$5.000 Bukan Gelembung: Ini Vonis Pasar terhadap Amerika dan Sistem Lama

Reporter : -
$5.000 Bukan Gelembung: Ini Vonis Pasar terhadap Amerika dan Sistem Lama
Lukman Hqeem, Analis Pasar

Oleh Lukman Hqeem

Analis Pasar

Baca Juga: Emas: Aset Strategis Dalam Era Ketidakpastian Ekonomi Global

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Pasar keuangan global tidak sedang mengalami koreksi. Ia sedang mengeluarkan vonis.

Dalam sepekan terakhir, dunia finansial bergerak serempak dalam mode risk-off ekstrem—bukan karena satu data ekonomi, bukan karena satu konflik, melainkan karena hilangnya kepercayaan terhadap pusat gravitasi lama: Amerika Serikat.

Lonjakan harga emas yang menembus $5.000 per troy ons bukan peristiwa teknikal. Ia adalah pernyataan politik pasar global.

Ada tiga poros besar yang menjelaskan mengapa dunia kini berlari ke emas, dan mengapa pergerakan ini tidak bisa lagi dianggap sementara.

Pertama, mitos “US as the ultimate safe haven” telah runtuh.

Selama puluhan tahun, pasar percaya bahwa ketika segalanya runtuh, obligasi pemerintah AS dan dolar akan menjadi pelindung terakhir. Minggu lalu, kepercayaan itu patah. Yield obligasi AS tidak lagi berfungsi sebagai penenang volatilitas, sementara dolar justru dilepas di saat risiko meningkat.

Ini sinyal keras bahwa pasar tidak lagi memandang AS sebagai solusi, melainkan bagian dari masalah. Ketika aset negara adidaya mulai diperlakukan seperti aset berisiko biasa, sistem lama sedang menuju akhir siklusnya.

Kedua, geopolitik AS telah berubah dari sumber stabilitas menjadi sumber disrupsi.

Pernyataan Presiden Donald Trump bukan lagi headline risk yang bisa diabaikan. Ancaman tarif 100% terhadap Kanada, 200% terhadap Prancis, serta manuver agresif terkait Greenland menciptakan satu kesimpulan sederhana di benak pasar: kebijakan luar negeri AS kini impulsif dan sulit diprediksi. Pasar mampu mengelola risiko, tetapi tidak mampu hidup dengan ketidakpastian struktural. Dalam kondisi seperti ini, emas menjadi satu-satunya aset yang tidak perlu percaya pada siapa pun.

Ketiga, arus modal global bergerak dalam formasi kolektif, bukan oportunistik.

Lonjakan arus masuk ke ETF emas, pembelian agresif bank sentral—terutama Tiongkok selama 14 bulan berturut-turut—serta penguatan yen yang menekan dolar AS menunjukkan satu hal: dunia sedang melakukan rebalancing besar-besaran.

Baca Juga: Keadaan Darurat-Bencana Dan Cadangan Pangan Daerah-Desa

Ini bukan rotasi portofolio jangka pendek, melainkan reposisi kekayaan global. Uang besar tidak menunggu konfirmasi—mereka bergerak lebih dulu.

Dampak dari tiga poros tersebut langsung terasa di awal perdagangan Senin (26/01/2026), ketika harga emas dibuka melonjak ke area $5.030 per troy ons, melesat dari penutupan sebelumnya di sekitar $4.988.

Pergerakan ini cepat, agresif, dan nyaris tanpa perlawanan. Dan itu justru yang membuatnya berbahaya—bagi mereka yang masih menyangkal perubahan rezim.

Lonjakan ini bukan kejutan. Ia adalah validasi tertunda.

Validasi pertama adalah krisis kepercayaan terhadap pemerintahan AS. Pasar kini berhenti bertanya soal inflasi bulanan atau data tenaga kerja. Fokus bergeser pada satu hal yang jauh lebih mendasar: apakah pengambil keputusan masih rasional dan dapat diprediksi. Ketika jawabannya meragukan, emas otomatis naik kelas—bukan sebagai instrumen lindung nilai, tetapi sebagai alternatif sistem moneter.

Validasi kedua datang dari penguatan yen yang memicu pelemahan dolar AS. Ini bukan sekadar dinamika mata uang, melainkan sinyal bahwa carry trade global sedang dibongkar. Investor bersiap menghadapi volatilitas kebijakan dan hasil FOMC dengan posisi defensif. Dalam kondisi ini, dolar kehilangan keunggulannya, dan emas menjadi penerima manfaat langsung—lebih murah secara relatif, lebih aman secara psikologis.

Validasi ketiga—dan yang paling simbolik—adalah penembusan level psikologis $5.000.
Angka ini adalah garis demarkasi. Begitu ditembus, stop-loss posisi jual tersapu, hedge fund berbasis momentum masuk tanpa ragu, dan algoritma perdagangan membaca satu pesan sederhana: tren ini sah. Lonjakan cepat menuju $5.085 bukan euforia; ia adalah mekanika pasar yang bekerja dalam rezim baru.

Baca Juga: DPRD Surabaya Minta Bangunan Pasar dan Tempat Cuci Kendaraan di Balas Klumprik Dibongkar

Poin terpentingnya adalah ini: tidak ada ciri blow-off top.

Reli emas sepanjang 2025—yang mencatat kenaikan lebih dari 70%—ditopang oleh faktor fundamental, bukan spekulasi ritel. Tren ini berlanjut di awal 2026 dengan kenaikan sekitar 17%, tetap tanpa euforia massal.

Dukungan terbesar justru datang dari bank-bank sentral yang terus membeli emas di harga tinggi. Dalam sejarah pasar, ini adalah sinyal langka dan sangat kuat: institusi moneter tidak membeli karena murah, mereka membeli karena tidak percaya pada alternatif lain.

Dengan latar tersebut, proyeksi harga emas menuju $5.500 per troy ons bukanlah fantasi. Ia adalah konsekuensi logis. Koreksi pasti terjadi—pasar tidak pernah bergerak lurus. Namun dalam fase ini, setiap pullback akan diperlakukan sebagai kesempatan akumulasi, bukan peringatan bahaya. Mereka yang menunggu “harga normal” mungkin sedang menunggu dunia yang sudah tidak ada lagi.

Ini bukan soal emas semata.
Ini tentang siapa yang dipercaya dunia ketika kepercayaan runtuh.

Dan untuk saat ini, jawabannya jelas: bukan negara, bukan mata uang, melainkan logam yang tak perlu janji siapa pun.

— Lukman Hqeem | Analis Pasar

Editor : Redaksi