Alibi Pencurian Kabel Dinilai Dipaksakan, Gempar Jatim: Pemkot Jangan Lempar Wacana Sesat

Reporter : Ibrahim
Gempar Jatim

Surabaya,JatimUPdate.id – Pernyataan Pemkot Surabaya yang menyebut padamnya belasan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) akibat pencurian kabel langsung mendapat tamparan kritik dari Gerakan Masyarakat Pembela Aspirasi Rakyat (Gempar) Jawa Timur.

Ketua Gempar Jatim, M. Zahdi, menganggap pemkot sedang membangun alibi daripada menyelesaikan masalah. 

Baca juga: P31 Pertanyakan Transparansi Perwali Nomor 73 Tahun 2025

Ia menegaskan narasi pencurian kabel berpotensi memprovokasi publik dan menyudutkan kelompok tertentu tanpa bukti apa pun.

“Kalau Pemkot memang tidak punya uang untuk memperbaiki penerangan, ya katakan saja jujur. Jangan berlindung di balik isu pencurian untuk menutupi ketidakmampuan,” tegas Zahdi melalui keterangannya, Minggu (30/11).

Padahal kata Zahdi belasan PJU yang padam berada di kawasan inti kota, wilayah yang menjadi etalase dan pusat aktivitas Surabaya.

Misalnya Jalan Tunjungan sisi timur, Jalan Panglima Sudirman sisi barat, Frontage Timur Jalan A. Yani, Jalan Pemuda sisi selatan, Jalan Gubernur Suryo, Jalan Wijaya Kusuma, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Indrapura, hingga Jalan Urip Sumoharjo.

Gempar Jatim terang-terangan menyebut alasan pencurian kabel tidak masuk akal.

“Semua tahu jalan-jalan itu super ramai. Mobil, motor, pejalan kaki tidak pernah berhenti. Kok bisa ada pencuri kabel seenaknya? Dishub bilang pelakunya beraksi jam lima pagi, padahal jam lima itu warga sudah banyak yang beraktivitas. Itu logika dari mana? Kapan mereka beraksi kalau bukan saat sepi? Ini penjelasan yang dipaksakan,” ujarnya.

"Bilangnya juga ada 17 titik pencurian, kenapa pada pencurian 1 - 5 tidak ada pencuri yang tertangkap, kan mustahil," tukas Zahdi

Zahdi memperingatkan Pemkot agar berhenti melontarkan narasi yang tidak tervalidasi. 

Baca juga: Pengamat Ingatkan Pemkot: Abai Situs Sejarah Lemahkan Identitas Kota Pahlawan

Menurutnya, tanpa bukti CCTV, tanpa penangkapan, dan tanpa data teknis, pernyataan itu hanya akan mempermalukan pemkot utamanya dinas terkait.

“Jangan main lempar wacana sembarangan. Nanti publik menertawakan pemerintah karena kesannya Surabaya ini kota darurat pencurian. Bukan tambah dipercaya, malah tambah gaduh,” tandasnya.

Maka dari itu, Zahdi mendorong pemkot harus bersikap bijak, bukan mencari sensasional.

“Tugas pemerintah itu menyelesaikan masalah, bukan membikin kegaduhan dengan opini-opini liar,” demikian M. Zahdi. 

Melansir laman resmi pemkot, Kepala Bidang Prasarana Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Agung Karyadi, menjabarkan para pencuri memilih waktu eksekusi menjelang pagi atau sekitar pukul 05.00 WIB, saat lampu PJU sudah padam. 

Baca juga: Disorot Presiden AMI Tantang Pemkot Surabaya Klarifikasi Status Rumah Radio Bung Tomo

Alasannya, karena di jam tersebut, mereka bisa bekerja lebih leluasa dan minim perhatian dari warga. 

“Mereka masuk secara leluasa di jam-jam menjelang pagi, karena tidak banyak orang,” ujarnya.

Ia menerangkan, pelaku pencurian kabel melakukan aksinya dengan cara masuk ke dalam gorong-gorong atau pedestrian, lalu memotong-motong kabel. Aksi ini mengakibatkan pemadaman PJU dalam jarang yang jauh.

"Kalau 10 tiang saja mungkin sudah 300-400 meter. Jadi misalkan malam ini dapat lima gawang (tiang), besok ditinggal, kan otomatis mati yang jaringan ini," imbuhnya. (RoY)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru