelah diyakinkan berkali-kali oleh Cak Nur, baru akhirnya Mar’ie mau. Berangkatlah keduanya ke kediaman M.Natsir yang menyewa rumah kecil di belakang Blora.

Dikarenakan cara hidupnya M.Natsir sudah seperti orang Barat, sedangkan keduanya datang tidak pakai appointment, akhirnya keduanya tidak diladeni. Saat itu M.Natsir hanya meladeni wartawan Belanda. Bahkan, menunjukan sikap ramah, senang, karena didatangi. Sedangkan terhadap Cak Nur dan Mar’ie yang datang ke rumanya, tak sedikit pun M.Natsir mendekat dan menyapa keduanya. Sikap ini membuat Mar’ie ngerundel. “Sudah, kita pulang saja. Tuh, benar kan Cak Nur. Orang itu memang susah”.

Begitulah Mar’ie. Sederhana. Apa adanya. Bahkan tak segan menumpahkan kekesalannya bila melihat ada ketidaksesuaian antara perkataan dengan perbuatan. Sekelas M.Natsir pun tak luput dari kekesalannya (*)

*Penulis adalah Jurnalis Jatim Update & Kerani Arsip Historia HMI

Editor : Redaksi