Pemprov Jatim Berusaha Wujudkan Pesantren Ramah Anak

oleh : -
Pemprov Jatim Berusaha Wujudkan Pesantren Ramah Anak
Kepala DP3AK Provinsi Jatim, Restu Novi Widiani saat menjadi narasumber pelatihan Penguatan Kelembagaan Griya Curhat Keluarga (GCK) dan Sosialisasi SOP yang diselenggarakan di Hotel Aston Sidoarjo, Rabu (13/7). (Sumber Foto : kominfo.jatimprov.go.id)

SIDOARJO (Jatimupdate.id) -Pemprov Jatim Berusaha Wujudkan Pesantren Ramah Anak. Provinsi Jawa Timur tercatat memiliki 4.452 pondok pesantren (ponpes) dengan jumlah santri mencapai 323,3 ribu. Jumlah santri ini merupakan terbanyak di Indonesia.

Dengan banyaknya santri tersebut, Pemprov Jatim melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK), berusaha keras agar semua ponpes menciptakan pesantren yang ramah anak. 

Di kutip dari lama https://kominfo.jatimprov.go.id/, Kepala DP3AK Provinsi Jatim, Restu Novi Widiani, memastikan jika semua pesantren khususnya yang ada di Jatim memiliki lingkungan yang sangat baik. Namun jika ada kasus kekerasan termasuk kekerasan seksual, itu pelakunya adalah oknum, tidak bisa langsung digeneralisir dan divonis bahwa pesantren tersebut tidak baik.

"Saya berharap kepada para pengasuh pondok pesantren, sering-seringlah melakukan pengawasan kepada para pengasuh santri. Sebab pelaku kekerasan itu mayoritas dilakukan oleh orang terdekat," ujar Novi, saat menjadi narasumber dalam acara Pelatihan Penguatan Kelembagaan Griya Curhat Keluarga (GCK) dan Sosialisasi SOP yang diselenggarakan di Hotel Aston Sidoarjo, Rabu (13/7).

Menurut Novi, besarnya partisipasi santri di pesantren, besarnya jumlah pesantren secara nasional dan di Jawa Timur, serta pentingnya pesantren dalam menanamkan nilai agama, karakter, dan moral ini menjadi pendorong bagi dirumuskannya Pesantren Ramah Anak.

"Tujuan adanya program pesantren ramah ini adalah untuk menciptakan pesantren yang melindungi dan menyenangkan bagi anak, dalam suasana penuh nilai akhlaqul karimah agar dapat meningkatkan prestasi anak dan membentuk karakter baik," katanya.

Selain itu, lanjutnya, juga terciptanya lingkungan pembelajaran yang ramah antara pendidik dan santri. Yang tercermin dalam suasana yang kondusif dan dinamis dalam balutan nilai saling mengenal, menyayangi, tolong menolong dalam kebaikan, toleransi, adil, rendah hati dan tidak sombong.

"Penerapan pesantren ramah anak memerlukan kerjasama para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan perlindungan anak. Berbagai permasalahan pendidikan yang menjadi hambatan dalam pemenuhan hak pendidikan anak dari aspek ekonomi, geografi, sosial dan budaya menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan pesantren ramah anak," jelasnya.

Saat ini di Jatim sudah ada pesantren yang ramah anak. Antara lain : Ponpes Darul Ulum Peterongan, Jombang, Ponpes Al Hayatul Islamiyah di Kedungkandang, Malang, Ponpes Wahyu Hidayatul Islam di Candipuro, Lumajang, Ponpes Manba'ul Ulum Wonosari, Bondowoso dan Ponpes Hidayatullah di Pule, Trenggalek," kata Novi.

Dengan adanya organisasi masyarakat seperti Griya Curhat Keluarga atau GCK ini, menurut Novi, akan semakin terbantu untuk mewujudkan pesantren ramah anak. Sebab anggota dari GCK ini banyak dari ibu nyai yang memiliki pesantren dan anggota DPRD.

“Kami akan bersinergi dengan GCK dan bersinergi dengan organisasi lainnya untuk mewujudkan pesantren ramah anak. Dengan adanya lembaga seperti GCK menjadi kekuatan baru untuk DP3AK untuk memastikan pesantren di Jatim ramah untuk anak. Kolaborasi ini akan kami tingkatkan, karena meringankan tugas kita,” tuturnya.