Harga Cabe Rawit di Blitar dan Sekitarnya Alami Fluktuasi: Kota Blitar Capai Rp28.500/kg, Probolinggo Paling Rendah

Reporter : -
Harga Cabe Rawit di Blitar dan Sekitarnya Alami Fluktuasi: Kota Blitar Capai Rp28.500/kg, Probolinggo Paling Rendah
Ilustrasi Cabe Rawit Merah. (Pixabay)

Blitar, JatimUPdate.id - Berdasarkan data terbaru dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga komoditas cabe rawit merah di Provinsi Jawa Timur mengalami fluktuasi signifikan pada hari ini, Jumat (27/9).

Berdasarkan data dari 37 kabupaten/kota, harga rata-rata di Jawa Timur tercatat sebesar Rp31.513/kg. Harga tertinggi ditemukan di Kabupaten Ngawi dengan angka Rp38.000/kg, sementara harga terendah tercatat di beberapa wilayah seperti Kota Probolinggo, Kabupaten Situbondo, dan Kota Surabaya dengan Rp26.333/kg.

Baca Juga: Pemeriksaan Gubernur Jatim oleh Jaksa KPK di PN Tipikor Surabaya Batal Digelar

Di Kota Blitar sendiri, harga cabe rawit merah tercatat di Rp28.500/kg, sedikit lebih rendah dibandingkan harga rata-rata provinsi. Sementara itu, Kabupaten Blitar menunjukkan angka yang lebih rendah lagi, yaitu Rp26.500/kg. Hal ini menjadikan Kabupaten Blitar salah satu wilayah dengan harga cabe terendah di Jawa Timur.

Kondisi ini berbeda dengan wilayah lain seperti Kota Madiun yang mendekati angka tertinggi dengan Rp37.666/kg dan Kabupaten Bojonegoro yang mencatat harga Rp35.000/kg.

Baca Juga: $5.000 Bukan Gelembung: Ini Vonis Pasar terhadap Amerika dan Sistem Lama

Meski demikian, harga cabe rawit merah di beberapa daerah masih tergolong stabil meski dengan perbedaan harga yang cukup mencolok antar wilayah.

Pergerakan harga ini menjadi perhatian bagi para pedagang dan konsumen di Jawa Timur, terutama menjelang akhir pekan.

Baca Juga: Gelar Rakorda: Pordi Jawa Timur Mantapkan Arah Program Organisasi Tahun 2026

Beberapa pasar di Blitar diharapkan tetap memperhatikan fluktuasi ini untuk menjaga pasokan dan permintaan tetap seimbang.

Dengan kondisi ini, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut, terutama di tengah perubahan iklim dan faktor distribusi yang memengaruhi stok cabe rawit di pasar tradisional. (*)

Editor : Redaksi