Aliansi Lima Penguasa Pesisir dan Tantangan Terhadap Hegemoni Iberia (Bangsa Portugal)

Reporter : Redaksi
Fathur Rahman, M.Pd Piyantun Sedayulawas peduli Sejarah Pesisir Utara Jawa Brang Wetan, Guru SMAN di Kabupaten Lamongan

 

Oleh : Fathur Rahman, M.Pd

Baca juga: Mengenal Tokoh Senopati Pamungkas

 

Piyantun Sedayulawas peduli Sejarah Pesisir Utara Jawa Brang Wetan, Guru SMAN di Kabupaten Lamongan

 

Lamongan, JatimUPDate.id - Sudah sejak lama redaksi JatimUPdate.id berharap bisa memuat karya-karya tulisan sejarah dari sosok penulis yang rendah hati asal Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan ini, ketertarikan dan upayanya menulis sejumlah sejarah terkait kehebatan Tlatah Nusantara era dulu telah banyak dibukukan. Pagi ini, Rabu (17/12/2025), Redaksi JatimUPdate.id diperkenankan memuat sebuah karya tentanf kehebatan kekuatan maritim nusantara era masa lalu.

Abstaksi

Historiografi arus utama Indonesia kerap menempatkan akhir abad ke-16 sebagai fase dominan dakwah Islam kultural oleh jaringan Walisongo, dengan minim penekanan pada dimensi politik-militer pesisir Jawa.

Artikel ini, berbasis sumber primer Portugis dan Spanyol sezaman (1580–1584), mengajukan argumen bahwa pada periode tersebut Jawa—khususnya pelabuhan Tuban, Sedayu, Brondong, Gresik, dan Jaratan—justru tampil sebagai kekuatan maritim ofensif paling efektif di Asia Tenggara.

Melalui rekonstruksi kronologis penangkapan galleon Portugis di Laut Jawa (1580), pengiriman ribuan prajurit Jawa ke Ternate (1582–1584), serta identifikasi kesinambungan personel militer Jawa lintas-teater operasi, artikel ini menunjukkan keberadaan Liga Maritim Pesisir Jawa yang mampu melakukan power projection lintas kepulauan.

Temuan ini menempatkan Jawa bukan sebagai periferi pasif, melainkan sebagai aktor geopolitik utama dalam konflik Iberia–Maluku akhir abad ke-16.

Kata kunci: Jawa Pesisir, Sedayu, Tuban, Ternate, Portugis, Spanyol, abad ke-16, maritim, militer.

---

A. Pendahuluan

Jawa dan Bias Historiografi Akhir Abad XVI

Narasi sejarah Indonesia abad ke-16 secara konvensional menekankan proses Islamisasi damai, simbolik, dan kultural melalui figur Walisongo. Namun, pembacaan atas sumber-sumber Iberia kontemporer justru memperlihatkan gambaran yang jauh lebih keras: konflik bersenjata, ekspedisi militer lintas-laut, dan koalisi penguasa pesisir Jawa yang secara aktif menantang Portugis dan Spanyol.

Dokumen Portugis dan Spanyol antara 1580–1584 secara eksplisit menyebut Jawa sebagai:

“the main military assistance of the Sultan of Ternate”
(Sumber Spanyol, 1583)

Dengan demikian, artikel ini bertujuan merekonstruksi peran politik-militer Jawa dalam konteks Asia Tenggara, berdasarkan sumber sezaman yang selama ini terpinggirkan dalam historiografi nasional.

---
B. Telaah Sumber Primer

I. Penangkapan Galleon Portugis di Laut Jawa (1580)

Peristiwa kunci yang menandai kebangkitan kekuatan maritim Jawa terjadi pada tahun 1580. Dalam catatan Portugis yang dikompilasi oleh Ferrari, disebutkan secara eksplisit koalisi lima penguasa pesisir:

“Rei de Tubão, Rei de Sidaio, de Brondão, Gonis, de Jaratan… tomaram o galião.”
“As lanças dos Jaos atravessavão o galião de huma parte a outra.”

Terjemahan bebas:

Raja Tuban, Raja Sedayu, Raja Brondong, Raja Gresik, dan Raja Jaratan merebut sebuah galleon Portugis; tombak-tombak orang Jawa menembus kapal itu dari satu sisi ke sisi lain.

Pernyataan ini mengandung beberapa implikasi penting:

1. Identitas politik jelas— lima penguasa disebut sebagai rei, bukan bajak laut atau massa anonim.
2. Aksi terkoordinasi — penyerangan dilakukan oleh koalisi lintas-pelabuhan.
3. Kemampuan militer laut — penggunaan senjata panjang untuk melumpuhkan kapal berat Eropa menunjukkan adaptasi taktik anti-galleon.

Dengan demikian, peristiwa 1580 bukan insiden lokal, melainkan operasi militer terencana oleh aliansi maritim Jawa.

---

II. Struktur Liga Maritim Pesisir Jawa

Kelima pelabuhan yang disebutkan bukan kebetulan geografis, melainkan simpul strategis:

- Tuban— pusat logistik dan produksi senjata
- Sedayu (Sidaio) — basis niaga dan militer pesisir
- Brondong — pelabuhan pengumpul awak dan perahu cepat
-Jaratan — kawasan galangan dan mobilisasi kapal
- Gresik (Goni/Gonis) — pusat religio-politik (Giri Kedaton)

Aliansi ini bersifat horizontal, tidak tunduk pada kerajaan pusat tunggal, melainkan terikat oleh kepentingan perdagangan, keamanan laut, dan jaringan elite pelabuhan. Dalam terminologi modern, struktur ini dapat disebut sebagai Liga Maritim Jawa Utara.

---

III. 1582: Dua Ribu Prajurit Jawa Dikirim ke Ternate

Dua tahun setelah peristiwa 1580, laporan Spanyol dari Manila mencatat eskalasi besar:

“The Sultan of Ternate has two thousand Javanese soldiers sent by the powerful king Garcayan.”

Beberapa poin krusial:

1. Jumlah signifikan — 2.000 prajurit menunjukkan mobilisasi negara-pesisir, bukan ekspedisi dagang.
2. Pengirim pasukan — seorang penguasa Jawa (Rey Garcayan), yang kemungkinan besar terkait jaringan Giri atau elite pesisir Jawa Timur.
3. Fungsi militer murni — sumber menegaskan mereka adalah soldiers, bukan pedagang.

Ini menandai transformasi Jawa dari kekuatan regional menjadi aktor militer lintas-kepulauan.

---

IV. 1583: Dominasi Jawa di Medan Perang Maluku

Ketika ekspedisi Spanyol tiba di Bacan dan Ternate (1583), laporan mereka menegaskan dominasi Jawa:

“The Javanese are the main warriors and allies of the Sultan of Ternate.”

Sumber-sumber Iberia mencatat bahwa:

- arus kapal Jawa ke Maluku sangat intens,
- Jawa membawa senjata api (espingardas), tombak, dan logistik,
- peran Jawa melampaui Makassar maupun Melayu.

Artinya, hanya dalam dua tahun, Jawa telah mengalihkan pusat konflik anti-Portugis dari Laut Jawa ke Maluku.

---

V. 1584: Laporan Pedro Sarmiento dan Artileri Jawa

Pedro Sarmiento, utusan Spanyol, menulis dari Tidore pada 1584:

“Twenty Turkish experts in fire-weapons assist the Sultan.

But the major assistance comes from Java: soldiers (1000), weapons, artillery, and ships.”*

Pernyataan ini sangat penting karena:

1. Mengungguli bantuan Ottoman* — hanya 20 ahli Turki, dibanding 1.000 prajurit Jawa.
2. Kehadiran artileri Jawa — menunjukkan penguasaan teknologi militer berat.
3. Ekspedisi berlapis — 1582 (2.000), 1584 (1.000), menunjukkan kesinambungan logistik.

---

VI. Kontinuitas Pasukan: 400 Orang Jawa Penyerang Galleon

Sumber Iberia lain mencatat:

“Four hundred Javanese were found buying cloves; they were the same men who three years earlier had captured a Portuguese galleon.”

Fakta ini mengikat seluruh rangkaian peristiwa:

* pasukan 1580,
* ekspedisi 1582,
* dominasi 1583,
* penguatan 1584,

bukan episode terpisah, melainkan operasi maritim berkelanjutan oleh jaringan militer Jawa.

---

C. Analisis Terpadu

1. Jawa sebagai Kekuatan Militer Terbesar Asia Tenggara (1580-an)

Dalam kurun empat tahun, Jawa:

* merebut galleon Iberia,
* mengirim ≥3.000 prajurit,
* mengoperasikan artileri,
* melakukan perang lintas-teater.

Ini melampaui capaian kerajaan Asia Tenggara lain pada periode yang sama.

2. Sedayu sebagai Poros Strategis

Disebut eksplisit pada 1580 (Sidaio), Sedayu memiliki kapasitas:

* persenjataan,
* logistik beras,
* galangan,
* mobilisasi awak.

Perannya konsisten dengan data pergerakan pasukan Jawa berikutnya.

---

D. Kesimpulan

Periode 1580–1584 merupakan *puncak supremasi maritim Jawa*, ketika aliansi pelabuhan pesisir mampu:

1. Mengalahkan Portugis di Laut Jawa,
2. Mengintervensi perang internasional di Maluku,
3. Menjadi aktor geopolitik yang diakui oleh Spanyol dan Portugis.

Dengan demikian, Jawa akhir abad ke-16 bukan sekadar ruang dakwah, melainkan *kekuatan maritim imperatif* yang mengguncang hegemoni Eropa di Asia Tenggara.

---

E. Daftar Pustaka

1) Ferrari, B. *Relações das Cousas do Oriente*. Lisbon, akhir abad XVI.

2) Pires, Tomé. *Suma Oriental*. Ed. Armando Cortesão. London: Hakluyt Society, 1944.

3) Sarmiento, Pedro. *Relación de las Islas Malucas*, 1584. Arsip Manila–Madrid.

4) Boxer, C. R. *The Portuguese Seaborne Empire, 1415–1825*. London: Hutchinson, 1969.

5) Reid, Anthony. *Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680*. New Haven: Yale University Press, 1988. (red)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru