Oleh : Ponirin Mika
Alumni Ponpes Nurul Jadid, Ketua ICMI Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York bukan sekadar perubahan politik, melainkan simbol lahirnya kesadaran baru: rakyat ingin pemimpin yang berani, jujur, dan benar-benar hadir di tengah mereka.
Dalam pidato kemenangannya yang meledak-ledak, Mamdani menggugah hati dunia dengan kalimat yang mengguncang: “Kita telah meruntuhkan dinasti politik.”
Ucapan itu bukan hanya pernyataan kemenangan, melainkan seruan moral untuk membebaskan demokrasi dari cengkeraman oligarki.
Dari gaya bicaranya, publik dapat merasakan bahwa Mamdani bukan pemimpin biasa. Ia adalah representasi generasi yang menolak tunduk pada tatanan lama yang dikuasai segelintir elite.
Baginya, politik bukan ajang perebutan kuasa, tetapi ruang perjuangan untuk keadilan sosial. Di balik keberaniannya, tergambar nilai tauhid yang kokoh: kesadaran bahwa kekuasaan sejati milik Tuhan, dan manusia hanyalah pelaksana amanah.
Ketika ia menegaskan akan “menghapus elit yang menghisap ekonomi rakyat” dan “membungkam politik uang yang mencederai demokrasi,” publik melihat keberanian yang jarang dimiliki pemimpin muda.
Mamdani berbicara tanpa rasa takut, seolah sudah hatam pelajaran Nilai Dasar Perjuangan—bahwa kebenaran harus ditegakkan meski berhadapan dengan tembok kekuasaan dan modal besar.
Nilai tauhid dalam sikapnya begitu kuat. Ia menolak menyembah kekuasaan, harta, dan popularitas. Mamdani menyadari, pemimpin sejati harus berakar pada keimanan kepada Yang Maha Esa, bukan kepada sistem yang menindas rakyat.
Dari situlah muncul keberanian untuk berdiri tegak, menantang mereka yang selama ini menindas dalam balutan demokrasi.
Kecakapannya juga luar biasa. Ia bukan hanya idealis, tetapi strategis. Mamdani membangun koalisi lintas agama dan etnis: Muslim, Yahudi, Kristen, migran, pekerja keras, dan komunitas kulit berwarna—semuanya merasa memiliki ruang dalam perjuangannya. Dalam politik yang penuh fragmentasi, ia menghadirkan semangat persatuan. “Kota ini milik kalian,” katanya dengan lantang. Kalimat sederhana, tapi penuh makna tauhid sosial: bahwa manusia diciptakan sama derajat di hadapan Tuhan.
Pidatonya bukan sekadar retorika. Ia membawa agenda konkret: penghentian kenaikan sewa rumah, transportasi publik gratis, dan perlindungan hak pekerja migran.
Janji itu mungkin terdengar utopis, tapi di situlah kekuatan pemimpin muda seperti Mamdani—berani bermimpi dan memperjuangkannya dengan rasionalitas sosial.
Komunitas agama besar di New York pun ikut bersatu merayakan kemenangannya. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dapat menjadi fondasi politik yang inklusif.
Mamdani berhasil mengubah perbedaan menjadi kekuatan bersama, menjembatani sekat-sekat yang selama ini dijaga oleh elit untuk memecah rakyat. Dalam semangat itu, tauhid bukan hanya ajaran teologis, melainkan etika sosial yang menolak perpecahan.
Keberanian Mamdani mengingatkan pada nilai keimanan yang murni: takut hanya kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan duniawi. Ia tahu bahwa korupsi dan oligarki bukan hanya kejahatan ekonomi, tetapi juga dosa moral. Maka ia bersumpah untuk membersihkan pemerintahan dari praktik busuk yang merampas hak rakyat kecil.
Bagi generasi muda di seluruh dunia, kemenangan Zohran Mamdani adalah inspirasi bahwa politik tak harus kotor. Ia membuktikan bahwa idealisme bisa menang jika dilandasi integritas, kerja keras, dan visi kemanusiaan.
Ia menunjukkan bahwa keberanian lahir dari keyakinan yang kokoh—dan keyakinan tertinggi itu bersumber dari tauhid.
Dalam konteks spiritual, pemimpin seperti Mamdani merepresentasikan sosok yang menyadari bahwa setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Ia tidak menempatkan rakyat sebagai alat, tetapi sebagai amanah. Dan dalam setiap amanah, ada nilai ibadah. Politik baginya bukan sekadar kekuasaan, melainkan jalan pengabdian.
Tentu banyak tantangan yang akan ia hadapi. New York adalah kota yang kompleks, penuh intrik dan kepentingan ekonomi besar.
Namun Mamdani tampak siap. Ia tahu, perlawanan terhadap oligarki bukan perjuangan sehari, melainkan jihad sosial yang panjang. Keberanian itulah yang membuatnya tampak seperti seorang pejuang spiritual di tengah hiruk-pikuk politik modern.
Kemenangan ini juga menandai babak baru bagi demokrasi global. Dari New York, suara perubahan bergema: bahwa generasi muda yang berpegang pada nilai kemanusiaan dan keadilan bisa mengguncang struktur lama. Dunia melihat bahwa politik berbasis tauhid sosial—yang menempatkan Tuhan dan rakyat di atas kepentingan elit—masih mungkin tumbuh di tengah kapitalisme yang menua.
Mamdani tidak sekadar berbicara perubahan, ia menanamkannya dalam nurani rakyat. “Kami tidak bisa dibeli,” katanya, menantang Trump dan oligarki bisnis yang selama ini mendikte politik Amerika. Kalimat itu menjadi penegasan bahwa suara rakyat bukan komoditas, melainkan kehendak ilahi yang harus dihormati.
Semangat ini sangat dekat dengan nilai perjuangan Islam yang mengajarkan keadilan (‘adl), kesetaraan (musawah), dan kebebasan dari penindasan (tahrir). Di balik keberaniannya, ada ketenangan spiritual. Di balik retorika kerasnya, ada kasih sayang terhadap manusia. Itulah kombinasi antara iman dan aksi yang menjadi ciri pemimpin sejati.
Mamdani adalah simbol perlawanan terhadap sistem yang menjadikan rakyat objek. Ia membaliknya: rakyat adalah subjek, pemegang kuasa yang sesungguhnya. Ia memulihkan martabat rakyat dengan bahasa sederhana, tapi berakar kuat dalam nilai-nilai universal. Itulah wajah baru politik yang berakar pada tauhid: mengesakan Tuhan dan membebaskan manusia.
Keberaniannya menyentuh ranah moral yang dalam. Ia tak menakut-nakuti lawannya, melainkan menegaskan bahwa keadilan lebih kuat dari uang, dan cinta rakyat lebih besar dari kekuasaan. Ketika ia berkata, “Kita akan kalahkan Trump dari New York,” dunia tahu bahwa yang ia maksud bukan sekadar pertarungan politik, tetapi pertarungan nilai: antara kerakusan dan kemanusiaan.
Kemenangan Zohran Mamdani menjadi pelajaran bahwa politik yang berlandaskan keimanan dan keberanian akan selalu relevan. Ia mengingatkan bahwa pemimpin sejati tidak mencari aman, tetapi mencari benar. Dan bahwa kekuatan sejati bukan pada jumlah uang atau media, melainkan pada keyakinan dan ketulusan berjuang.
Mamdani adalah bukti nyata bahwa generasi muda bisa menjadi cahaya di tengah gelapnya politik dunia. Ia berdiri di antara rakyat, bukan di atas mereka.
Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri. Dalam dirinya, nilai tauhid hidup: satu Tuhan, satu tujuan, satu keberanian melawan ketidakadilan.
Dari New York, dunia menyaksikan bagaimana iman, keberanian, dan kecakapan bisa menyatu dalam diri seorang pemimpin Gen Z. Dan dari sana pula kita belajar, bahwa politik yang bersumber dari tauhid tidak pernah lekang oleh zaman — karena ia lahir dari kebenaran, dan kebenaran tidak pernah mati. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat