Oleh: Ponirin Mika
Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Pemuda asal Gelaman Kangean, saat ini tinggal di Paiton Probolinggo, Jawa Timur, Alumni Ponpes Nurul Jadid, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Santri hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang surga dan neraka, tapi juga tentang laut dan udara, tentang tanah yang mereka pijak dan kehidupan yang mereka jaga.
Dari pesantren, suara-suara itu kini menggema ke seluruh penjuru negeri — menuntut keadilan ekologis, kemanusiaan, dan keberpihakan negara pada rakyat kecil.
Salah satu suara itu datang dari IKSASS Rayon Kangean, organisasi santri alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.
Mereka dengan tegas menolak eksplorasi migas oleh PT Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd di Pulau Kangean.
Alasannya sederhana tapi mendalam: karena Kangean adalah pulau kecil yang tidak pantas dijadikan ladang eksploitasi, dan karena kesejahteraan rakyat tak boleh ditukar dengan kerakusan industri.
Mahmudi, ketua IKSASS Rayon Kangean, menegaskan bahwa eksplorasi migas hanya akan membawa mudarat.
"Pulau kecil tidak boleh dijadikan korban. Kami mendesak pemerintah membatalkan seluruh proses eksplorasi dan eksploitasi migas di Kangean,” ujarnya tegas.
Di balik seruan itu, ada ruh pesantren yang hidup — ruh perjuangan, kepedulian, dan cinta tanah air.
Santri diajarkan bahwa bumi adalah titipan Allah, bukan alat memperkaya segelintir orang. Nilai itu lahir dari tradisi ngaji dan ngamal, dari keseharian yang sederhana namun sarat makna.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
Santri bukan sekadar penghafal teks, tapi juga penjaga konteks. Dalam setiap tindakan mereka, tersimpan pesan moral yang lebih luas: bahwa agama dan kemanusiaan tidak boleh dipisahkan. Ketika tanah dirampas, laut tercemar, atau rakyat kecil terpinggirkan, santri tahu bahwa itu bukan sekadar masalah ekonomi — tapi juga masalah akhlak dan amanah.
Itulah sebabnya, momentum Hari Santri Nasional 2025 menjadi pengingat penting: bahwa jihad di masa kini tak lagi hanya di medan perang, tapi juga di medan sosial, budaya, dan lingkungan. Santri harus menjadi benteng terakhir bagi moralitas publik — di tengah bangsa yang kerap silau oleh kekuasaan dan ekonomi.
Duka Al-Khoziny dan Nurani yang Terpanggil
Beberapa hari lalu, kabar duka datang dari Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo. Sebuah musibah menimpa keluarga besar pesantren itu. Tangisan para santri dan doa yang mengalir dari penjuru negeri menjadi pengingat bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah kemanusiaan.
Santri diajarkan bahwa setiap musibah adalah panggilan nurani: untuk lebih peduli, lebih berempati, dan lebih berbuat bagi sesama. Maka, di saat saudara mereka di Sidoarjo sedang berduka, para santri di Kangean berjuang menjaga alam mereka. Keduanya berbeda bentuk, tapi satu semangat: menegakkan kemanusiaan dan menjaga kehidupan.
Trans7 dan Luka dalam Cermin Media
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
Di tengah semangat santri yang murni, publik justru disuguhi tayangan dan framing media yang menyakitkan hati. Trans7, misalnya, beberapa kali menayangkan program dan pemberitaan yang memosisikan pesantren secara negatif — seolah pesantren identik dengan keterbelakangan, kekerasan, atau fanatisme sempit.
Kritik terhadap Trans7 bukan sekadar soal pemberitaan, tetapi soal penghormatan terhadap martabat pesantren. Sebab dari pesantrenlah lahir ulama, guru bangsa, dan tokoh yang menjaga NKRI dengan cinta. Media seharusnya menjadi jembatan nilai, bukan alat distorsi yang melukai moral publik.
Santri hari ini bukan objek tontonan, mereka adalah subjek peradaban. Mereka berpikir kritis, menulis, berdiskusi soal energi terbarukan, hingga mengkritik kebijakan negara dan media dengan santun. Wajah baru santri Indonesia ini harus disambut dengan apresiasi, bukan stereotip.
Ketika IKSASS bersuara menolak eksplorasi migas, mereka sejatinya sedang menegaskan peran baru santri di panggung kebangsaan. Bahwa menjaga bumi adalah bagian dari iman, dan membela rakyat kecil adalah bentuk cinta tanah air yang sejati.
Hari ini, kita menyaksikan dua wajah perjuangan santri:
satu, santri yang meneteskan air mata atas musibah di pesantren;
dan yang lain, santri yang berdiri di tepi laut Kangean, menghadang kapal survei migas dengan doa dan tekad.
Keduanya sama-sama berjuang: satu dengan sabar, satu dengan suara.
Dari keduanya kita belajar, bahwa pesantren adalah pelita bangsa — tempat nilai, keberanian, dan cinta tanah air terus dijaga.
Dan di tengah hiruk pikuk zaman, santri kembali mengingatkan negeri ini:
bahwa Indonesia tidak akan kuat karena tambang dan migas, tetapi karena iman, ilmu, dan akhlak yang hidup di pesantren. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat