Sanggar Ngesti Pandawa, Pelestari dan Penjaga Warisan Nilai Budaya Topeng Malangan

Reporter : Deki Umamun Rois
Sebanyak 86 siswa dari SD Negeri 01 Tasikmadu, Kota Malang, datang berkunjung untuk menggali lebih dalam tentang Topeng Malangan, sebuah warisan seni yang sarat makna dan tradisi.

 

Pakisaji, Malang, JatimUPdate.id - Seni tradisional selalu menyimpan kekayaan budaya dan nilai warisan yang patut dilestarikan.

Baca juga: Ritual Pembersihan Diri Menyambut Ramadan, Tradisi Ngumbah Dandang di Kota Batu Kembali Dihidupkan

Pada Kamis (2/10/ 2025), suasana berbeda terasa di Sanggar Seni Ngesti Pandawa, yang berlokasi di Dusun Lowok, Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji.

Sebanyak 86 siswa dari SD Negeri 01 Tasikmadu, Kota Malang, datang berkunjung untuk menggali lebih dalam tentang Topeng Malangan, sebuah warisan seni yang sarat makna dan tradisi.

Kedatangan para siswa didampingi oleh guru dan wali murid, disambut hangat dengan pertunjukan tari Topeng Malangan yang diiringi musik gamelan.

Kepala Dusun Lowok, Sudarmaji, menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar wisata, melainkan wisata edukasi dan literasi yang bertujuan mengenalkan anak-anak pada seni warisan budaya.

“Anak-anak mulai dikenalkan pada topeng melalui tarian yang diiringi gamelan, sehingga pengalaman belajar menjadi lebih hidup,” ujar Sudarmadji.

Usai pertunjukan, siswa mendapat kesempatan untuk mewarnai topeng berbahan styrofoam dan belajar menabuh alat musik gamelan seperti kendhang, gong, saron, serta bonang.

Baca juga: Wabup Malang Apresiasi Peran Strategis GP Ansor

Imam Syafii, tokoh penting dalam pengelolaan sanggar, dengan semangat memandu siswa mengenali irama dasar yang biasa digunakan dalam pertunjukan tari dan wayang topeng. Kegiatan ini memadukan edukasi visual dan praktik langsung, memperkaya pemahaman budaya mereka.

Pendamping Profesional Kecamatan Pakisaji, Khoirul Anwar, menegaskan bahwa kegiatan ini berperan penting dalam menjaga nilai luhur budaya lokal. Ia berharap para siswa yang datang dapat menjadi penerus seni Topeng Malangan.

Hal ini juga didukung oleh sejumlah akademisi dan mahasiswa dari berbagai universitas di Malang yang aktif memberikan dukungan dan belajar di sanggar, menunjukkan sinergi antara pendidikan formal dan pelestarian budaya.

Anak-anak tampak antusias, seperti Adriel Kenziro Ferdinan yang mengaku senang bisa mewarnai topeng, bermain gamelan, dan berfoto dengan kostum tradisional.

Baca juga: Musorkablub KONI Malang 2026: Pemilihan Ketua Umum Berlangsung Panas, Protes Mewarnai Pemilihan Ketua

Hal senada disampaikan Anindita Syakila Azkiya, yang baru pertama kali mengenal Topeng Malangan melalui kunjungan ini. Para wali murid dan guru juga memberikan apresiasi tinggi terhadap metode pembelajaran ini yang memperkaya kurikulum sekolah dengan keberagaman seni dan budaya.

Kunjungan edukatif ke Sanggar Seni Ngesti Pandawa menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan pembelajaran yang interaktif dapat memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Dengan dukungan komunitas dan lembaga pendidikan, pelestarian Topeng Malangan tidak hanya menjadi tugas pengelola sanggar, tetapi juga tanggung jawab bersama. Semoga kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk mengenalkan seni tradisional secara menyenangkan dan bermakna. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru