Oleh : widodo, phd
pengamat keruwetan sosial
(sengaja dibuat huruf kecil semua sesuai permintaan penulis)
Surabaya, JatimUPdate.id - Setiap 2 Desember tiba, sebagian orang menyebutnya Hari Solidaritas Umat. Namun kalau memakai kacamata data, konteks, dan sedikit kejujuran sejarah, 2 Desember jauh lebih mirip Hari AHOK (Amarah dan HOaKs) : hari ketika satu potongan video dipelintir, disulut, lalu berubah menjadi gelombang massa raksasa yang membawa bendera agama, politik, dan kepentingan yang bertumpuk seperti tumpukan pakaian di laundry kelamaan.
Kronologinya sebenarnya sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
27 September 2016, di Kepulauan Seribu, Basuki Tjahaja Purnama "Ahok" mengatakan:
“Jadi mungkin bapak ibu nggak pilih saya karena dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51. Jadi kalau bapak ibu merasa nggak bisa pilih saya, karena takut masuk neraka, dibodohin begitu, ya nggak apa-apa.”
Tak ada hinaan agama, tak ada larangan memilih, apalagi penistaan. Yang ada hanya kritik pada politisasi ayat. Tapi seperti pepatah satir hari ini: “Lidahmu tak sepanjang editan videomu.”
Benar saja potongan video itu diposting ulang Buni Yani, dengan caption menyesatkan :
"Bapak-ibu (warga Pulau Seribu) dibohongi Surat Al Maidah 51, " dan "masuk neraka"_
Permasalahan utama dalam caption tersebut adalah tidak adanya kata "pakai" sebelum frasa "Surat Al Maidah 51", yang mengubah makna kalimat Ahok secara signifikan dari yang aslinya "dibohongi pakai Surat Al Maidah 51".
Ahok sendiri menegaskan bahwa Buni Yani tidak mengedit videonya, tetapi "transkripnya dia 'nipu'".
Dan seperti korek api yang dilempar ke lautan bensin, unggahan itu meledakkan emosi.
Fatwa MUI 11 Oktober 2016 menyatakan Ahok “telah menista agama”. Tanpa jeda, Bachtiar Nasir, FPI, dan jaringan ormas lain mengamplifikasi isu tersebut.
Dari mimbar ke mimbar, dari WA group ke WA group, dari hoaks ke hoaks berikutnya. Narasi disulut, bara disebar.
Hasilnya?
4 November 2016 (411) menjadi pemanasan.
2 Desember 2016 (212) menjadi puncak mobilisasi.
Ratusan ribu orang tumpah ruah di Jakarta, banyak yang bahkan tak tahu duduk perkara sebenarnya, selain kata: “Penista agama!” yang berulang-ulang diputar seperti kaset kusut.
Yang jarang dibicarakan adalah bahwa jauh sebelum video Pulau Seribu, penolakan terhadap Ahok sudah disiapkan rapi. Sejak ia dilantik sebagai gubernur menggantikan Jokowi pada 2014, suara-suara dari kelompok tertentu sudah konsisten menolak “gubernur non-Muslim”.
Bachtiar Nasir beberapa kali menggelar forum media untuk menegaskan ketidaksukaannya. FPI bahkan sempat mengusung “gubernur tandingan” Fahrurozi Ishaq, sekadar simbol perlawanan yang lebih politis ketimbang religius.
212 memang menghadirkan unjuk kekuatan massa, tapi juga membuka jendela besar pada kenyataan: isu agama adalah bahan bakar paling murah untuk memobilisasi publik. Murah, cepat, dan sangat efektif apalagi bila dibungkus haru-biru “solidaritas”.
Namun sembilan tahun kemudian, dengan data lebih lengkap, rekaman utuh, dan kesadaran publik yang meningkat, kita bisa melihat bahwa 2 Desember bukan sekadar “reuni aksi”.
Ia adalah pengingat bahwa fakta bisa kalah telak oleh framing, dan kebenaran bisa dipukul mundur oleh editan video 30 detik.
Tapi sejarah juga memberi pelajaran:
Amarah massal memang bisa besar, tapi ia cepat padam.
Narasi yang dibangun di atas hoaks mungkin keras, tapi ia rapuh.
Dan pepatah satir hari ini menutup semuanya: “Kebenaran itu seperti matahari ditutup seribu awan pun tetap muncul lagi.”
212 mungkin masih diperingati, tapi kini banyak yang mulai jernih melihatnya bukan sebagai hari umat, melainkan hari ketika satu kesalahan framing mengubah arah politik Jakarta dan mungkin Indonesia untuk waktu yang lama.
catatan tangan kanan
wiedmust-011225
Editor : Yuris. T. Hidayat