Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.
Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Dalam sejarah pesantren Indonesia, KH. Zaini Mun’im merupakan salah satu tokoh kiai besar yang memiliki pandangan tajam dan langkah strategis dalam mencerdaskan umat.
Ia tidak hanya membangun lembaga pendidikan, tetapi juga menyusun fondasi peradaban melalui pesantren.
KH. Zaini Mun’im mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid pada 20 Juli 1950 di daerah Paiton, Probolinggo.
Pendirian ini bukan semata karena kebutuhan pendidikan agama, melainkan sebagai bentuk respon terhadap kondisi umat Islam pasca-kemerdekaan yang masih berada dalam belenggu kebodohan, keterbelakangan, dan konflik identitas.
Dalam biografinya, Kiai Zaini disebut sebagai seorang kiai yang menyatukan visi keislaman dan kebangsaan secara harmonis. Ia sadar bahwa kemerdekaan politik harus diiringi dengan kemerdekaan berpikir dan keunggulan ilmu pengetahuan.
Nama “Nurul Jadid” yang berarti “cahaya baru”, bukan sekadar nama simbolik. Ia mencerminkan cita-cita pendirinya: melahirkan generasi muslim yang tercerahkan dan mampu menjawab tantangan zaman dengan cahaya ilmu dan akhlak.
Kiai Zaini bukanlah kiai biasa. Ia adalah seorang intelektual yang berani mendobrak stagnasi pemikiran umat. Ia menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, bahkan sejak awal telah menyatukan keduanya dalam sistem pendidikan di pesantrennya.
Dalam sistem pendidikan Pesantren Nurul Jadid, Kiai Zaini memasukkan pelajaran bahasa asing (Arab, Inggris), ilmu eksakta, dan ilmu sosial. Ini belum lazim di pesantren-pesantren kala itu, yang mayoritas hanya fokus pada kitab kuning dan fiqih klasik.
Selain itu, Kiai Zaini juga sangat menekankan pentingnya karakter dan kesadaran sosial. Ia mencetuskan “Panca Kesadaran Santri”, yang meliputi kesadaran beragama, berbangsa dan bernegara, berilmu, bermasyarakat, dan berorganisasi.
Kelima nilai tersebut menjadi pegangan santri Nurul Jadid hingga kini. Nilai-nilai ini membentuk pola pikir santri yang inklusif, progresif, dan berjiwa pemimpin.
Sepanjang hidupnya, Kiai Zaini aktif memperjuangkan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Ia tergabung dalam Hizbullah, barisan santri pejuang kemerdekaan yang dibentuk oleh para ulama Nahdlatul Ulama di masa pendudukan Jepang.
Dalam perjuangan melawan penjajah, Kiai Zaini dikenal sebagai seorang yang berani, tidak kompromi terhadap penindasan, dan memiliki jejaring kuat di kalangan pejuang serta ulama se-Jawa Timur.
Seusai kemerdekaan, ia tidak berhenti berjuang. Ia mengarahkan perhatiannya untuk mempersiapkan kader bangsa melalui jalur pendidikan. Ia yakin, hanya dengan ilmu umat bisa bangkit dari keterpurukan.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
Kiai Zaini juga dikenal memiliki relasi yang erat dengan tokoh-tokoh nasionalis dan ulama besar lainnya, seperti KH. Wahid Hasyim, KH. Saifuddin Zuhri, hingga Bung Karno. Ia menjadikan pesantren sebagai basis kaderisasi ulama nasionalis.
Pandangannya terhadap agama tidak sempit. Ia menekankan pentingnya mengambil ruh agama, bukan sekadar ritual. Baginya, Islam adalah jalan perubahan sosial dan pembebasan dari ketertindasan.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Kiai Zaini menolak radikalisme dan ekstremisme. Ia mendidik santrinya agar cinta tanah air sebagai bagian dari iman. “Mencintai Indonesia adalah bentuk nyata syukur kepada Allah,” begitu kira-kira prinsip beliau.
Ketika banyak kelompok mempertentangkan agama dan Pancasila, Kiai Zaini justru menyatukannya. Ia menyebut Pancasila sebagai anugerah Tuhan yang cocok dengan nilai-nilai Islam dalam bernegara.
Salah satu pemikiran penting Kiai Zaini adalah pentingnya menjaga “ketersambungan ruhani” antara guru dan murid. Dalam pengajiannya, ia sering menekankan bahwa ilmu bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan cahaya yang diturunkan lewat ikatan ruhani.
Ketersambungan itu, menurut beliau, menjadikan ilmu membawa berkah. Santri yang patuh dan memiliki adab kepada guru akan mendapat “futuh”, yakni terbukanya pemahaman spiritual dan intelektual yang luas.
Kiai Zaini juga sering mengingatkan umat agar tidak hanya menghafal ilmu, tetapi juga menghayatinya. Ia mencontohkan para ulama salaf yang zuhud, wara’, dan hidupnya penuh keikhlasan dalam berjuang.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
Dalam setiap dawuhnya, beliau selalu menanamkan pentingnya akhlak sebagai mahkota ilmu. Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kesombongan, sementara akhlak tanpa ilmu bisa menyesatkan.
Cita-cita luhur beliau adalah terwujudnya umat Islam yang cerdas, berakhlak mulia, mandiri, dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Oleh sebab itu, ia membangun lembaga-lembaga pendidikan formal di bawah naungan pesantren: dari tingkat MI, MTs, MA hingga perguruan tinggi.
Universitas Nurul Jadid dan Institut Agama Islam Nurul Jadid adalah buah dari gagasan beliau, yang kini terus berkembang menjadi pusat kajian keislaman dan keindonesiaan di kawasan Tapal Kuda.
Warisan pemikiran Kiai Zaini kini diteruskan oleh generasi penerusnya, baik secara biologis maupun ideologis. Para kiai muda di Nurul Jadid tetap menjaga ruh perjuangan beliau dalam bentuk program pendidikan, dakwah, dan pengabdian masyarakat.
Dalam konteks kekinian, pemikiran Kiai Zaini sangat relevan untuk membendung krisis moral dan radikalisme. Pesan-pesannya tentang cinta tanah air, moderasi beragama, dan pentingnya ilmu menjadi rujukan banyak kalangan.
Oleh karena itu, peran Kiai Zaini tidak hanya penting bagi umat Islam di Paiton atau Probolinggo, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara umum. Ia adalah teladan seorang ulama pejuang yang menyatukan agama, ilmu, dan nasionalisme dalam satu tarikan nafas.
Kiai Zaini telah wafat, namun ilmunya terus hidup. Nurul Jadid adalah monumen hidup dari cita-cita beliau dalam mencerdaskan umat. Sudah saatnya bangsa ini kembali belajar dari warisan pemikiran para kiai seperti beliau—agar Indonesia tetap menjadi rumah yang damai, adil, dan tercerahkan. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat