Analisis "Boikot" Lirik Tajam Kritik Sosial, Kaya Makin Kaya Miskin Makin Miskin

Reporter : Ibrahim
Marjinal, dok istimewa

Surabaya,Jatimupdate.id – Kritik sosial kembali terdengar lantang melalui karya band punk Marjinal. Lagu berjudul “Boikot” yang dirilis pada 2005 menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, keserakahan, dan budaya penindasan yang menjerat masyarakat.

Lirik lagu ini menampilkan diksi lugas, keras, bahkan vulgar. Kata-kata seperti “tai asu”, “jilat-menjilat”, dan “tikam sana tikam sini” menegaskan betapa rusaknya relasi sosial yang digambarkan.

Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang

Bahasa yang dipilih bukan hanya ekspresi, melainkan bentuk kemarahan kolektif atas situasi yang dianggap semakin memburuk.

Marjinal menghadirkan imaji yang tajam. Manusia digambarkan sebagai serigala yang memangsa sesamanya. Gambaran saling injak, rampas-merampas, hingga tikam-menusuk, menjadi potret visual yang kuat tentang dunia sosial yang penuh kekerasan dan pengkhianatan. Imaji ini kian menegaskan pesan bahwa sistem telah melahirkan kebiadaban.

Kata konkret seperti korupsi, kaya, miskin, pintar, bodoh juga dipilih untuk menyentuh realitas langsung. Tidak ada ruang tafsir abu-abu.

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Pesan yang disampaikan langsung menyinggung ketimpangan yang nyata di masyarakat.

Secara gaya bahasa, Marjinal menggunakan repetisi dan parallelisme. Bait “yang kuat menguasai, yang lemah dikorupsi; yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin” diulang berkali-kali, membangun ritme retoris yang menghentak.

Seruan “Boikot! Boikot!” juga menjadi klimaks yang menyalakan semangat perlawanan.

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Dari sisi musikalitas, ritme yang cepat dan repetitif selaras dengan karakter punk. Struktur tipografinya pun sederhana dan menekankan pengulangan, sehingga menegaskan pesan utamanya bersama, melawan.

Tema besar lagu ini penolakan terhadap budaya yang melanggengkan ketidakadilan. Marjinal tidak berhenti pada kritik, tetapi mengajak pendengar untuk mengambil sikap. Boikot menjadi simbol perlawanan sekaligus bentuk protes yang paling nyata.

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru