Oleh : Nur Iswan
Baca juga: DPR Sahkan 10 Dewas BPJS Periode 2026–2031, Ini Daftar Namanya
YouTuber & Senior Policy Advisor INDOPOL
Jakarta, JatimUPdate.id - Akhir-akhir ini, Indonesia sedang berada pada "musim penuh kejutan".
Belum usai keterkejutan akibat demo yang diikuti penjarahan dan korban jiwa serta mini re-shuffle. Tiba-tiba, datang kabar tak terduga dari Partai Gerindra dan keluarga Prabowo.
Ya, Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo memilih hengkang dari DPR. Saras -- begitu ia dipanggil -- adalah keponakan langsung Presiden Prabowo.
Anggota DPR RI dari Dapil Jakarta III ini juga Wakil Ketua Umum DPP Parta Gerindra. Ia adalah putri dari Hashim dan Anie Djojohadikusumo yang merupakan adik kandung Prabowo.
Menurutnya, keputusan untuk mundur itu sebagai cara untuk "menebus" kesalahannya yang dipandang menyakiti hati rakyat.
Sebuah keputusan yang berani dan layak diapresiasi. Ketika banyak orang, pejabat dan wakil rakyat yang mempertahankan posisi dan jabatannya setengah mati.
Usianya kini belum genap 40 tahun. Ia lahir di "piring emas". Berkecukupan. Bahkan pada Usia 12 tahun sudah melanglang buana. Sempat bersekolah di Simgapore, Swiss dan Amerika Serikat.
Kondisi itulah yang mungkin membuatnya jarang bersentuhan langsung dengan apa yang dirasakan rakyat kebanyakan di tanah air. Rakyat yang sebagian besar masih berjuang dan menjalani hidup penuh keprihatinan.
Jadi, wajar jika ia belum memiliki kesempatan yang panjang untuk tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Wajar, jika ia belum memiliki kesempatan untuk menyelinap di sanubari dan berempati optimal terhadap keprihatinan rakyat.
Namun, itu bukan kesalahan. Ruang, waktu dan environment membentuknya sedemikian rupa. Toh, ia tak bisa memilih lahir dari keluarga siapa. Ia dipilihkan, lahir dari keluarga dan leluhur yang memiliki footprint dalam perjalanan sejarah ini.
Baca juga: DPR dan Pemerintah Sepakati Langkah Penonaktifan BPJS Kesehatan PBI
Bahkan kemudian, oleh keadaan dan kondisi waktu maka ia menjadi bagian dari keluarga Presiden. Bagian dari salah satu Partai kuat di tanah air.
Sosoknya yang "menempel" erat dengan Prabowo, membuka peluang lebih besar. Termasuk peluang politik, juga bisnis. Namun, yang juga harus disadari. Peluang itu bersaudara kembar dengan ujian-ujian. Dan kali ini, ia tiba menghadapi ujian keras.
Saras -- sebagaimana politisi lain yang serupa -- memiliki potensi besar. Ia punya kemewahan, yakni sebagai ponakan Prabowo. Jadi, ia bisa minta dan memilih dapil manapun yang disukainya pada pada Pileg 2024 lalu.
Konon, pada Pileg 2024, karena ingin maju dari Dapil III Jakarta. Ia "secara halus" dan tersirat, sama artinya meminta incumbent dari Gerindra mengalah. Untungnya, incumbent tersebut bersedia mengalah untuk pindah dapil. Membuka jalan dan ruang bagi Saras untuk bisa mewakili Dapil tersebut.
Rekam jejak, skill dan latar belakang serta kompetensinya sesungguhnya lebih dari memadai jadi wakil rakyat. Semangatnya tinggi. Artikulasinya dalam berbicara dan berdiplomasi juga lumayan. Ia juga banyak mendapatkan penghargaan. Dan tak boleh lupa, ia beberapa kali bermain film.
Selain itu, karena ia pernah bekerja dan menjadi pengusaha. Pasti pengetahuannya tentang tata-kelola korporasi juga baik. Dan hal lain yang juga penting, ia adalah istri dan ibu dari anak-anaknya. Tak heran jika ia bisa menghayati jika berbicara tentang pembelaan dan perlindungan kaum perempuan.
Baca juga: Bamsoet Dorong Penguatan Regulasi Dana Desa agar Tepat Sasaran dan Berkelanjutan
Sebenarnya, ia tak perlu melakukan kesalahan seperti kemarin. Itupun jika peristiwa yang menimpa Saras dipandang sebagai satu kesalahan fatal. Bukankah, ini adalah periode keduanya di DPR. Biasanya politisi kan fasih berdiplomasi. Biasanya politisi disiplin dalam menjaga sikap dan perilaku.
Toh, tak ada gading yang tak retak. Terlepas bahwa videonya dipenggal-penggal. Terlepas bahwa Saras sedang dikerjain oleh the so-called musuh-musuh politiknya. Saras sebaiknya menyelami hikmah mengapa peristiwa ini terjadi dan "dibiarkan" Tuhan menimpanya?
Dan agaknya Saras sudah melakukan itu. Keputusan mundurnya, pasti lahir dari perenungan yang mendalam. Ia pasti sudah berdiskusi panjang dan dalam. Terutama dengan orang tuanya dan keluarga besar Djojohadikusumo.
Pertama, ia ingin menebus kesalahannya. Kedua, ia tak mau menjadi beban bagi Prabowo. Ketiga, ia ingin 'jeda' politik untuk lebih fokus kepada anak, keluarga dan bisnisnya. Sambil merenung kembali, melakukan self correction. Dan keempat, ia ingin menjadi contoh atau teladan bagi yang lain.
Oleh karenanya, putusan itu layak diapresiasi dan dihormati. Itupun jika bukan sandiwara. Dan direalisasikan segera. Jangan sampai DPP Gerindra menolak niat baik Saras.
Inshaa Allah, hal ini menjadi contoh yang lain. Apalagi jika Saras, diam-diam atau terbuka masuk dan bergaul dengan masyarakat kebanyakan dalam masa jeda politiknya. Bergerak di lapangan sosial juga baik baginya. Tanpa sorot kamera dan niat pencitraan. Selamat dan semangat kembali Saras! (sof/ya)
Editor : Yoyok Ajar