Cerita Sejarah
Mengenal Tokoh Senopati Pamungkas
Senopati Pamungkas ialah sebuah cerita kisah sejarah yang bisa di ambil makna serta hikmah dan pelajarnya. Berikut ialah ulasan terkait tokoh-tokoh Senopati Pamungkas.
Sangrama Wijaya yang sering di sebut sebagai Naraya Sanggrama atau sering dikenal orang sebagai Raden Wijaya. Sosok yang dikenal ketika mampu mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton Singasari dan mengusir Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurinya dan senopatinya. Raden Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Tirai Bambu. Menurut catatan sejarah, Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika sekitar bulan Oktober-November dalam Tahun 1298 dalam tahun Masehinya. Nama kebesaran Raden Wijaya ialah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini diambil karena menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja dari Singasari.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Perempatan Bis Nggoling di Tulungagung
Upasara Wulung merupakan salah satu dari banyak ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan merupakan perguruan yang berusaha melahirkan Ksatria Sejati yang dilatih mengguna ilmu surat dan ilmu silat ataupun kanuragan. Ksatria Pingitan didirikan atas gagasan Baginda Raja sri Kertanegara Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat akan tetapi mempunyai watak warisan leluhur sebelumnya. Para Ksatria Pingitan diharap mampu menjadi Senopati Utama yang melanjutkan kebesaran keraton dan mampu melindungi penduduknya. Upasara Wulung berada dan berlatih serta belajar di Ksatria Pingitan selama 20 tahun serta dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun langsung di dunia persilatan. Ilmu utama yang diajakanya ialah Banteng Ketaton.Akan tetapi Upasara wulung mengalami perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.
Gayatri adalah Permaisuri Rajapatni, salah satu dari ke empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikanoleh Raja Majapahit kala itu saat menjelang penyerbuat ke Daha untuk menaklukan Jayakatwang. Kisah asmara Gayatri dan Upasara Wulung dimulai dari mereka yang menjadi intelejen untuk mengetahui kekuatan musuh. Kisah asmarapun berpuncak ketika Gayatri ditawan oleh lawan diatas benteng dan Upasara Wulung maju berperang dan menggempur musuh tanpa memperpedulikan nyawanya demi menyelamatkan Gayatrinya.
Para Tokoh
Mpu Renteng, merupakan senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina, atau Ular Naga. Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.
Mpu Sora merupakan senopati Majapahit dengan ilmu andalannya Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton, orang kedua sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak. Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.
Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.
Dyah Palasir ialah senopati muda Majapahit. Anak buah Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja. Bersama Dyah Pamasi, mereka Merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti..
Gendhuk Tri, merupakan calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang rada aneh.
Jaghana, merupakan murid dari Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai "pantat". Ini cara merendahkan diri sebagai "bukan apa-apa, bukan siapa-siapa", salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.
Eyang Sepuh, yang lebih dikenal sebagai empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Budha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang saja yang mampu melihatnya. Gayatri dan Upasara Wulung yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh telah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya. (bersambung)
Oleh : Rudi
Editor : Redaksi