Seruan Ditengah Banjir Kebohongan

Reporter : Ibrahim
Hadi Prasetyo, Pemerhati Sosial-Budaya

 

Oleh: Hadi Prasetyo

Baca juga: Seni Berkhianat

Pengamat Sosial, Politik dan Ekonomi


Surabaya, JatimUPdate.id -

Zaman Penipuan Universal

George Orwell sekali waktu berujar, “Dalam zaman penipuan universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.”

Hari ini, kita hidup dalam zaman itu. Kebenaran seringkali bukan lagi sesuatu yang absolut, melainkan sebuah narasi yang paling nyaring terdengar, yang paling mahal diproduksi, dan yang paling luas disebarkan.

Ia telah menjadi komoditas: diperjualbelikan, dipelintir, dan dipoles untuk melayani nafsu kekuasaan dan kekayaan.

Para Penjual Ilusi

Mereka ada di mana-mana. Para buzzer yang dengan lihainya menari di atas papan ketik, menjual kebohongan demi secuil rupiah.

Mereka adalah bukti nyata dari ucapan Upton Sinclair: “Sulit untuk membuat seseorang memahami sesuatu, ketika gajinya tergantung pada ketidakpahamannya.” Bagaimana mungkin kita meminta mereka untuk jujur, ketika mata pencaharian mereka justru bergantung pada menyuburkan kebodohan dan perpecahan?

Bersanding dengan mereka adalah para influencer, pemburu popularitas yang haus validasi. Mereka memproyeksikan citra, bukan realitas.

Mereka mengikuti apa kata Machiavelli: “Setiap orang melihat apa yang kamu tampakkan, sedikit orang yang merasakan apa yang kamu sembunyikan sebenarnya.”

Mereka menampilkan kesan soliditas pada angin, memoles kebohongan hingga terlihat seperti kebenaran, tanpa peduli pada kerusakan sosial yang ditinggalkannya.

Mereka adalah arsitek dari “kebenaran yang disepakati bersama” dan yang palsu.

Diam yang Bersekongkol

Lalu, di tengah hiruk-pikuk kebisingan ini, ada yang memilih untuk diam. Masyarakat yang pasif, yang acuh, yang berkata, “Ah, itu urusan mereka.” Diam dalam gelombang disinformasi bukanlah tindakan yang netral. Diam adalah persetujuan. Diam adalah bentuk pasif dari “menyetujui kebohongan bersama” itu.

Setiap kali kita menggulir layar tanpa verifikasi, setiap kali kita mengangkat bahu dan berkata “biasa lah politik”, kita membiarkan racun itu merasuk lebih dalam, menggerogoti fondasi kebenaran yang seharusnya kita jaga bersama.

Idealisme yang Terkooptasi

Dan bagaimana dengan para mahasiswa, yang dahulu digdaya sebagai agent of change? Banyak yang masih berjuang, tetapi tidak sedikit yang idealismenya telah terkooptasi.

Terperangkap dalam jejaring kuasa yang halus: dibujuk dengan proyek, dibungkam dengan janji beasiswa, atau sekadar dialihkan dengan hiruk-pikuk kehidupan kampus yang tidak substansial.

Mereka lupa bahwa revolusi dimulai dari pikiran, dan bahwa tugas utama mereka adalah memahami, bukan hanya mengejar nilai. Ketika mereka diam, sebuah generasi kehilangan suaranya.

Institusi Pendidikan: Benteng Terakhir yang Terkepung

Di tengah banjir kebohongan ini, institusi pendidikan: sekolah dan universitas, seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga kebenaran. Namun, benteng ini sedang dikepung.

Maraknya isu ijazah palsu bukan hanya skandal administratif; ia adalah simbol yang sangat beracun. Ia adalah pesan bahwa gelar dan ilmu bisa dibeli, bahwa integritas bisa dipalsukan. Ketika kredibilitas ilmu dan pendidikan dijual, apa lagi yang tersisa? Kampus dan sekolah harus bangkit dan membersihkan rumahnya sendiri.

Baca juga: Titi Kala Mangsa

Mereka harus kembali pada misi suci: mencetak manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga berintegritas, yang mampu membedakan fakta dari ilusi, dan yang berani menolak segala bentuk pemalsuan.

Ibu-Ibu: Garda Depan di Rumah Tangga
Perang ini tidak akan dimenangkan tanpa mengerahkan pasukan terbesar dan terpenting: para ibu (para Emak). Ibu-ibu rumah tangga, yang sering dianggap silent majority, adalah garda depan pertahanan.

Perang melawan kebohongan dimulai dari meja makan. Dari ibulah anak belajar nilai kejujuran pertama kali. Dari ibulah mereka belajar untuk tidak mudah menyebarkan kabar yang belum pasti kebenarannya.

Seorang ibu yang kritis dan melek informasi akan membesarkan anak-anak yang tidak mudah ditipu oleh buzzer atau politikus licin.

Emak-emak punya kekuatan untuk mengarahkan masa depan anak-anaknya dengan menyuapi mereka bukan hanya dengan nasi, tetapi juga dengan kebenaran dan nilai-nilai luhur.

Seruan untuk Generasi Z (Masa Depan Ada di Tanganmu)

Maka, ini adalah seruan untukmu, Generasi Z. Kalian adalah generasi yang paling melek teknologi, yang paling lincah bermedia sosial.

Kalian punya kekuatan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: kemampuan untuk memverifikasi, untuk menyebarkan informasi dengan cepat, dan untuk membangun solidaritas global.

Jangan biarkan masa depan kalian dicemari oleh kebohongan yang dijual hari ini.

Masa depan politik, ekonomi, dan sosial adalah warisan yang akan kalian terima. Jika kalian pasif hari ini, kalian akan mewarisi dunia yang penuh dengan puing-puing kebenaran. Bangkitlah!.

Jadilah tindakan revolusioner itu dengan mengatakan yang benar, sekecil apa pun. Jadilah konsumen informasi yang kritis. Gali lebih dalam, jangan terima mentah-mentah.

Tantang setiap narasi yang terasa janggal. Jangan sampai gajimu, popularitasmu, atau kenyamananmu, bergantung pada ketidakpahaman.

Karena, seperti peringatan Orwell yang lain, politik bahasa dirancang untuk membuat kita menerima yang tidak masuk akal. Jangan biarkan mereka mencuri masa depanmu dengan kata-kata indah yang kosong.

Baca juga: Janji Syurga, Jalan Ke Neraka

Kebenaran membutuhkan keberanian untuk menyuarakannya, dan kebijaksa naan untuk mengenalinya. Di pundakmulah tugas mulia itu sekarang berada.

Seruan untuk Perang Semesta

Maka, ini adalah seruan untuk perang semesta. Sebuah pertarungan yang tidak hanya melawan kebohongan, tetapi untuk keadilan, melawan kemiskinan, dan mengikis ketimpangan sosial yang diperparah oleh kabut bohong itu.

Untuk Generasi Z dan Mahasiswa:

Jadilah tindakan revolusioner. Gunakan kecepatan jempolmu untuk menyebarkan verifikasi, bukan hoaks.

Untuk Kampus dan Sekolah:

Berbenahlah. Kembalikan martabat ilmu pengetahuan sebagai cahaya yang menerangi, bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan.

Untuk Para Ibu: Ambil peranmu. Jadikan rumahmu sebagai sekolah pertama yang mengajarkan kejujuran. Didiklah anak-anakmu menjadi manusia yang merdeka pikirannya.

Untuk Kita Semua: Berhenti diam. Kebenaran yang dipelintir oleh penguasa dan oligarki akan terus berkuasa jika kita memilih untuk acuh.

Di tangan kitalah demokrasi ini dipertaruhkan. Perang dimulai dari genggaman ponsel, dari ruang kuliah, dan dari meja makan kita.

Menangkan perang ini, bukan untuk kita, tetapi untuk masa depan yang layak untuk diwarisi.

Semoga bangsa-negara Indonesia menjadi mercusuar bagi masa depan peradaban. (roy/mmt)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru