Herman Lasrin: Sampah Rumah Tangga Bisa Jadi Bom Waktu Bagi Lingkungan

avatar Shofa
  • URL berhasil dicopy
Ketua RT 02 Villa Mutiara Bogor, Herman Lasrin,  saat mewakili Ketua RW 11 dalam acara Launching Bank Sampah Kumpul Mutiara di Kota Bogor, Minggu (14/6/2026).
Ketua RT 02 Villa Mutiara Bogor, Herman Lasrin, saat mewakili Ketua RW 11 dalam acara Launching Bank Sampah Kumpul Mutiara di Kota Bogor, Minggu (14/6/2026).

Bogor, JatimUPdate.id - Ketua RT 02 Villa Mutiara Bogor, Herman Lasrin, menilai persoalan sampah rumah tangga masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan jika masyarakat tidak segera mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah sejak dari rumah.

Pernyataan tersebut disampaikan Herman saat mewakili Ketua RW 11 dalam acara Launching Bank Sampah Kumpul Mutiara di Kota Bogor, Minggu (14/6/2026). Menurutnya, akar persoalan sampah bukan terletak pada minimnya fasilitas, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah dengan benar.

"Kalau kita biarkan, ini akan menjadi persoalan sampah yang tidak bisa teratasi di masa depan. Karena itu pola-pola perilaku masyarakat harus diubah mulai dari rumah tangga," ujar Herman.

Ia mengungkapkan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan masih mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tempat-tempat yang telah menyediakan fasilitas pembuangan sampah sering kali masih dipenuhi sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.

Menurut Herman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan harus dilakukan secara terus-menerus dan tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan seremonial.

Ia menilai rumah tangga merupakan institusi paling penting dalam membangun budaya pengelolaan sampah. Jika pemilahan sampah organik dan anorganik sudah menjadi kebiasaan keluarga, maka persoalan sampah di tingkat lingkungan akan jauh lebih mudah diatasi.

"Tantangan terbesar kita adalah memilah sampah. Banyak orang memilih membuang semuanya jadi satu karena dianggap lebih mudah. Padahal dari situlah persoalan lingkungan bermula," katanya.

Herman juga mengapresiasi hadirnya Bank Sampah Kumpul Mutiara yang dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga sebagai sarana pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

Menurutnya, keberadaan bank sampah dapat membantu warga memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Namun ia mengingatkan bahwa manfaat ekonomi hanyalah dampak lanjutan, sementara tujuan utamanya adalah membangun kesadaran lingkungan.

Ia juga memuji para pengurus yang tetap bertahan menjalankan program di tengah berbagai keterbatasan. Menurutnya, menjaga semangat gerakan lingkungan jauh lebih sulit dibandingkan memulainya.

"Yang paling penting adalah bagaimana edukasi terus berjalan dan warga terus bergerak. Kalau kesadaran itu tumbuh, persoalan sampah bisa diselesaikan dari sumbernya, yaitu rumah tangga," tegasnya.

Herman berharap Bank Sampah Kumpul Mutiara dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain di Kota Bogor dalam membangun budaya hidup bersih, mengurangi timbulan sampah, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat serta berkelanjutan (*)