(Trilogi-Part One) Bisnis Esek-Esek Oknum Tentara yang Berakhir Maut

Reporter : Ibrahim
Ilustrasi



Surabaya, JatimUPdate.id - Dunia malam memang tak pernah benar-benar gelap. Selalu ada lampu temaram, denting gelas, dan seragam yang nongol bukan untuk menertibkan, tapi ikut meneguk.

Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba

Begitulah kisah klasik negeri ini: ketika uang rakyat disimpan dalam koperasi tentara, sebagian justru mengalir ke ranjang-ranjang bisnis esek-esek yang berakhir di liang lahat.

Di masa kejayaan Gang Dolly “Wall Street”-nya prostitusi Asia Tenggara ada nama Sumiarsih, si “Mami Rose” dari Surabaya. Ia bukan sekadar mucikari, tapi CEO dunia malam. Dua wismanya, Happy Home dan Sumber Rezeki, jadi tempat para pejabat, pengusaha, dan aparat militer melepas beban negara dan mungkin juga nurani.

Di balik tirai merah itu, uang mengalir dari berbagai sumber, termasuk koperasi militer. Ya, koperasi lembaga yang seharusnya jadi lumbung kesejahteraan prajurit kecil, malah jadi pipa pendanaan untuk bisnis remang-remang. Modusnya sederhana: investasi, bagi hasil, dan setoran bulanan. Semua legal di atas meja sampai aroma keringat dan darah muncul dari bawahnya.

Salah satu investor besar Mami Rose adalah Letkol (Mar) Purwanto, perwira marinir yang dikenal berani di laut tapi tenggelam dalam godaan darat.

Ia menanam dana simpanan koperasi di bisnis Sumiarsih, berharap bunga besar tanpa repot. Tapi ketika pemerintah merazia Dolly dan omzet jeblok, setoran mandek, dan drama pun dimulai.

Purwanto menagih. Sumiarsih terpojok. Lalu sang perwira mengajukan “syarat damai” yang bahkan iblis mungkin enggan mengucapkannya: hapus utang asal putrimu jadi milikku.
Kalimat yang mematikan lebih cepat dari peluru.

Dendam, malu, dan gengsi bercampur jadi racikan maut. Malam itu, Sumiarsih dan keluarganya menyusun rencana pembunuhan. 13 Agustus 1988, Surabaya tercatat dalam sejarah kriminal Indonesia: lima orang sekeluarga dibantai dengan alu besi, lalu mobil mereka dijatuhkan ke jurang Songgoriti, Batu, agar tampak seperti kecelakaan.

Baca juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan

Polisi sempat terkecoh, tapi sains tak bisa disuap. Autopsi membongkar semuanya: luka benda tumpul, darah yang tak sesuai kronologi, dan sidik jari yang menjerat Mami Rose. Akhirnya, keadilan datang dalam bentuk regu tembak.

Dua dekade kemudian, tahun 2008, Sumiarsih dan anaknya, Sugeng, berdiri di hadapan laras senjata. Bukan lagi dengan perhiasan emas, tapi pakaian putih polos. Ketika peluru menembus tubuhnya, riwayat Gang Dolly pun kehilangan satu babak paling kelamnya.

Kisah ini bukan sekadar tentang perempuan malam yang membunuh perwira. Ini potret tentang betapa mudahnya uang rakyat tersesat di ranjang kekuasaan.

Di era 1980-an, dana koperasi TNI dikenal sebagai “dana abadi” tapi tak sedikit bocor ke proyek pribadi: tambang, kebun, hingga wisma hiburan. Semua atas nama “kesejahteraan prajurit,” padahal banyak prajurit yang bahkan tak sanggup beli susu anak.

Sumiarsih hanyalah satu simpul dari jaring besar korupsi moral dan finansial. Ketika aparat yang seharusnya menjaga kehormatan justru menanam saham di dunia yang menggadaikannya, tragedi seperti ini hanyalah akibat logis.

Baca juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi

Kini Dolly telah resmi ditutup, tapi “Dolly-Dolly” baru bermunculan di banyak tempat berpindah dari gang sempit ke hotel berlampu neon, dari koperasi ke rekening digital. Seragam berganti warna, pangkat berubah, tapi selera terhadap kuasa dan laba kotor tetap sama: tak pernah mati.

Mungkin judulnya terlalu vulgar, tapi sejarah tak bisa dibersihkan dengan sensor.

Karena bisnis esek-esek oknum tentara ini bukan sekadar soal tubuh yang dijual, tapi jiwa yang dilelang dan harga yang dibayar, seperti kisah Sumiarsih, adalah maut.

catatan tangan kanan
wiedmust-031125 (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru