Wamen Viva Yoga: Pembangunan di Kawasan Transmigrasi Untuk Transmigran dan Warga Lokal

Reporter : Shofa
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi tengah diwawancarai eksklusif oleh Tribunnews.com.

 

 
Jakarta, JatimUPdate.id - Ada 619 kawasan transmigrasi yang tersebar dari Sabang, Aceh; hingga Merauke, Papua Selatan; namun saat ini yang menjadi prioritas pembangunan nasional dan fokus Kementerian Transmigrasi sebanyak 154 kawasan.

Baca juga: Satu Tahun CKG, Wamen Viva Yoga: Masyarakat Sehat Negara Kuat Produktifitas Meningkat

Di 154 kawasan saat ini tengah dijalankan program revitalisasi agar masyarakat yang menetap di sana meningkat kesejahteraannya.
 
Ungkapan demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menjadi tamu dalam program ‘Wawancara Eksklusif  Tribunnews’, Palmerah, Jakarta,(27/8/2025).

Lebih lanjut dalam wawancara yang dipandu oleh Apfia Tioconny Billy, dikatakan kawasan transmigrasi ditempati oleh transmigran dan masyarakat setempat (lokal).

Tanggungjawab Kementerian Transmigrasi ditegaskan tidak hanya memberdayakan ekonomi para transmigran namun juga masyarakat setempat.

“Kami bertanggungjawab memberdayakan seluruh warga yang tinggal di kawasan transmigrasi”, ujar Viva Yoga saat Wawancara Eksklusif Tribunnews, sebagaimana dikutip redaksi JatimUPdate.id dari rilis resmi Kemenstransmigrasi pada Kamis (28/08/2025).
 
Diceritakan di Kawasan Transmigrasi Hialu yang berada di Desa Sabandente, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, antara transmigran dan warga setempat hidup berdampingan dengan damai. “Mereka hidup selaras”, ujarnya. Ada proses kehidupan yang saling menerima dan memberi serta menguntungkan bagi semua. “Mereka saling bergotong royong”, tambahnya.
 
Viva Yoga bahkan tajub warga di sana menyerahkan tanah yang sudah bersertipikat SHM seluas 1.000 Ha untuk program transmigrasi. 

Baca juga: Wamen Viva Yoga Ajak AKSI Bangun Kawasan Transmigrasi

Transmigrasi yang diinginkan diperuntukan untuk transmigran lokal 80 persen dan transmigran dari luar 20 persen.

Mereka membutuhkan transmigran selain agar kehidupan menjadi lebih dinamis juga untuk menciptakan kawasan pertumbuhan. “Mereka ingin desa yang ada menjadi berkembang”, ujarnya.
 
Dari transmigrasi inilah membuktikan program ini mampu mengubah dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. 

Lahan-lahan yang sebelumnya kosong dan tidak berpenghuni serta terisolasi berubah menjadi desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

Baca juga: Rakernas V PATRI, Wamen Viva Yoga: PATRI Mitra Strategis Dalam Pembangunan Kawasan Transmigrasi

 Sejak transmigrasi dilakukan tahun 1950, telah melahirkan 1567 desa, 466 kecamatan, 116 kabupaten, dan 3 provinsi.
 
Akulturasi budaya dan perkawinan antara transmigran dan warga lokal terjadi. “Dalam kunjungan ke berbagai kabupaten di luar Jawa yang terdapat kawasan transmigrasi, saya banyak bertemu kepala daerah maupun wakilnya yang mengatakan anak transmigran”, ungkap Viva Yoga.

“Bila demikian maka transmigrasi mampu menjawab arahan dari Presiden Prabowo bahwa program ini dilakukan untuk memperkuat NKRI dan mempererat rasa kebangsaan”, ucap pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu. (rilis/sof/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru