Akademisi Unitri Angkat Isu HAM di Forum Internasional

Reporter : Deki Umamun Rois
Agustinus Ghunu, dosen sekaligus Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (PUSDIPWASBANG) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, aktif dalam Workshop Internasional Hak Asasi Manusia yang digelar secara daring oleh LSM WCC dari Sw

 

Malang, JatimUPdate.id - Agustinus Ghunu, dosen sekaligus Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (PUSDIPWASBANG) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, kembali menorehkan prestasi internasional.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Mahasiswa UNITRI Berdayakan Desa Jombok

Ia berpartisipasi aktif dalam Workshop Internasional Hak Asasi Manusia yang digelar secara daring oleh LSM WCC dari Swiss, yang melibatkan peserta dari 120 negara.

Kegiatan tersebut berlangsung pada 28 November 2025 pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh perwakilan negara-negara anggota yang peduli pada isu kemanusiaan, hak asasi manusia, keberagaman, dan kebhinekaan.

Dalam forum ini, Agustinus mengangkat tiga isu krusial yang menjadi sorotan perkembangan sosial, pendidikan, dan teknologi global.

Agustinus menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap individu. Ia menyoroti ketimpangan akses pendidikan di Indonesia, terutama antara wilayah maju dan daerah terpencil, serta keterbatasan teknologi yang menghambat pembelajaran modern.

Ia berkomitmen mendorong langkah-langkah strategis seperti memperluas akses pendidikan berkualitas, meningkatkan fasilitas dan pelatihan bagi tenaga pendidik, menyediakan ruang belajar inklusif bagi kelompok termarjinalkan, mendukung pemerataan transformasi digital di sektor pendidikan, serta memperluas beasiswa dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

“Dengan pendidikan yang setara, kita melahirkan generasi yang mandiri, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Agustinus dalam sesi presentasi.

Isu kedua yang diangkat adalah tantangan global akibat pesatnya perkembangan teknologi digital. Arus informasi yang tidak terkontrol dan maraknya hoaks membuat masyarakat rentan terhadap manipulasi dan kejahatan siber.

Baca juga: Mahasiswa UNITRI Dorong Digitalisasi UMKM Talas Alam

Agustinus menekankan pentingnya literasi digital untuk semua kelompok usia, kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi misinformasi, edukasi tentang keamanan data dan privasi, pemanfaatan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab, serta penegakan hukum terhadap penyalahgunaan teknologi, termasuk perjudian online dan aktivitas ilegal lainnya.

“Peningkatan literasi digital adalah langkah penting membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman siber lintas negara,” katanya.

Agustinus juga mengangkat pentingnya menciptakan masyarakat yang menghargai keberagaman dan kebhinekaan, serta menjamin akses dan hak yang sama bagi seluruh warga.

Ia menyoroti isu kesetaraan gender, hak penyandang disabilitas, keragaman budaya dan etnis, intoleransi, diskriminasi, hingga perlunya ruang aman bagi berbagai identitas sosial. Ia mendorong terciptanya lingkungan belajar dan kerja yang inklusif, kebijakan tanpa diskriminasi, penghargaan terhadap keberagaman, penghapusan segala bentuk diskriminasi, serta kesetaraan di muka hukum.

“Perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman. Tugas kita bersama adalah menjadikannya dasar untuk bersatu dan saling membangun,” tegasnya.

Baca juga: Mahasiswa Unitri Edukasi Siswa SDN 1 Banturejo Hidup Sehat dan Anti-Bullying

Selain tiga isu utama, dalam sesi diskusi Agustinus juga menyoroti masalah stunting, perdagangan manusia (human trafficking), dan korupsi yang merajalela hingga ke level pemerintahan dan swasta.

Sebagai tindak lanjut workshop, Agustinus mengusulkan pertemuan dan diskusi lanjutan serta menawarkan kerjasama kemitraan dan penelitian lebih lanjut di Indonesia.

Kehadiran Agustinus di tengah peserta internasional dari berbagai negara bukan hanya mengharumkan nama UNITRI, tetapi juga menunjukkan peran dan komitmen akademisi Indonesia dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan di tingkat global. Melalui tiga fokus isu ini, ia berharap dapat mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil, berdaya, toleran, dan saling menghargai keberagaman.

Partisipasi Agustinus Ghunu dalam forum internasional menegaskan pentingnya suara akademisi Indonesia dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan keberagaman. Isu-isu pendidikan, literasi digital, dan inklusi sosial menjadi kunci membangun masyarakat masa depan yang kuat dan harmonis. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru