Siapa Dalang Aksi 212?

Reporter : Ibrahim
Ilustrasi

Oleh : widodo, ph.d

pengamat keruwetan sosial


Surabaya, JatimUPdate.id - KALAU ada yang nanya “siapa dalang Aksi 212?”, biasanya orang berharap ada jawaban dramatis: seorang tokoh misterius berkumis tebal, duduk di kursi putar sambil memegang kucing anggora, tertawa jahat seperti villain sinetron.

Sayangnya, kehidupan nyata tak se-fantasi itu lebih absurd, lebih ramai, dan lebih banyak mic yang rebutan giliran.

Aksi 212 itu ibarat pesta rakyat: yang masak beda, yang ngaduk kuah beda, yang makan paling lahap justru yang datang belakangan.

Sebuah kolaborasi akbar yang disebut sebagian akademisi sebagai koalisi emosional, tapi menurut redaksi kita lebih cocok disebut keroyokan rasa syariah, sentimen, dan sedikit bumbu politik rasa MSG.

Mari kita bedah “para aktor” versi satir:

???? 1. Arsitek Agung: Para Jenderal Pita Sorban

Kelompok pertama adalah mereka yang paling vokal: barisan ormas penjual tiket surga eceran. FPI dan kawan-kawannya muncul seperti konsultan spiritual yang bilang: “Bangunannya udah jadi, tinggal kita kasih kubah biar makin laku.”

Merekalah yang sibuk desain panggung, siap orasi, dan tentu saja, siap tampil di kamera. Karena apa artinya aksi tanpa angle yang bagus?

???? 2. GNPF: Tim Event Organizer yang Tidak Pernah Ngaku EO

Inilah EO paling sukses 2016:

logo ada

seruan ada

konferensi pers ada

tapi kalau ditanya, “kalian penyelenggara?” jawabannya selalu:
“Kami hanya mengawal fatwa.”

Ini seperti dibilangin, “Bang, kamu yang bikin acara ulang tahun anak gue ya?”
Terus mereka jawab:
“Bukan, kami cuma ngantar lilin dan nyewa sound system.”

???? 3. Politisi Oposisi: Pemain Cadangan yang Tiba-tiba Starter

Mereka ini seperti penonton bola yang awalnya cuma nonton dari tribun, tapi ketika skor mulai seru, turun ke lapangan, ikut lari, terus bilang:
“Loh, kok gue disangka ikut-ikutan?”

Muncul di foto, tapi tidak pernah muncul di struktur panitia.
Ngasih dukungan moral, tapi tidak pernah ngaku ikut produksi.
Ibarat pepatah satir hari ini: “Ketiban durian, bilangnya ketiban dakwah.”

???? 4. Pendana: Koper Ajaib Doraemon yang Tidak Pernah Disebut

Sumber dana aksi ini lebih misterius dari asal-usul bakso gerobak yang tiba-tiba ada di tengah kerumunan. GNPF bilang dana dari jamaah, kotak amal, transfer umat.

Yang jelas:

tidak ada laporan audit internasional,

tidak ada tokoh yang ngaku kaya raya karena mendanai,

dan tidak ada politisi yang mau terang-terangan bilang:
“Tenang, bensin mobil bis itu saya yang bayar.”

Pokoknya semua seperti sedekah subuh: datang sendiri, tak bertuan, tapi selalu tepat waktu.

5. Massa: Ombak Besar yang Datang dari “Rasa Tersinggung Nasional”

Rakyat yang hadir adalah pemeran utama. Yang lain cuma figuran deluxe. Massa datang dengan satu energi: “Ada fatwa! Ada isu! Ada drama! Gas!”

Mereka ibarat air bah:
ketika mengalir deras, semua orang ngaku jadi bendungannya;
ketika meluap, semua orang menyalahkan cuacanya.

???? Jadi, siapa dalangnya?

Kalau harus dijawab jujur (dan satir):
Tidak ada satu dalang. Ini wayang massal yang dalang rame-rame, yang nonton lebih rame lagi, yang tepuk tangan paling kencang justru yang nonton dari rumah sambil makan kerupuk.

Aksi 212 bukan karya tunggal. Ini kolaborasi nasional: gabungan antara iman, emosi, orasi, sentimen politik, dan tentu saja algoritma viral yang lebih ganas dari khutbah subuh.

Atau seperti pepatah satir edisi hari ini:
“Di balik asap selalu ada api, tapi di balik massa selalu ada banyak korek, beda merek, beda niat.”

catatan tangan kanan
wiedmust-021225

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru