Catatan Mas AAS
Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Manusia selalu terikat oleh waktu: masa kecil, remaja, dewasa, hingga masa kini. Siang ini, duduk di emper omah Rungkut Surabaya, telinga terisi alunan "Gending Lawas" melalui headphone. Melodi ini memanggil kenangan masa lalu—Mbah Siswo, tetangga di rumah kampung halaman Klaten, pulang dari sawah, disambut teh ginastel (legi, panas, kenthel) oleh istrinya.
Mbah Siswo, bertelanjang dada, duduk di emper rumahnya, menyeruput teh ginastel sambil mendengarkan radio tua yang menyiarkan gending-gending lawas dari stasiun RRI Klaten. Meski suara radio tak lagi jelas, magisnya cengkok "Pelog Manyuro" tetap terasa, mengisi jiwa dan harinya. Mbah Siswo bernyanyi pelan, sembari berdoa berharap panennya "Tanaman Padi" sukses.
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Saat ini, penulis merasa serupa. Layaknya ingatan lawas yang diingat begitu jelas oleh penulis tentang Mbah Siswo. Suara sinden beserta para nayogo membunyikan gamelan: rebab, kempul, siter, kendang, membawa ketenangan, kedamaian yang begitu magis meski panas terik menyelimuti. Meski tubuh ini telah berkelana jauh, selalu kembali pada akar tempat nilai-nilai adiluhung ditanamkan.
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Gending Lawas yang dinikmati siang ini memberi istirahat berkualitas kepada penulis sebelum menghadapi jadwal pekerjaan esok hari...
Baca Juga: Memasak: Sebuah Seni dan Cara Menikmati Momen Liburan
AAS, 27 Juli 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya
Editor : Yuyung CY