Surabaya,JatimUPdate.id - Langit di Semenanjung Muria kelabu, seolah meramalkan pertempuran yang akan datang. Aku, Sang Senopati yang ditugaskan menumpas gerakan makar berdiri di tepi bukit, menatap cakrawala yang merah membara.
Perintah berat dari Baginda Raja tiba pagi ini, memimpin pasukan menghadapi musuh di medan laga. Tugas ini bukan hanya pertarungan, tetapi ujian harga diri kerajaan.
Baca juga: Analisis Lirik "Time To Rock" Edane: Ledakan Perlawanan dari Penat Hidup Urban
Namun, di balik keberanianku, ada was-was yang mencengkeram. Beban tak kasat mata terasa memikul pundakku, seolah pedangku sendiri menolak terhunus.
Kegagalan dalam misi ini bisa mencoreng nama kerajaan, tetapi keberhasilan akan membuka gerbang menuju dinasti baru yang jaya. Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan hati. “Pantang pulang sebelum menang,” gumamku, mengingat pesan Mahapatih.
Telik sandi melaporkan musuh mendekat, bersenjata lengkap, jumlah mereka seimbang dengan prajuritku.
Di tengah ketegangan, pesan singkat Mahapatih tiba: “Pantang pulang, mati di medan laga lebih terhormat daripada mati dalam dekapan perempuan.”
Kata-kata itu bagaikan cambuk, membakar semangat sekaligus menambah beban.
“Senopati, harga diri kerajaan ada di pundakmu,” lanjutnya.
“Titah Paduka adalah penyemangat hamba,” jawabku, meski hatiku bergolak.
Mahapatih lalu menceritakan mimpinya: mendung gelap menyelimuti kota, ceceran darah di mana-mana, mayat bergelimpangan.
Ia menyebut ini pertanda perang tak terhindarkan, bak Baratayudha dalam pewayangan.
“Perang ini untuk mempertahankan harga diri dari rongrongan pecundang. Siapkan pasukan terbaik, musuh sudah di depan mata,” katanya tegas.
“Sanggupkah kau, Senopati?”
“Hamba siap, Mahapatih. Nyawa hamba taruhannya. Murka Baginda Raja lebih menakutkan daripada letusan Gunung Tambora,” jawabku mantap, meski keraguan masih mengintip di sudut hati.
Mahapatih menyemangatiku, menyarankan untuk menemui ibu sebelum berangkat.
“Restu ibu adalah kemenangan,” katanya, sambil menitipkan salam.
Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
Di hadapan ibu, aku berlutut. “Selesaikan tugas mulia ini, Kamu. Pulang dengan kemenangan,” pesannya, penuh harap.
Aku mengangguk, namun benakku bergolak. Mengapa aku yang dipilih? Bukankah ada senopati lain, lebih berpengalaman dan pemberani? Tapi tugas adalah tuan, dan aku harus mematuhi.
Terompet perang menggema, tanda pertempuran dimulai. Pasukan berkuda di barisan depan siap menyerang, diikuti pasukan panah yang menanti aba-aba.
“Majuuu!” teriakku.
Pertempuran sengit meletus. Pedang beradu, panah melesat, jeritan menyayat langit.
Burung gagak terbang di atas, menyaksikan darah tumpah di bumi Muria.
Musuh mulai terdesak, mundur kocar-kacir di bawah gempuran pasukanku. Mayat bergelimpangan, tersayat pedang dan tertusuk tombak.
Sorak kemenangan akhirnya terdengar saat matahari tenggelam. Kabar keberhasilan sampai ke kerajaan, disambut pesta hingga larut malam.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Namun, di sudut tenda, aku termenung. Di balik kemenangan, hatiku pilu.
Aku harus bertarung melawan teman sendiri, mereka yang memberontak karena nafsu kekuasaan.
Luka batin ini lebih dalam daripada luka pedang. Aku ingin mundur sebagai senopati, meletakkan pedang, dan hanya berperang jika kerajaan diserang dari luar, bukan karena makar internal.
Dengan syukur kepada Sang Hyang Widi, aku berjanji: setelah kembali ke kerajaan, aku akan menggantungkan pedangku.
“Biar dinasti ini berdiri tegak, meski aku tak menikmati manisnya,” kataku dalam hati.
“Aku ingin jadi orang biasa, hidup sederhana, jauh dari intrik kekuasaan.”
*)Oleh: Roy Arudam
Editor : Redaksi