Surabaya,JatimUPdate.id – Lagu “Aku” dari Pas Band menjadi salah satu karya yang sarat emosi.
Dirilis pada era keemasan band rock alternatif Indonesia, liriknya menghadirkan pengakuan dosa seorang kekasih yang sadar tak mampu membahagiakan pasangan.
Baca juga: Resensi Novel: Sengsara Membawa Nikmat
Sejak awal, bait “Aku dilahirkan, bukan untuk menyakitimu, tapi ku digariskan, tak membahagiakan hidupmu” sudah menegaskan nada penyesalan.
Ibarat surat terbuka, tokoh lirik mengaku bersalah namun tetap berharap sang buah hati kelak tak mengalami nasib yang sama.
Kekuatan lagu ini terletak pada pilihan diksi yang kontras. Kata keras seperti “bajingan” dan “sadis” berdampingan dengan kata alam yang lembut: hujan, bulan, bintang.
Baca juga: Musik Rock Bicara: Dari Korupsi, Fitnah, hingga Rakyat yang Cuma Bisa Bermimpi
Perpaduan itu menimbulkan imaji kuat, seakan seluruh semesta ikut menjadi saksi penderitaan batin.
Gaya bahasa Pas Band dalam lagu ini juga menonjol. Ada metafora puitis “biarlah hujan menyirami kesalahan”, personifikasi “bulan menyinari penyesalan”, hingga repetisi “biarlah…” yang membangun ritme lirih penuh pasrah. Simbol-simbol ini membuat lirik sederhana terasa dalam.
Baca juga: Lima Lagu Religi Indonesia Versi Rock yang Sarat Makna Spiritual
Tema utama lagu “Aku” adalah cinta yang getir, penyesalan, dan keinginan untuk menebus kesalahan.
Meski penuh luka, lirik tetap jujur: pengakuan seorang manusia yang mengakui dirinya banyak salah, namun bukan tanpa cinta.
Editor : Miftahul Rachman