Bung Karno Jadi Faktor Pemersatu Megawati dan Prabowo
Jakarta, JatimUPdate.id – Rencana pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden RI Prabowo Subianto telah dirancang sejak beberapa bulan lalu melalui komunikasi intensif antara kader Partai Gerindra dan PDI Perjuangan. Sinyal kesiapan Megawati untuk bertemu Prabowo disampaikan melalui pesan yang diamanatkan kepada Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, pada 17 Oktober 2024 di ruang kerja Ketua MPR di Gedung Nusantara III, Jakarta.
Ahmad Basarah, Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, mengungkapkan bahwa Megawati bersedia bertemu Prabowo, tetapi dengan catatan pertemuan dilakukan setelah Prabowo menyusun dan melantik seluruh menteri kabinetnya. Hal ini menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak berkaitan dengan pembahasan kursi kabinet.
Baca Juga: Gerindra Surabaya: Becak Listrik Prabowo untuk Tukang Becak Usia 55 Tahun ke Atas
"Bu Mega mengatakan kepada saya bahwa tidak ada masalah antara dirinya dan Pak Prabowo. Keduanya tetap bersahabat baik sejak lama," ujar Basarah. Pesan ini sekaligus menunjukkan bahwa kesiapan Megawati untuk bertemu Prabowo telah lama ada, bukan hal yang baru.
Hubungan baik antara Megawati dan Prabowo semakin kuat setelah laporan Ahmad Basarah kepada Megawati terkait pertemuan pimpinan MPR dengan Prabowo pada 30 September 2024. Dalam pertemuan tersebut, MPR menyerahkan surat kepada Prabowo yang meminta pemulihan nama baik Bung Karno.
Surat tersebut mencabut TAP MPRS Nomor XXXIII Tahun 1967, yang mencabut kekuasaan Soekarno dan menuduhnya mendukung pemberontakan G30S/PKI. Prabowo, yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, merespons positif permintaan MPR tersebut.
"Pak Prabowo mengatakan bahwa tanpa surat itu pun, jika menyangkut hak-hak Bung Karno, ia pasti akan melakukannya setelah menjabat sebagai Presiden," ungkap Basarah. Prabowo juga mengaku sebagai pengagum dan pencinta Bung Karno, dengan menunjuk lukisan besar Bung Karno menunggang kuda di ruang kerjanya sebagai Menhan RI.
Basarah kemudian melaporkan hasil pertemuan tersebut kepada Megawati. Sejak itu, Megawati menyatakan keinginan untuk bertemu langsung dengan Prabowo guna mengucapkan terima kasih atas komitmennya memulihkan nama baik Bung Karno. Namun, kesempatan tersebut baru terealisasi secara simbolis melalui pidato resmi Megawati pada HUT ke-52 PDI Perjuangan, 11 Januari 2025.
Menurut Basarah, sosok Bung Karno menjadi faktor utama yang mempersatukan Megawati dan Prabowo. Selain itu, persahabatan panjang antara keduanya juga menjadi alasan kuat untuk merealisasikan pertemuan tersebut.
Baca Juga: Helipad Dekat Makam Kakek Presiden Prabowo Dibangun Pakai Dana APBN, Anggaran Capai Rp 1,4 Miliar
Tidak hanya itu, Basarah menyebut Megawati sangat peduli terhadap situasi global, termasuk potensi krisis dunia akibat konflik antarbangsa, perubahan iklim, dan ancaman krisis pangan. Kekhawatiran ini mendorong Megawati untuk berbicara langsung dengan Prabowo terkait masa depan Indonesia di tengah berbagai tantangan global.
"Bu Mega sangat khawatir berbagai krisis dunia akan berdampak langsung pada rakyat dan bangsa Indonesia. Karena itu, pertemuan ini penting untuk membahas solusi bagi Indonesia Raya," jelas Basarah.
Basarah menambahkan, jika pertemuan antara Presiden RI ke-5 dan Presiden RI ke-8 benar-benar terjadi, diskusi akan difokuskan pada isu-isu strategis terkait nasib bangsa dan masa depan Indonesia.
"Yang akan dibicarakan Bu Mega dengan Presiden Prabowo adalah soal nasib dan masa depan Indonesia Raya," ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan UMKM Kunci Ketahanan Ekonomi APEC
Dengan harapan yang tinggi, Basarah optimis bahwa pertemuan ini akan menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi antara kedua tokoh besar tersebut demi kepentingan bangsa.
"Insya Allah, jika pertemuan ini terlaksana, akan menjadi langkah besar dalam memperkuat masa depan Indonesia," pungkas Basarah.
Ahmad Basarah juga menyampaikan bahwa hubungan baik antara PDI Perjuangan dan pemerintahan Prabowo tetap terjaga meskipun partai tersebut tidak secara formal masuk dalam koalisi pemerintahan.
Megawati diyakini akan memberikan masukan berharga kepada Prabowo dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat. "Ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga soal masa depan yang lebih baik," tutup Basarah (*).
Editor : Redaksi